Senin, 12 Oktober 2015

10 DASAR BERTAHAN HIDUP DI ALAM BEBAS

Bertualang di alam bebas merupakan hal bagus yang dapat kamu lakukan untuk refreshing pikiran, melatih kekuatan fisik, dan juga mendekatkan diri pada alam. Namun, yang perlu diingat, selain mendatangkan banyak manfaat, bertualang di alam bebas juga punya banyak resiko bahaya yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Cuaca ekstrim, tanaman beracun, serangan hewan liar, dan tersesat di hutan adalah beberapa contoh bahaya yang bisa saja datang menghadang.


Untuk itu, kamu perlu tahu 10 dasar bertahan hidup di alam yang bakal menyelamatkan dirimu jika menghadapi bahaya saat beraktivitas di alam bebas.

1. Beritahu Orang Lain Kemana Kamu akan Pergi, Minimal Orang Terdekatmu.

Jika kamu telah punya rencana untuk bertualang dalam waktu dekat, cobalah untuk memberitahukan rencana perjalananmu kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, teman nongkrong, ataupun tetangga. Beritahukan detail-detail penting mengenai perjalanan yang akan kamu lakukan, seperti destinasi tujuan petualanganmu, kapan kamu berangkat dan kapan akan pulang, apakah kamu pergi sendiri atau bersama kelompok. Dalam kondisi dimana kamu tidak kembali pulang tepat waktu, misal karena alasan cedera atau tersesat, seseorang akan tahu dan segera menghubungi pihak-pihak yang berwenang untuk mengirimkan regu penyelamat. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun sangat penting, dan bisa menyelamatkan hidupmu.

Pernah Menonton film 127 hours? Jika pernah, kamu pasti tahu betapa menyesalnya Aaron Rolston yang harus berjuang sendirian menyelamatkan hidupnya, karena pergi bertualang tanpa memberitahu siapapun.


2. Jangan Melawan Kekuatan Alam.

Jangan sekali-kali meremehkan kekuatan alam, sadarilah jika manusia memang lebih sering kalah dari alam raya. Jika suatu waktu kamu telah berencana untuk pergi bertualang, semua persiapan sudah beres dilakukan, namun tiba-tiba ada kabar tentang badai besar atau cuaca buruk di tempat yang akan kamu tuju, jangan ragu untuk menunda perjalananmu. Memaksakan diri bisa berakibat fatal, hargailah keselamatan dirimu dengan lebih baik. Pulang kembali ke rumah bukan berarti kalah, namun sebuah langkah bijak demi keselamatan diri.


3. Membawa Peralatan Keselamatan.

Pastikan peralatan survival seperti pisau saku, kompas, dan peta berada dalam daftar teratas barang bawaanmu. Dan pastikan juga kamu menguasai cara penggunaannya dengan baik dan benar. Jangan lupa juga untuk membawa peralatan P3K, korek api cadangan, serta tambahan air dan makanan. Peralatan survival bakal membantu kamu manakala menghadapi kondisi yang tak diinginkan, seperti tersesat di tengah perjalanan. Peralatan P3K bakal menolongmu saat menghadapi resiko cedera dan kecelakaan, sedangkan tambahan air dan makanan dapat memperpanjang nafas hidupmu manakala harus tertahan di alam bebas untuk waktu yang lebih panjang.


4. Berhati-hati dengan Hewan Liar.

Tak bisa dihindari, saat bertualang di alam bebas, kita bakal bertetangga secara langsung dengan beragam hewan liar. Ingatlah kenapa mereka disebut hewan liar, jangan sekali-kali mencoba mendekati mereka. Serangan dari hewan liar seperti macan tutul, macan kumbang, babi hutan, dan hewan lainnya memang sangat jarang terjadi, namun bukan berarti tak mungkin terjadi. Maka dari itu, berusahalah untuk menghindari kontak dengan hewan-hewan tersebut dengan selalu menjauhi wilayah mereka. Selalu berjalan pada jalur pendakian yang sering digunakan, dan dirikanlah tenda hanya di shelter-shelter yang telah tersedia. Itu merupakan langkah dasar untuk menjauhi ancaman serangan hewan liar.


5. Tetap Tenang dan Buat Sebuah Rencana.

Kepanikan akan sangat mudah datang manakala kamu dan seluruh anggota kelompokmu mulai sadar telah kehilangan arah alias tersesat. Namun kamu perlu ingat baik-baik jika hal penting yang harus dilakukan dalam kondisi seperti itu adalah berusaha untuk tetap tenang. Kepanikan bakal membuat kamu mengambil langkah ceroboh yang bisa menyebabkan kondisi semakin buruk. Hentikan perjalanan, dan cobalah untuk tetap tenang, agar pikiranmu tetap jernih untuk menyusun rencana-rencana agar bisa segera keluar dari situasi tersesat. Tentukan langkah dengan bijak, apakah akan mencari sumber air terlebih dahulu, atau segera membangun shelter dan membuat api sebagai sinyal untuk mencari pertolongan. Selanjutnya diskusikan setiap rencana dengan baik dan tenang agar secepatnya bisa keluar dari kondisi buruk tersebut.


6. Usahakan untuk Tetap Terlihat.

Kenapa seragam kelompok-kelompok pecinta alam atau tim SAR punya warna-warna yang mencolok? Pastinya agar mereka tetap terlihat saat berkegiatan di alam bebas, sehingga saat kondisi buruk terjadi, misalnya ada anggota yang tersesat, pencarian korban akan lebih mudah untuk dilakukan. Coba bayangkan jika seorang yang tersesat memakai baju berwarna hitam, atau hijau yang serupa dengan dedaunan, tentu pencarian korban bakal lebih sulit dilakukan. Lalu, jika kamu tersesat di hutan, cobalah untuk menuju ke tempat terbuka yang lebih tinggi –ini penting karena orang seringkali secara reflek pergi ke tempat yang lebih rendah saat tersesat- agar tim penyelamat lebih mudah untuk menemukanmu.


7. Buat Sinyal atau Tanda untuk Mendapatkan Pertolongan.

Mencari pertolongan adalah salah satu langkah penting yang harus dilakukan manakala kondisi buruk datang menghadang, namun tentunya kamu harus memikirkan cara untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. Jika handphonemu masih punyak cukup daya, cobalah untuk mencari sinyal untuk dapat menghubungi pihak-pihak yang bisa dimintai pertolongan. Kemudian, buatlah api unggun di tempat yang kira-kira bakal terlihat dari kejauhan sebagai penanda posisimu agar memudahkan tim pencari untuk menemukan dimana kamu berada, namun perhatikan juga jangan sampai api yang kamu buat malah menyebabkan kebakaran. Membawa peluit juga sangat disarankan sebagai bantuan lain untuk memberitahukan posisimu. Belajar sandi morse juga bukan ide buruk, itu akan sangat berguna.


