Rabu, 10 Juni 2015

Rafting Sungai Elo

 Arung jeram atau White Water Rafting (WWR) mempunyai sejarah yang cukup panjang hingga sampai seperti yang kita biasa saksikan saat ini. Di mulai dari manusia purba yang menggunakan batang- batang kayu untuk untuk menyeberang dan transportasi. Selain mengikat batang- batang pohon untuk dijadikan seperti rakit, ada juga yang melubangi batang pohon yang kemudian berkembang menjadi kanoe. Begitu selanjutnya kemudian berkembang dari bentuk, kapasitas, hingga bahan bahan yang digunakan untuk membuat perahu menjadi seperti yang banyak kita saksikan saat ini.
Pagi itu aku bersama teman-temanku menuju Sungai Elo di Jawa Tengah untuk memulai arung jeram pertamaku. Tiba dilokasi suasana masih cukup sepi. Aku dan teman- teman segera mengenakan peralatan standar keamanan pribadi yang berupa pelampung, helm, dan dayung.

utamakan keselamatan bro.
pak guide memberi arahan
setio dikandani malah ngajak gojek!
kamu tuh ngapain to yokkk !
wong kok ra jelas.
setio di suruh berdoa malah ngantuk
dasar si setio!

Selesai pemanasan kamipun segera mengangkat perahu menuju ke sungai dengan menuruni tangga yang cukup terjal. Sampai diair aku segera naik ke perahu disusul teman yang lain. Sebelum mengarungi sungai kami melakukan latihan kekompakan tim dan belajar cara mendayung yang benar . setelah dirasa cukup pemanasan diatas perahu maka kami segera memulai pengarungan. Beberapa ratus meter dari titik start keadaan air masih flat.

bismilah, ini dayungan pertama di sungai elo

titanic paket hemat bro ...
Akhirnya jeram pertama yang dinantikan pun sudah telihat. Aku dan kawan- kawan dikomando untuk mempercepat dayungan ketika memasuki jeram. Dan 1, 2, 3…. Kamipun masuk ke jeram pertama dengan teriakan untuk mengalahkan ketakutan yang sempat terlintas. Jeram pertamapun sudah berhasil kami taklukan dengan sukses tanpa ada satu anggotapun yang terjatuh dari perahu.

Setelah perjalanan cukup jauh kami sampai di area air yang tenang, kata pak guide kedalamanya sekitar 10-15 meter. Disini pemandanganya indah banget bro, sayang enggak ada kamera jadi gak bisa narsis deh. huft !
sambil menunggu teman-teman yang tertinggal jauh di belakang kami bermain-main dulu sambil menikmati pemandangan sekitar.

Di tengah pengarungan sungai kami sempat beristirahat sekitar satu jam untuk menikmati es kelapa muda dan jajanan pasar yang telah disediakan oleh pihak pengelola.


setio modus. hahaha
katanya photografer tapi kok ngambilnya mukaku kepotong gitu
ora beber iki mase!
aliansi weleh-weleh
habis istirahat langsung ngebuuuttt ...
Akhirnya arung jeram pertamaku sukses, suatu pengalaman yang luar biasa bisa menikmati arus deras sungai Elo.



alhamdulillah sampai juga.
Sebelum pulang kami makan siang dulu sambil menghangatkan tubuh dengan teh panas.

sebelum pulang makan nasi pecel dulu bro.
Itulah pengalaman pertamaku Rafting di sungai Elo.











Selasa, 09 Juni 2015

Rasulan, tradisi yang menjaga kearifan lokal.

Rasulan.
Bagi masyarakat Gunungkidul acara Rasulan pasti sudah tidak asing lagi, tapi untuk Mas bro yang yang masih penasaran apa itu Rasulan, monggo disimak.
Rasulan adalah tradisi atau ritual tahunan yang sudah lama diselenggarakan oleh masyarakat Gunungkidul, yang biasanyanya diadakan setelah masa panen. Hali ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala nikmat dan karunianya.
Dalam kepercayaan masyarakat di desa kami biasanyanya sebelum hari H para Sesepuh desa membawa nasi tumpeng dan sesajen ke tempat-tempat sakral, biasanya berupa pohon Resan (seperti pohon asem, bulu, beringin, ipik, randu alas dan sebagainya). jadi inget masa kecil, dulu pas acara seperti ini aku dan teman-teman sering berebut tumpeng persembahan. hahaha

Masyarakat Gunungkidul memaknai Rasulan sebagai hari raya selain Idul Fitri dan Idul adha. Jadi jangan heran kalau mendekati hari Rasulan para perantau dari Gunungkidul beramai-ramai pulang.
Sebenarnya acara ini mirip dengan tradisi Lebaran, dimana seseorang datang ke tempat kerabatnya untuk bersilahturrahmi dan menikmati hidangan spesial yang di sediakan tuan rumah. Kebayangkan kan betapa pentingnya tradisi ini, karena selain menjaga warisan nenek moyang acara ini juga memupuk dan mempererat tali persaudaraan.