8. Menemukan Sumber Air.

Kamu dapat bertahan hidup selama sebulan tanpa makanan, namun hanya 3 hari jika tanpa air. Maka dari itu, jika tiba-tiba petualangan seharimu berubah menjadi petualangan panjang karena tersesat, hal yang paling penting untuk dipikirkan adalah memastikan jumlah persediaan airmu cukup. Untuk itu, kamu perlu menemukan sumber air terdekat dari posisimu saat tersesat. Jika tak menemukan sumber mata air atau sungai, kamu bisa mencoba alternatif mendapatkan air dari pohon pisang, embun di dedaunan, atau tanaman merambat seperti rotan. Mendapatkan air di kawasan hutan tropis cukup mudah dilakukan, kamu hanya harus mempelajari agar tahu cara mendapatkannya. Jika kamu punya penyaring air atau water purifier, akan lebih baik untuk menyaring dulu air yang kamu dapatkan agar lebih higienis dan aman dari penyakit.


9. Membuat Shelter Sebagai Tempat Berlindung.

Jika kamu menyadari bahwa kamu telah tersesat cukup dalam dan butuh waktu cukup lama agar dapat ditemukan tim penyelamat, hal penting lainnya yang harus kamu lakukan adalah membangun shelter sebagai tempat berlindung. Jika kamu membawa tenda, segera dirikan di tempat aman dan nyaman yang telah kamu pilih untuk menunggu bantuan. Jika tak ada tenda, bisa gunakan ponco, jas hujan, atau plastik sampah untuk membuat bivak darurat. Jika tak ada peralatan tersebut, terpaksa kamu harus membuat bivak alam sederhana. Membangun shelter sangat penting dilakukan, agar tubuhmu tetap terlindung dari panas, hujan, dingin, atau serangan hewan.


10. Jangan Menyerah dan Teruslah Berusaha.

Dan terakhir, yang paling penting untuk diingat adalah terus berusaha, motivasi dirimu agar jangan sampai menyerah. Dalam kondisi buruk, mental manusia manapun pastinya bakal mudah turun dan pikiran akan mudah menjadi kacau, namun cobalah untuk mengendalikannya, jangan biarkan emosi yang mengendalikanmu. Beranikan diri untuk membuang rasa takut dan terus berusaha untuk keluar dari situasi buruk yang sedang kamu hadapi.

Hidup itu sangat berharga, seburuk apapun keadaannya, sekecil apapun peluangnya, akan selalu ada harapan untuk selamat yang bisa kamu perjuangkan dengan sekuat tenaga.



MENU MAKANAN SAAT MENDAKI GUNUNG



Satu hal yang gak bisa dipisahkan dari kegiatan mendaki gunung adalah makanan.

Menu makanan naik gunung sebenernya gak serumit yang dibayangkan, terutama buat ngana-ngana yang baru akan naik gunung biasanya agak heboh sedikit soal makanan, kayak:

"Aduh, aku bawa apa yah?" kata si X sambil ngerol jilbab

"Aduh, aku gak bakal makan deh, takut eek." kata si B sambil bikin alis

"Girls, hello-hello-helloooooowww gak usah ribet keleus, naik gunung mah makannya mie instan ajha!" kata si W sambil cebok

Kemudian X dan B saling ber-iyuuuwhhh, lalu melipir, dan nutup idung.

Nah, makanan buat kegiatan mendaki gunung ini emang susah-susah gampang. Kalau bawa mie instan melulu, rasanya kok ya ada yang salah. Bawa yang lain-lain, rasanya kok ya jadi berat dan ribet. Belum waktu masaknya segala macem. Jadi serba salah ya?

Okay, daripada keribetan, gua mau share sedikit soal apa aja sih menu makanan naik gunung dan biar pendakian jadi lebih menyenangkan. Kalau udah senang, kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius. Meniqa misalnya.

1. Beras/Nasi.

4 sehat 5 sempurna kayaknya dimulai dari karbohidrat. Karbohidratnya orang Indonesia biasanya nasi. Nasi dimulai dari beras. Nah, biasakan membawa beras ke gunung buat karbohidrat yang dibutuhkan tubuh. Gak usah bawa sekuintal. Bawa aja masing-masing per orang di rombongan segelas, jadinya lebih enteng. Eh, disesuaikan juga ding sama jenis gunungnya, sesuaikan sama berapa kali makan.

Kelebihannya, bawa beras itu makan jadi enak, karena nasi selalu enak buat dimakan dan dipadukan sama apapun. Asal jangan sama tai kambing. Atau segala jenis tai-taian. Lalu tentu aja jauh lebih kenyang.

Kekurangannya, waktu masak agak lumayan lama. Belum lagi kalau yang masak mba mba kekinian, biasanya gosong atau minimal keras jadi kerak, lu mamam dah tuh nasi keras. Karena masak nasi di gunung pake nesting itu perlu keahlian khusus. Oiya, konsumsi air juga lumayan banyak buat masak beras agar jadi nasi ini.

Biasanya, buat menyiasati ini, sebelum nanjak, belilah nasi mateng di warung terdekat gunung beserta lauk pauknya (terutama lauk pauk yang gak mudah basi), nasi dan lauk pauk dipisah. Jangan disatuin, ntar mereka saling jatuh cinta.

2. Chicken Nugget, Chicken Wings, Bakso, dan Sosis.

Empat jenis makanan instan ini adalah pilihan yang boleh dibilang enak, lezat, praktis, dan cucok banget buat dibawa ke gunung. Despite of pengawetnya yang bejibun, ya udah lah ya, kan enak inih wkwk. Selain enak, segala jenis makanan ini juga paling gak punya nutrisi yang boleh dibilang cukup buat perjalanan kita menembus hutan menapaki bebatuan.

Kelebihannya, makanan ini tentu aja enak. Cocok dipadu-padankan dengan nasi. Dicemilin juga pasti enak.

Kekurangannya, biasanya cepat basi, karena kebanyakan makanan ini frozen food alias musti ditaro di kulkas dengan suhu sekian. Seringnya cepat menghilang dicemilin pas lagi dimasak. Jadi belum mateng semua, pas lagi jamnya makan, nuggetnya udah bubar kemana tau. Menghabiskan cukup banyak minyak goreng, jadi agak rempong karena kita harus bawa bawa minyak lebih kalau bawa makanan ini (kecuali bakso).

3. Spaghetti dan Mie Instan.

Gak jauh beda sama Mie Instan, spaghetti sebenernya ya mie-mie juga cuma ala-ala itali dan jauh lebih berasa enaknya karena saos ala-ala bolognese yang bikin mie ini jadi lebih sedap. Ditambah jauh lebih kenyang daripada mie instan.

Kalau dibandingin sama mie instan, ibaratnya, kelas sosialnya beda lah. Kalau spaghetti itu mie ala ala sosialita, kalau mie instan ala ala mie rakyat pada umumnya. Meskipun sama-sama enak.

Kelebihannya, spaghetti itu... enak. Mie instan itu.... enak banget. Apalagi kalau dicemilin gak pake dimasak, dijadiin ala-ala mie kremes, wuih! Endes! Tapi ya siap-siap aja tingkat kebegoannya nambah. Eh, kremes-kremes tadi cuma berlaku di mie instan ya. Tapi kalau penasaran mau cobain spaghetti di kremes juga boleh, mungkin rasanya kayak lidi-lidian tapi tebel.
Kekurangannya, baik spaghetti maupun mie instan, rasanya sama-sama ngabisin air buat masak. Khusus buat mie instan, dia juga ngabis-ngabisin space di keril, apalagi kalau bawanya banyak. Meskipun keduanya dipercaya bisa mengenyangkan dan mempunyai nutrisi (terutama karbohidrat) yang cukup, tapi you know lah, kebanyakan makan mie kan gak baik buat kesehatan.

4. Sayur Sop.

Salah satu makanan kesukaan yang akhir-akhir ini gak pernah lupa gua bawa pas mendaki gunung: sayur sop. Yes, sayur sop.

Menurut gua, lauk yang satu ini lauk paling simpel yang pernah ada di muka bumi ini dan wajib banget dibawa-bawa pas naik gunung. Cukup bawa sayur-mayur sesukanya, potong-potong gak jelas, rebus, kasih bumbu masak, banyakin merica, ceplokin telor juga mantep, dalam sekejap langsung mateng!

Oh, i love sayur sop!

Kelebihannya ya itu tadi, mudah dibawa dan ditemukan, mudah dimasak, enak serta bernutrisi. Kekurangannya, namanya sayur mayur, terutama kentang mentah sama wortel, dua sayuran itu bakal bikin makin berat keril. Sayuran sisanya mudah busuk.

5. Tempe.

Ini juga, makanan kesukaan gua banget! Siapa yang gak suka tempe coba?

Meskipun tempe dibuat dengan cara diinjek-injek oleh abang-abang pembuatnya. Meskipun kita gak tau itu abang-abang kena panu kadas kurap apa gak. Meskipun kita gak tau itu abang ada kutilnya aa gak. Meskipun kita gak tau.... udah Cen, cukup. Malah jadi jijik huek.

Iya, meskipun apalah-apalah, tempe tetap yang terbaik. Digoreng jreng tanpa bumbu ya enak-enak aja. Digoreng pake direndem dalam bumbu dulu ya pasti asin-asin enak. Duh, jadi kangen makan tempe goreng.
Kelebihannya, jelas, enak, mantap, pakein sambel rasanya lebih juara, dan penuh nutrisi. Kekuranganya, cepet busuk, jadi rasanya cepet berubah kalau kondisinya udah gak prima.

6. Sop Instan.

Seperti segala yang instan-instan, sop instan rasanya jauh lebih advance dari sop sayur bikinan sendiri. Lebih enak tentunya dengan banyak pilihan, kayak sop jagung, sop cream, dan lain-lain.

Kelebihannya tentu aja lebih simpel, ringkes, dan sangat menghemat space di keril. Kan bentuknya cuma sachet, tinggal disiram air panas, cusss, langsung mateng. Kekurangannya, segala sesuatu yang instan, gak pernah baik bukan?

7. Roti.

Makanan ini kayaknya wajib ada musti banget di keril masing-masing personel di rombongan. Selain menghasilkan tenaga instan dan cukup mengenyangkan, at least dengan makan roti di gunung akan membuat kita serasa bule yang menjadikan roti sebagai bahan makanan pokok dalam hidupnya.

So, jangan tinggalkan roti kalian.

Kelebihannya, roti bisa dibikin apa aja, sandwich isi apapun bisa, dimakan langsung bisa, digoreng bisa, dipanggang bisa, dibakar bisa, buat cebok juga bisa kalau gak ada tisu (baca: Penderitaan Pribadi)

Kekurangannya, roti ini.... kayaknya gak ada deh.

8. Kering Kentang/Tempe

Another makanan instan-tapi-sehat yang layak banget buat dibawa-bawa ke gunung. Selain lebih awet secara alami, bawa-bawa ginian juga lebih enteng. Bisa dicemilin, juga bisa dijadikan makanan berat bersanding dengan nasi dan si dia.

Kekurangannya, nyuruh keluarga masakin itu agak ribet, terutama gua yang keluarganya jauh entah dimana. Mau beli di warteg, tapi gakk semua warteg jual. Kelebihannya... banyak! Yang lebih mahal juga banyak!

9. Ayam Ungkep.

Seriusan, ayam yang udah di ungkep itu enak banget! Maksudnya, ayam ungkep, trus digoreng pas di gunung. Sumpah, it feels like... ayam-ayam restoran! Kayak ada manis-manisnya gitu. KFC lewat!

Cuma PR-nya ya gitu, ribet ngungkep ayam sebelum nanjak. Tapi kayaknya beli di pasar yang udah diungkep juga banyak. Kekurangannya, ngabisin minyak goreng juga. Kelebihannya, ENAK BANGET!

10. Buah-buahan, Minuman Rasa-Rasa, dan Segala jenis coklat.

Gua pernah, waktu lagi di Sindoro, ada seorang teman, sebut saja bang Amar, dia bawa-bawa buah (kalo gak salah apel) dan dia membaginya pada saat-saat kami break. You know what, itu rasanya kayak apel terenak dalam hidup gua!

Lalu, hampir setiap nanjak gua bawa buah-buahan lagi, dan... sumpah, itu buah-buahan terenak dalam hidup gua! Semuanya! Lejat! Endeus! Endiduls!

Sama kayak minuman rasa-rasa, dimulai dari teh-tehan, pocari sweat, marimas, jasjus, ya Tuhan, itu air dan buah kayaknya jadi dingin sendiri gitu pas di gunung. Lebih segar dan bermartabat.

Kalau minuman sih gua lebih suka hydro coco karena sering gua jadikan rewards pas nanjak (baca: tips tetap kuat mendaki gunung)

Yang gue sebut tadi semua kelebihannya, kekurangannya cuma satu kata; BERAT!

11. Jelly.

Yang ini ada dalam banyak bentuk. Sachetan pake dimasak dulu. Atau yang udah jadi. Kalau sachetan, jangan lupa beli yang udah pake gula sekalian, PR banget soalnya kalau yang belum pake gula, selain jadi nambah-nambahin beban, rasanya bakal lebih gak enak.

Kelebihannya jelly adalah bisa paling gak nahan haus, karena jelly kan ada air-airnya gitu. Nahan laper juga kalo kata Oky. Kekurangannya sih cuma satu, kalo kamu eek-nya lancar kayak gua, bisa makin lancar. Kalau yang gak lancar, siap-siap aja.

12. Kopi & Coklat, dan lainnya.

Terakhir yang gak boleh lupa.

KOPI!