Tradisi ini biasanya berlangsung beberapa hari dan diawali dengan kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan dusun seperti memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, dan membersihkan makam. Karena itu, tradisi Rasulan juga biasa juga disebut dengan istilah Merti Deso atau bersih dusun.
Seiring dengan perkembangan jaman tradisi Rasulan semakin marak dengan berbagai rangkaian kegiatan dan pertunjukan seni budaya. Seperti pertandingan sepak bola dan voli, khusus pertandingan voli terkadang dilaksanakan sore hari juga bahkan ada yang malam hari. Dalam kegiatan olah raga ini, pihak penyelenggara Rasulan mengundang warga dari dusun lain untuk mengadakan pertandingan persahabatan.
Untuk pertunjukan seni dan budaya biasanya ada dangdut, campursari, kethoprak, reog, jathilan dan kirap mengelilingi dusun. dalam kegiatan ini  para peserta mengenakan kostum-kostum dan aksesoris tradisional yang menggambarkan kehidupan masyarakat Gunungkidul, seperti kelompok tani mengenakan caping sambil membawa cangkul,kelompok guru mengenakan pakaian guru sambil menenteng buku, siswa-siswi mengenakan seragam sekolah, kelompok seni mengenakan pakaian identitasnya masing-masing dan lain sebagainya. Selain mengenakan beragam aksesoris, para peserta kirap juga membawa Gunungan atau Tumpengan dari berbagai macam hasil panen seperti pisang, jagung, kacamg, kedelai, kelapa dan lain sebagainya. Setelah doa bersema selesai, kegiatan perebutan tumpengan oleh masyarakat dan wisatawan merupakan tontonan yang sangat menarik. Dan di akhiri dengan pertunjukan wayang kulit di malam harinya.


para peserta kirap rasulan dusun mendak

jathilan  di pelataran balai dusun mendak

panggung dangdut di lapangan voli dusun mendak

penyanyine mengingatkan aku pada seseorang. hahaha


joss. dowuuuu

sip.


Andum berkat di balai dusun mendak

mantu apikan nggowo tenggok dobel. hehehe

berbagai lapisan masyarakat mendak mengikuti acara kirap

hasil bumi dusun mendak

para sesepuh mendak ikut meramaikan kirap

para peserta kirap melewati tanjakan cinta
(tanjakan cinta bukan hanya ada di semeru loh bro, di mendak juga ada)

suka cita di dalam kirap

campursari yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat

pertunjukan wayang kulit sebagai penutup acara rasulan
Keistimewaan acara ini selain menjaga kearifan lokal juga memupuk semangat kekeluargaan. Rasulan bagi anak-anak adalah momen untuk memanjakan diri untuk memilih berbagai mainan yang dijual di sepanjang pinggir lapangan, untuk anak muda acara ini juga bisa untuk ajang melepas kangen dengan sidia dan untuk si jomblo bisa juga untuk mencari gebetan (semangat mblo.hahaha), dan untuk para orang tua rasulan bukan sekedar acara tahunan karena dengan adanya acara ini sanak saudara yang jauh bisa berkumpul bersama.


Sekian ulasan saya tentang tradisi Rasulan, semoga bermanfaat.



Selasa, 02 Juni 2015

JALUR PENDAKIAN LAWU VIA CEMORO SEWU

Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Bagi sebagian besar pendaki, Gunung Lawu pasti sudah tidak asing lagi didengar. Gunung yang memiliki 3265 MDPL ini selalu ramai didaki, selain jalur pendakian yang tidak begitu ekstrim di tempat ini juga ada sumber mata air, jadi sangat cocok untuk para pendaki pemula. Selain itu setiap malam 1 Sura banyak juga orang yang berziarah dengan mendaki sampai ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Gunung Lawu terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada beberapa jalur pendakian yang bisa ditempuh untuk samapi puncak Lawu atau Hargo Dumilah. Antara lain Jalur Cemoro Kandang, Cemoro Sewu dan Candi Cetho. Ketiga jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri.

Jalur Cemoro Kandang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jalurnya agak lebih panjang dari Cemoro Sewu namun dengan trek pendakian yang lebih landai.
Sedangkan Jalur Cemoro Sewu berada di Kabupaten Magetan, Jawa Timur yang jaraknya 500 meter dari jalur Cemoro Kandang. Jalur Cemoro Sewu ini memiliki trek yang agak menanjak namun dengan waktu tempuh yang relatif singkat.
Untuk Jalur Candi Cetho, Jalur ini merupakan jalur pendakian baru di Gunung Lawu. Belum banyak yang melewati jalur ini. Jalur ini memiliki pemandangan yang lebih indah dibandingkan kedua jalur diatas, namun dengan waktu tempuh paling panjang.
Karena ini pendakian pertama saya di Gunung Lawu, saya memilih Jalur Cemoro Sewu.