Atau coklat. Atau energen. Atau apapun minuman sachet. Selain lumayan buat iseng-iseng di malam hari, buat anget-anget juga, bisa juga buat bahan ngegebet tetangga sebelah tenda. Kan mayan, berawal dari nawarin kopi, kali-kali ditawarin hati. Ye gak?

Nah, mungkin itu aja menu makanan (dann minuman) naik gunung dari gua.

Ada yang mau nambahin?



3 ALASAN MENGAPA JOMBLO TIDAK BOLEH MENDAKI GUNUNG

Beberapa bulan lalu, negeri jomblo kembali berduka cinta cita—Eri Yunanto (21), mahasiswa Atmajaya Yogyakarta, jatuh ke kawah Merapi. Eri jatuh saat hendak turun dari Puncak Garuda, puncak tertinggi dan menjadi simbol kebanggaan para pendaki Merapi. Kepergian Eri turut pula mengingatkan saya kepada Gie, salah satu tokoh jomblo revolusioner negeri ini.

Soe Hok Gie, atau biasa disapa Gie, meninggal di Gunung Semeru tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-26. Seorang anak muda berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya. Jika kalian sudah membaca catatan yang ditulis oleh Gie, betapa Catatan Seorang Demonstran merupakan buku yang wajib dibaca oleh para jomblo revolusioner.

Dalam kurun waktu terakhir, saya menyaksikan berbondong-bondong anak muda pergi ke gunung. Entah ingin mencari kesunyian atau sekadar ingin jalan-jalan, mengusir penat dengan cara selfie dan menunjukkan ke khalayak ramai: untuk kamu, kapan naik gunung sama aku?

Ah, rasa-rasanya saya ingin mengutuk diri saya sendiri. Sebab sebagai anak muda yang kesepian, saya lebih ingin menziarahi sepi ini ke pantai daripada ke gunung. Lalu bersama desir angin dan suara debur ombak, saya bacakan sebuah kalimat yang ditulis oleh Gie (Catatan Seorang Demonstran, Selasa 11 November 1969), “Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.” Sebuah kalimat yang lebih cocok ditujukan kepada mantan-mantan saya daripada ke tempat yang sepi, bahkan di depan gedung MPR-DPR sekalipun.

Sebelum saya makin melankolis, berikut alasan mengapa jomblo tidak boleh naik gunung:

1. Bahaya.

Mungkin Nietzche telah berhasil mengubah paradigma para jomblo jelata tentang mendaki gunung. Ya. Ia telah berhasil menjawab pertanyaan yang dibuat sendiri dalam puisinya yang berjudul Naik, “Kiat terbaik mendaki gunung? Naik saja! Jangan direnung!” Ya, naik saja, jangan direnung! Tapi tahukah kalian bahwa seorang jomblo revolusioner tak boleh menelan kalimat bulat-bulat? Mengenal Nietzche paling tidak harus lebih dahulu membaca buku-buku filsafat, minimal ya filsafat ketuhanan.

Mendaki gunung pun sama seperti membaca buku filsafat ketuhanan. Bahaya. Kalau akal tak sampai, bisa jadi berbalik dan membikin diri menjadi gila. Ini lebih berbahaya daripada mati pelan-pelan karena mantan tak mau diajak balikan. Oleh karena itu, seberapa besar nyalimu mendaki gunung, kegiatan macam ini sungguh-sungguh berbahaya. Yang lebih berbahaya yaitu jika kamu mendaki gunung sambil mengajak selingkuhan, lalu ternyata si pacar juga sedang mendaki bersama teman-temannya. Kamu serta selingkuhanmu bertemu dengan pacarmu, jangankan sampai di puncak, baru mau buka tenda saja kalian telah terperosok ke dalam jurang kecerobohan.

2. Boros kantong.

Dari info yang saya dapat, baik lewat fitur mesin pencari maupun teman-teman yang baru-baru ini mendaki Semeru, perkiraan biaya untuk menjamah Semeru pulang-pergi dari Jakarta sekitar limaratus ribu rupiah. Bayangkan, Mbloo. Kamu perlu mengeluarkan uang sekitar setengah juta hanya untuk (mungkin saja ya) selfie di atas gunung. Mau jomblo jelata mau jomblo sosialita, tentu uang segitu banyak lebih mulia bila disumbangkan ke panti jomblo.

Sebagai seorang jomblo yang hidupnya serba ‘ekonomis’, kegiatan mendaki gunung sudah sepatutnya mendapat nomor urut sekian ribu. Jangankan mendaki gunung, wong ngajak makan gebetan sekaligus jalan-jalan saja mesti dipikir matang-matang. Belum lagi buat makan sehari-hari, bayar cicilan rumah (kalau punya), juga menabung untuk biaya nikah nanti (kalau masih kepengin nikah). Harga kebutuhan sudah pada naik, tapi pajak masih juga jadi tanggungan rakyat. Memang rakyat wajib bayar pajak. Tapi kalau pajaknya malah masuk ke kantong-kantong orang bejat, gimana?

Ya, jangankan buat mendaki gunung. Buat patungan menggelar demo di depan gedung MPR-DPR saja susahnya minta ampun.

Yakinlah, Mbloo. Jalan revolusi bukan terletak pada seberapa berani kamu menaklukkan gunung-gunung tinggi dan tebing-tebing curam. Tapi seberapa mampu kamu mengikhlaskan kepergian mantan. Ikhlas karena barang-barang yang telah diberikan berasal dari uang tabungan, bahkan harus rela menjahit kembali luka akibat boros kantong.

3. Di gunung tak ada Chelsea Islan.

Ya Tuhan… Betapa senyuman Chelsea Islan mampu menggantikan pemandangan di atas puncak. Tapi sayang, kita takkan menemuinya sekalipun ia sedang syuting di gunung. Seakan ada jarak yang membentang luas selayak Sungai Bengawan Solo yang panjangnya lebih panjang dari penderitaan seorang jomblo.

Jadi masih mau ke gunung? Tak ada Chelsea Islan di sana, Mbloo. Jangankan Chelsea Islan, dedek-dedek gemes JKT48 juga tak akan kau temui di gunung sana. Ha? Apa? Maudy Ayunda? Apa lagi! Sudah, pokoknya mereka cukuplah jadi pahlawan jomblo di dunia maya. Karena pada kenyataannya, seperti Gie bilang, “Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.”

Eh, bacanya jangan pake serius banget gitu, mblo!



17 TIPE PENDAKI GUNUNG


Di dunia pendakian ini ada banyak orang dengan beragam sifatnya yang bisa diklasifikasikan menjadi jenis-jenis pendaki tertentu. Mau tau apa aja? Cuss, simak langsung tipe-tipe pendaki yang didapat dari survey ACen Nielsen yang terpercaya dan berkelas internasional:

1. Pendaki Nubie.

Pendaki yang satu ini bisa dibilang orang yang belum pernah mendaki tapi niat-banget-pengen-mendaki dan terjun bebas di dunia pendakian. Doi bakalan kerja keras googling sana sini, tanya kanan kiri, demi mendapatkan informasi seputar dunia pendakian dan gunung mana yang akan dia daki pertama kali sesuai dengan kemampuannya. Pendaki nubie bakalan olahraga secara teratur untuk menghadapi pendakian pertamanya. Layak ditiru, pantas dicontoh, dan oke untuk dijadikan panutan.

2. Pendaki Senior.

Namanya juga senior, pendaki jenis ini tentunya udah malang melintang di dunia pendakian, selain karena pengalamannya, tentu aja karena umurnya yang biasanya udah sepuh. Maksudnya tuaan dikit. Sebut aja gunung mana di Indonesia yang belum dia jamah, bahkan mungkin gunung di luar Indonesia pernah dia jajaki.

3. Pendaki Sejati.

Pendaki jenis ini adalah pendaki yang sifatnya down to earth banget. Dia diem-diem aja anaknya, tapi... pengalamannya di dunia pendakian gak usah ditanya. Prinsip-prinsip pendakian juga dia pegang teguh. Survival skill-nya boleh diadu. Kematangan pikirannya boleh dijelajahi. Event-event pendakian macam 7summit, 20 hari 20 gunung, bersih gunung, elap gunung, marathon di gunung, mungkin pernah dia lakukan. Kontribusinya buat alam jangan ditanya. Jenis pendaki ini adalah pendaki yang top markotop dan selalu menerapkan 7 Hal Baik Yang Bisa Dilakukan di Gunung.

4. Pendaki 5cm.

Tipe pendaki ini ditemukan baru-baru aja setelah booming-nya film 5cm. Baru-baru ini makin banyak orang-orang yang maunya dipanggil juple ketimbang nama aslinya, karena merasa sifatnya mirip si Juple. Ada juga yang pengennya dipanggil ian mungkin karena berat badannya sama. Atau Genta? Atau Riani? Atau ah... aku lelah.

Kebanyakan dari para pendaki 5cm ini, menurut yang gue baca, adalah pendaki yang tiba-tiba muncul di event dengan jumlah pesertanya bisa ratusan bahkan ribuan. Sampe sekarang kadang gue masih gak habis pikir, itu mendaki gunung apa umroh sih. Oiya, tentu aja gunung yang incarannya adalah gunung Semeru. Dan serasa di film, kadang pendaki ini asal mendaki aja tanpa persiapan lengkap, kan di film semuanya serba enteng dan happy ending, cyin. But remember, reality bites. *OHOK*

5. Pendaki Rempong.

Pendaki jenis ini punya contoh yang paling dekat, yaitu gue. Tanya sama temen-temen yang udah pernah mendaki bareng gue. Gimana bawelnya gue nanya logistik, ini itu sampai detail. Gimana gue yang mau manjat sehari semalem aja bawaannya kayak mau pindahan rumah. Gimana bawa baju, udah ada serep, masih ada serep lainnya. Gimana.. ah rempong pokoknya!

6. Pendaki Borjuis.

Udah jelas dari jenisnya, pendaki ini adalah kalangan orang-orang berduit. Bisa dilihat dari segala-galanya yang bermerk. Sempak versace, tas gunung gucci, sepatu gunung louboutin, jas hujan indomaret, apapun yang jelas bermerk dan mahal. Dengan uangnya, dia bahkan bisa bayar porter buat gendong dia dari bawah sampe puncak sampe balik lagi. Masalahnya, ada gitu porter yang mau?

7. Pendaki Galau.

Ah udah lah ya, gue males jelasin pendaki model begini. Bawaanya mellow melulu pas manjat gunung. Muka sendu, jalan gontai, dikit-dikit curhat, ah ya gitu deh. Pasti kamu pernah ketemu kok pendaki model begini.

8. Pendaki American-Next-Stop-Model-Wannabe.

Tipe pendaki kayak begini bisa diliat dari kelakuannya yang begitu ketemu pohon bagusan dikit langsung berpose, ketemu batu dikit langsung gaya, bahkan pas lagi boker kalau perlu juga difoto. Pendaki kaya gini kalau pulang dari manjat biasanya ada lebih dari 1000 foto dirinya sendiri baik di kameranya, maupun di kamera temen-temennya.

9. Pendaki Fotografer.

Kalau yang ini kebalikannya dari sebelumnya, kalau dikit-dikit sebelumnya berpose, yang ini dikit-dikit berhenti tiap ada objek bagus yang bisa difoto. Pendaki jenis ini sering tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul, tapi mudah dikenali karena kamera yang (selalu) menggantung di dadanya.

10. Pendaki Vandal-Alay.

Jujur, agak pedih nulisnya, tapi pendaki jenis ini kayaknya musti diberantas, dan dikasi hukuman sosial kalau kita ketemu. Kenapa? Karena pendaki jenis ini adalah pendaki yang demenannya nyoret-nyoret batu, public space, ngukir pohon, dengan kata-kata "was here was here" atau nama-nama geng (ngaku) pecinta alamnya, atau misalnya "gepeng love markonah" dan semacamnya. Selain ngeselin karena dia punya pacar, lebih ngeselin lagi kenapa musti dipamer-pamerin sik. Betek kan?

Oiya, pendaki kayak gini juga nyabut-nyabutin edelweis dan memanennya seolah doi yang udah nanem. Anyway, biasanya sih yang macem begini gak diakuin sebagai pendaki.

11. Pendaki Religius.

Udah jelas dong, kalau pendaki jenis ini bawaannya solat melulu. Ngaji sekalian malah kalau bisa. Tapi pendaki kayak gini yang bikin gue terhenyak dan tersadar, how come dalam kondisi hujan badai pun mereka masih berusaha buat solat, sementara gue udah kekepan di sleeping bag. Aku tertampar sekaligus terharu. Maafkan kemalasan aku, Tuhan~~

12. Pendaki Pria-Punya-Selera.

Jenis ini adalah jenis pendaki yang ngerokoknya kuat banget. Udah bukan rahasia lagi kalau mendaki gunung berhubungan dengan pernapasan yang lancar. Harusnya, perokok sih agak berat buat manjat gunung, tapi buat jenis pendaki ini, rokok justru napas tambahannya!

Anyway, hati-hati ya bro, kesehatanmu kuwi lho...

13. Pendaki Porter.
Pendaki jenis ini punya kemampuan memanggul barang yang luar biasa. Mungkin pada saat Dr. Burton kesiram cairan yang bikin dia jadi hulk, si pendaki jenis ini kecipratan sedikit. Kemampuan orang ini emejing banget, selain bisa bawa keril segede kulkas, doi juga geraknya cepet bingit meskipun medan lagi nanjak-nanjaknya. Gue pernah ketemu orang kayak gini. Pernah.