Peta jalur pendakian

Pasukan Gado-gado


Memulai Pendakian
Basecamp - Pos 1

Jalur pendakian Lawu didominasi oleh trek makadam dan bebatuan besar.
Dari Basecamp - Pos 1 kita akan melewati pepohonan yang rimbun dan jalan masih lumayan landai. Sebelum mencapai pos 1, kita akan menjumpai beberapa shelter atau pos bayangan. Waktu tempuh dari basecamp ke pos 1 hanya 45 menit. Di pos 1 terdapat shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Disini juga terdapat warung makanan tapi tidak setiap hari buka.



Puncak masih jauh disana bro, semangat !!!

Pos 1

Pos 1 - Pos 2
Trek yang dilalui mulai menanjak dengan jalur bebatuan. Jarak antara pos 1 ke pos 2 merupakan jarak terpanjang dan terlama dalam pendakian ini. Biasanya untuk mencapai pos 2, pendaki membutuhkan waktu antara 90 menit sampai 2 jam.



Pos 2

Di pos 2 ini juga terdapat shelter yang biasanya digunakan ntuk mendirikan tenda bagi pendaki yang mulai kelelahan atau bila tiba-tiba terkena badai. Di depan shelter juga terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 3 buah tenda.

POS 2 - POS 3
Trek akan semakin menanjak selepas pos 2. Trek pendakian masih berupa batu-batu besar yang tersusun secara alami. Di trek ini biasanya pendaki mulai kelelahan dan sering beristirahat. Memang pendakian dari pos 2 ini sangat menguras tenaga. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai pos 3 60 - 90 menit.


Pos 3

Di pos 3 juga terdapat shelter yang biasanya digunakan untuk mendirikan tenda. Bagi kamu yang sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan lagi bisa mendirikan tenda di pos 3 ini.

POS 3 - POS 4
Selepas pos 3 trek masih menanjak. Disini ketinggian sudah mencapai lebih dari 2800 MDPL

Pos 4

Di pos 4 ini tidak terdapat shelter, hanya tanah datar berukuran sempit yang cukup untuk 1-2 buah tenda. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai pos 4 sekitar 60 - 90 menit. Sebaiknya jangan bermalam disini karena pos 5 sudah dekat.

POS 4 - POS 5
Pada jalur selepas pos 4 menurut saya adalah bonus karena selain treknya bebatuan yang rapi jalanya juga landai dan hanya sedikit bergelombang. Ditambah pemandangan yang luar biasa indah. Setelah itu kita akan bertemu sumber air Sumur Jolotundo.  Waktu tempuhnya hanya 30 menit. Di pos 5 ini terdapat beberapa warung yang menjual makanan. Dan bagi kamu yang tidak membawa tenda bisa tidur dan bermalam di warung yang memang sudah disediakan tempat untuk para pendaki.


Sumur jolotundo
Sunrise di area pos 5

Sunrise di area pos 5

Sunrise di area pos 5

Sunrise di area pos 5

POS 5 - SENDANG DRAJAT
Bila di pos 5 tempat mendirikan tenda sudah penuh, kita bisa melanjutkan perjalanan ke pos Sendang Drajat. Di Sendang Drajat terdapat sumber air bersih yang bisa digunakan untuk mengisi botol-botol yang sudah kosong.



Warung Pak Warno (Sendang Drajat)
Bisa juga beristirahat disini loh bro...

Di Sendang Drajat juga terdapat sebuah warung makan lengkap dengan gensetnya jadi kita juga bisa ngecharge HP, Power Bank dan Senter. Di warung ini juga menyediakan tempat untuk tidur bagi para pendaki yang tidak membawa tenda. Dari pos 5 ke Sendang Drajat hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

SENDANG DRAJAT - WARUNG MBOK YEM
Warung di Sendang Drajat bukanlah warung terakhir di Gunung Lawu. Ada lagi yang paling terkenal bagi para pendaki yaitu Warung Mbok Yem. Warung Mbok Yem hanya berjarak 15 menit dari Sendang Drajat. Sama halnya warung lainya di Warung Mbok Yem ini pendaki juga bisa bermalam di dalam warung yang memang menyediakan tempat yang cukup luas bagi para pendaki.


Tanjakan Cinta versi Lawu


Telaga Sarangan nan jauh disana...
Warung Mbok Yem

Dan bagi yang membawa tenda, kamu bisa mendirikan di depan Warung Mbok Yem ini. karena tempat ini merupakan salah satu spot terbaik untuk melihat sunrise. Di sekitar Warung Mbok Yem Juga terdapat Hargo Dalem yaitu sebuah tempat petilasan Prabu Brawijaya.


Hargo Dalem

WARUNG MBOK YEM - PUNCAK LAWU
Dari Warung Mbok Yem ke puncak Lawu atau Hargo Dumilah hanya membutuhkan waktu 15 menit.
Di puncak Lawu terdapat sebuah Tugu Triangulasi sebagai tanda puncak Gunung Lawu.


Puncak Lawu
Puncak Lawu
Puncak Lawu

Di puncak Lawu bila cuaca cerah bisa melihat Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing di sebelah barat dan Gunung Semeru, Arjuno, Welirang di sebelah timur.

Sekian artikel tentang Jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, semoga bermanfaat.

Salam Lestari