14. Pendaki Doraemon.

Jenis pendaki yang ini adalah jenis paling unik, langka, dan juga layak untuk dipepet terus. Tau doraemon kan? Yap, hampir semua hal yang (kemungkinan) kamu butuhin ada di jenis pendaki ini. Misalnya, kaki lecet-lecet butuh hansplast--dia punya, butuh gunting kuku--dia bawa, butuh sarung tangan lebih--dia siapin, butuh kehangatan--dia sediain, butuh bahu buat sandaran--dia lakuin, butuh tentengan kondangan--dia mau diajak, butuh tumpuan masa depan--diaa.. tanya sendiri aja deh ya sama orangnya.

15. Pendaki Egois.

Pendaki kayak gini termasuk tipe pendaki paling ngeselin dan paling dimusuhin sejagad. Bagaimana tidak, kelakukannya yang mau enaknya doang, gak pernah bantuin rombongannya, tau-tau udah ilang entah dimana, dan apapun harus semaunya dia kalau gak dia bakal ngambek, kan minta digebukin banget. Eh, ada gak sih pendaki nyusahin kayak gini?

16. Pendaki Kere.

Jelas ini kebalikannya dari pendaki borjuis. Biasanya sih, jenis ini muncul karena doi masih sekolah, kuliah, atau emang bener-bener kere. Gak usah diliat dari barang-barangnya yang kebanyakan minjem, tapi liat dari sesedih apa mukanya pas kehabisan duit buat pulang. Tapi, seiring berjalannya waktu, pendaki model begini akan punya uang. Percayalah. Percayalah. *pengalaman pribadi*

17. Pendaki Multitalenta.

Pendaki tipe ini punya talenta yang luar biasa. Dia bisa masak dan sering jadi chef andelan rombongannya, bisa bangun tenda, bisa p3k, bisa nyetrika, bisa juga disuruh bersih-bersih, ini sebenernya pendaki apa pembantu sih?

Dia juga bisa nyanyi, bisa main musik, bisa nulis, bisa ngelawak, ganteng, punya bahu buat disenderin. Duh, ini pendaki apa suami idaman sih?

Pokoknya pendaki jenis ini sih gue banget lah! *digebukin*

So, termasuk jenis pendaki yang manakah kamu?

Ps: boleh milih lebih dari satu. Boleh di mix and match juga sesuai selera.

Disclaimer:
Tulisan ini dibuat se-SUBJEKTIF mungkin berdasarkan pengamatan yang gue lakukan akhir-akhir ini dan juga tambahan dari baca artikel sana-sini, ditambah kata-katanya orang lain, dan juga kelakuan para pendaki yang notabene kebanyakan temen-temen gue (dan gue sendiri), sumber yang gak terpercaya, serta bumbu-bumbu drama yang gak masuk akal lainnya. Jangan sampai salah langkah ya.



PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG

Kenapa mendaki gunung?

Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001)

Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Persiapan mendaki gunung.

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

1. Kesiapan mental.

Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

2. Kesiapan fisik.

Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

3. Kesiapan administrasi.

Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

4. Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
■ Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.

Perlengkapan dasar perjalanan
■ Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
■ Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
■ Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu
■ Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

■ Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
■ Masukkan dalam kantong plastik.
■ Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
■ Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
■ Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
■ Buat Checklist barang barang tersebut.


SURVIVAL.

Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.

Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. Survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. Kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi.

Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.

Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir.

Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat adalah kunci dari survival. Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup. Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival.

Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan untuk memperolehnya dibutuhkan gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan dari pengalaman atau pendidikan yang pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan resiko tinggi dan aktivitas menantang terbukti dapat membuat orang belajar untuk berbuat yang lebih baik dan melakukan adaptasi efektif.

Berikut adalah contoh susunan prioritas dalam keadaan survival :

1. Tentunya yang paling utama adalah udara. bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapat prioritas utama untuk bertahan hidup. survival tanpa udara umumnya hanya bertahan selama 3 sampai 5 menit.

2. Selanjutnya dibutuhkan perlin- dungan, dari cuaca buruk dan keganasan alam. sejak keberadaannya manusia dibatasi lingkungannya sendiri mulai dari temperatur yang sangat berpengaruh pada tubuh. Untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat melindunginya contohnya api yang dapat menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh, jika tidak ada rumah, tenda atau gua. Api dapat dimasukkan kedalam prioritas kedua

3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan istirahat jaringan tubuh akan terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain. Istirahat yang dimaksud adalah istirahat fisik dan juga mental sebab stress dapat mengurangi kemampuan untuk bertahan.Dengan demikian istirahat dapat dimasukkan kedalam prioritas ketiga.

4. Air. Kehilangan cairan dan kondisi air yang tidak dapat diminum adalah persoalan didalam survival. Tubuh manusia kira-kira terdiri dari 2/3 jaringan yang mengandung air dan merupakan bagian sistem sirkulasi di dalam organ tubuh. Air dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang air dan mencerna makanan. Kondisi lingkungan yang exstrem tanpa air dapat mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga tiga hari, sehingga air dapat dimasukkan kedalam prioritas keempat. Sangatlah bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.

5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga kali sehari. Tetapi sementara banyak manusia di benua lain hanya dapat makan sekali sehari atau bahkan tidak makan berhari-hari. Catatan menunjukkan bahwa tanpa makanan survivor dapat bertahan selama 40 sampai 70 hari. Keharusan untuk mendapatkan makanan adalah prioritas terakhir dalam survival. Penghematan energi adalah salah satu cara untuk mengimbangi kekurangan makanan.

Sikap dalam Survival.

Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat sangat diperlukan. Setiap orang harus dapat berbuat yang terbaik dalam memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan darurat. Hal ini tidak mudah karena sikap ini perlu latar belakang pengetahuan dan keterampilan. Bila semua prioritas telah diperoleh, tetapi masih kehilangan kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk menguasai mental yang disebabkan kondisi fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali. Kondisi yang demikian sangat membahayakan dan bahkan sesuatu yang menguntungkan pun akan dibuangnya. Juga yang perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu yang anda lihat. Sikap mental positif sangat diperlukan untuk menganalisa semua yang bertentangan dengan tubuh.

Apa saja yang berguna dalam mengha- dapi situasi survival dapat dilihat dalam dua persoalan :

1. Kesiapan mendiskusikan dengan jelas “apakah anda ingin hidup ?”, ungkapan yang sederhana. Secara naluriah manusia mempunyai insting untuk menjaga diri. Banyak kegiatan survival yang menunjukkan adanya jalan keluar dari periode fisik ekstrem dan mental stress ke posisi tenang. Sadar atau tidak orang mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kematian. Oleh karena itu setiap orang juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kehidupan.

2. Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal ini didapat jika kita mampu mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh : tubuh manusia bekerja optimum dengan temperatur 37 derajat C. Mengabaikan temperatur lingkungan akan menyebabkan penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh yang efektivitasnya tinggi yang pada akhirnya akan mengganggu peredaran darah, menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas, akhirnya bertindak irrasional berbarengan dengan turunnya koordinasi yang akhirnya berakibat fatal. Pengetahuan dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh hanya bekerja dengan separuh kemampuannya, penghematan sumberdaya seperti energi, panas dan air adalah penting.

Mengapa ada Survival?

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

- Keadaan alam (cuaca dan medan)
- Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
- Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)
- Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri. Dalam keadan tersebut ada beberapa faktor yang menetukan seorang Survivor mampu bertahan atau tidak, antara lain : mental, kurang lebih 80% kesiapan kita dalam survival terletak dari kesiapan mental kita.

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

- Keadaan alam (cuaca dan medan)
- Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
- Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)

Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.

Definisi Survival.

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam ;

Sadarkan diri dalam keadaan gawat darurat
Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
Rasa takut dan putus asa harus hilangkan
Vitalitas mesti ditingkatkan
Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
Variasi alam bisa dimanfaatkan
Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
Lancar dan selamat

Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tersebut, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :

Stop & seating / berhenti dan duduklah
Thingking / berpikirlah
Observe / amati keadaan sekitar
Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

Kebutuhan survival

Yang harus dipunyai oleh seorang survivor adalah :

1. Sikap mental ; Semangat untuk tetap hidup, Kepercayaan diri, Akal sehat, Disiplin dan rencana matang serta Kemampuan belajar dari pengalaman]

2. Pengetahuan ; Cara membuat bivak, Cara memperoleh air, Cara mendapatkan makanan, Cara membuat api, Pengetahuan orientasi medan, Cara mengatasi gangguan binatang, Cara mencari pertolongan

3. Pengalaman dan latihan ; Latihan mengidentifikasikan tanaman, Latihan membuat trap, dll
4. Peralatan ; Kotak survival, Pisau jungle , dll

Langkah yang harus ditempuh bila anda/kelompok anda tersesat :

1. Mengkoordinasi anggota
2. Melakukan pertolongan pertama
3. Melihat kemampuan anggota
4. Mengadakan orientasi medan
5. Mengadakan penjatahan makanan
6. Membuat rencana dan pembagian tugas
7. Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar
8. Membuat jejak dan perhatian
9. Mendapatkan pertolongan

Bahaya-bahaya dalam Survival.

Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :

Ketegangan dan panik

Cara Pencegahan : Sering berlatih, Berpikir positif dan optimis dan Persiapan fisik dan mental

Matahari / panas

- Kelelahan panas
- Kejang panas
- Sengatan panas
- Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas : Penyakit akut / kronis, Baru sembuh dari penyakit Demam, Baru memperoleh vaksinasi, Kurang tidur, Kelelahan, Terlalu gemuk, Penyakit kulit yang merata, Pernah mengalami sengatan udara panas, Minum alkohol, Dehidrasi.

Pencegahan keadaan panas :

-Aklimitasi.
- Persedian air.
- Mengurangi aktivitas.
- Garam dapur.
- Pakaian : Longgar, Lengan panjang, Celana pendek, Kaos oblong.

Serangan penyakit.
Penyakit yang biasa diderita pegiat alam bebas adalah grin emotikon emam, Disentri, Typus, Malaria.

Kemerosotan mental.
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah atau keadaan lingkungan mencekam.
Pencegahan : Usahakan tenang dan tentu saja banyak berlatih.

Bahaya binatang beracun dan berbisa.
Keracunan.

- Gejala ; Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang mencret, kejang kejang seluruh badan, bisa pingsan.
- Penyebab : Makanan dan minuman beracun
- Pencegahan : Air garam di minum, Minum air sabun mandi panas, Minum teh pekat atau di tohok anak tekaknya

Keletihan amat sangat.
Pencegahan : Makan makanan berkalori dan Membatasi kegiatan

Bahaya lainnya dalam survival adalah : Kelaparan, Lecet, Kedinginan [untuk penurunan suhu tubuh 30° C bisa menyebabkan kematian]

Membuat Bivouck (Shelter)

Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.

Macam –macam bivouac :

1. Shelter asli alam ; Gua [yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor]. Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.
2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan [misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu]

Syarat bivouac :

- Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]
- Di atas bivouac / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
- Bukan sarang nyamuk/serangga
- Bahan kuat
- Jangan terlalu merusak alam sekitar
- Terlindung langsung dari angin

Mengatasi Gangguan Binatang:

Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk

Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan

Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan

Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.

Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut

Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan

Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]


MAKANAN.

Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :

- Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
- Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
- Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.
- Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.
- Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam

Catatan ;

Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat [dapat dicoba di ujung lidah]

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :

- Batang pohon pisang (putihnya)
- Bambu yang masih muda (rebung)
- Pakis dalamnya berwarna putih.
- Sagu dalamnya berwarna putih.
- Tebu.

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :

- Selada air
- Rasamala (yang masih muda)
- Daun mlinjo
- Singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :

- Ubi jalar, talas, singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet

Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :

- Jamur merang, jamur kayu. Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :
- Mempunyai warna mencolok
- Baunya tidak sedap
- Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
- Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
- Bila diraba mudah hancur
- Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
- Tumbuh dari kotoran hewan
- Mengeluarkan getah putih

Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.

Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :

- Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking
- Binatang yang mengandung racun : penyu laut
- Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung

Api.

Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.

Cara membuat api dalam keadaan darurat :

- Dengan lensa / Kaca pembesar ; fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.

- Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar.

- Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren

Survival kits.

Survical kits adalah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan sebagai alat berjaga-jaga bila terjadi keadaan darurat atau juga dapat digunakan selama perjalanan.

Beberapa contoh survival kits adalah :

- Mata pancing /kait
- Pisau / sangkur / vitrorinoc
- Tali kecil
- Senter
- Cermin suryakanta, cermin kecil
- Peluit
- Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]
- Tablet garam, norit
- Obat-obatan pribadi
- Jarum + benang + peniti
- Ponco / jas hujan / rain coat
- Dan lain-lain.


  

Kamis, 24 September 2015

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT NAIK GUNUNG

Ketinggian tidak bisa dianggap main-main oleh pendaki. Banyak yang cedera, tewas, atau lenyap begitu saja.
Tak jarang pula pendaki yang mengalami penampakan dan kesurupan. Jangankan gunung yang terpencil, kota pun ada yang punya hobi menyambut
pengunjungnya dengan masalah, seperti Cuzco, Peru (3.000 mdpl), La Paz, Bolivia (3,444 mdpl), dan Lhasa, Tibet (3,749 mdpl).
Olah-raga panjat gunung tidak cukup bermodal ketangguhan fisik melakukan aktivitas (exertion).
Lebih dari itu, daya adaptasi terhadap ketinggian (altitude adaptability) juga dituntut. Tuntutan kedua itulah sebenarnya yang berakibat berat bila tak dipenuhi.
Pendaki bisa mengidap mountain sickness (mabuk gunung) yang sebenarnya menjadi pangkal musabab dari hal-hal 'gaib' itu.
Mabuk Gunung
Misalnya Anda berada di Kandang Badak (camp site Gede-Pangrango jalur Cibodas) atau Pasar Bubrah (camp site lereng Utara Gn. Merapi) yang elevasinya sekitar 2.500mdpl,
Anda sudah bisa melihat gejala pembuntingan beberapa barang yang Anda bawa. Bungkus snack menjadi gendut menggelembung kayak balon.
Botol minuman yang dari bawah dalam keadaan tertutup rapat, bila dibuka pada ketinggian itu tutupnya meletup. Kok bisa?
Hal itu terjadi karena perbedaan tekanan udara. Di pantai (0 mdpl), tekanan udara adalah 760 mmHG dengan konsentrasi oksigen 21%,
sedangkan pada ketinggian 2.500 mdpl, tekanan udara hanya 570 mmHG. Dengan demikian, meskipun konsentrasi oksigen sama,
kerapatan molekulnya berkurang 25%. Faktor inilah yang telah membuntingkan barang barang di atas.
Pada kondisi tersebut, apa yang terjadi pada tubuh kita? Hati-hati, ternyata, diam-diam pembuluh darah kita pun ikut bunting.
Dan penggembungan pembuluh darah itu menyebabkan terjadinya kebocoran cairan.
Inilah biang kerok mabuk gunung. Kemungkinan Terjangkit (Susceptibility)
Kemungkinan terjangkit mabuk gunung antara satu orang dengan yang lain tidak sama.
Beberapa pendaki sangat rentan, sementara yang lain berdaya tahan mirip badak.
Sayangnya, sampai saat ini, belum ada metode klinis yang bisa mengidentifikasi dan memilah manusia yang rentan dan yang tahan terhadap ketinggian.
Mabuk gunung tidak berhubungan dengan jenis kelamin, umur, dan kondisi fisik. (Rick Curtis, Outdoor Action Guide to High Altitude: Acclimatization and Illnesses).
Jadi, jangan pongah dulu kalau badan Anda gempal atau kaki Anda kayak tales Bogor. Anda belum tentu mempunyai altitude adaptabilit yang sip.
Oleh karenanya, semua pendaki wajib mengenali diri masing-masing dalam hal ini. Tidak ada rumus lain!
Jenis Mabuk Gunung
Ada tiga jenis mabuk gunung, yaitu AMS, HAPE, dan HACE.
AMS (Acute Mountain Sickness) adalah bentuk awal dari mabuk gunung.
Pendaki yang rentan sudah mulai mengalami gejala ringan AMS pada ketinggian 1,200mdpl.
Itulah sebabnya, ketika berada di pos pendakian (belum mendaki), beberapa orang sudah kelihatan tidak sehat.
AMS bisa diidentifikasi dari gejala-gejala: * Pusing atau pening * Mual sampai muntah-muntah * Napas tersengal-sengal pada saat melakukan aktivitas fisik
* Kelelahan (fatigue) * Hilang napsu makan * Sulit tidur * Menyendiri, malas bergaul dan berkomunikasi (social withdrawal)
Apabila mendapatkan perhatian dan perlakuan sebagaimana mestinya, AMS umumnya tidak berakibat fatal.
Sebaliknya, bila kondisi ini tidak dipahami dan diabaikan, masalah lebih serius mengancam.
Sayangnya, pemanjat gunung sering cuek-bebek terhadap gejala-gejala itu. Kebanyakan menganggap gejala- gejala AMS semata-mata hanya karena terlalu capai, stamina loyo,
kurang tidur, atau bahkan masuk angin. Dari pendapat ini, umumnya penderita AMS hanya merasa perlu beristirahat sebentar, kemudian naik lagi.
Meskipun beristirahat ada benarnya, perlakuan semacam itu keliru.
Mabuk gunung bukanlah persoalan capai, bukan pula persoalan kondisi fisik (lihat Susceptibility).
HACE (High Altitude Cerebral Edema) merupakan perkembangan lanjut dari AMS. Pada tahap ini, banjir cairan sudah tak terkendali seperti lumpur Lapindo. Luapannya sampai ke otak sehingga bengkak.
HACE memang sangat jarang terjadi pada ketinggian di bawah 2,700 mdpl.
Kasus HACE sering mengancam pada skala elevasi Very High (3.600-5.500 mdpl) dan lebih sering pada Extremely High (>5.500 mdpl).
Tetapi pendaki yang sudah mengalami AMS, bila terus menambah ketinggian pada waktu yang cepat, di ketinggian berapa pun, tetap mudah terkena HACE.
Rasa letih yang jauh lebih parah, biasanya dialami penderita HACE.
Selain gejala-gejala AMS, gejala lain yang mungkin kelihatan pada penderita HACE adalah:
* Kehilangan koordinasi gerakan, sempoyongan bila berjalan* Kebingungan, irasional * Mengalami halusinasi * Meracau
* Lunglai, dan pada keadaan yang paling parah mengalami koma.
Lebih dari lima puluh persen penderita HACE yang sampai mengalami koma, akhirnya tewas.
Sementara yang berhasil bertahan, kebanyakan mengalami cedera otak permanen yang menyebabkan ketidaknormalan kondisi mental atau kekacauan koordinasi motorik.
Kalau mendapatkan penanganan yang pas, jangan takut, asal belum sampai mengalami koma, penderita bisa pulih total.
HAPE (High Altitude Pulmonary Edema) adalah bentuk lain dari perkembangan AMS.
Pada kasus ini, banjir kiriman mencapai paru-paru sehingga penderitanya mengalami kesulitan pernapasan.
Akibatnya, efektifitas penyerapan oksigen menurun drastis. HAPE bisa terjadi sendiri, maupun serentak dengan HACE.
Dalam hal pemburukan kondisi ke arah fatalitas, jangan main-main, HAPE lebih cepat!
Gejala penderita HAPE adalah: * Napas tetap tersengal-sengal meskipun beristirahat * Batuk berat disertai keluarnya busa putih
* Dada terasa sangat berat dan sesak * Lunglai, lemas Gejala-gejala seperti irasionalitas, kebingungan, dan gejala-gejala lain yang tampak pada HACE bisa juga muncul sebagai akibat dari kurangnya pasokan oksigen ke otak.
Penampakan? Ya jelas ada penampakan, wong otak becek kebanjiran!
Kesurupan? Ya jelas kesurupan, meracau, ngomyang, wong otak bengkak!

Alasan Kenapa Kamu Harus Naik Gunung


Naik gunung adalah aktivitas yang bagi sebagian orang dianggap membuang-buang waktu dan kurang kerjaan. Memang wajar kalau ada yang berpendapat demikian karna faktanya naik gunung memang tidak menghasilkan apa-apa jika dilihat secara kasat mata. Sudah begitu, naik memang bikin capek dan membuat energi terkuras
Buat kamu yang masih punya pikiran demikian sebaiknya segera ubah persepsi tersebut. Meski kelihatannya naik gunung cuma membuat badan jadi lelah dan kaki pegal, ada banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang bisa kita dapat dari naik gunung. Berikut ini adalah beberapa alasan kenapa kamu harus naik minimal sekali seumur hidup

1. Naik gunung mengajarkan kita untuk fokus

Beberapa orang beranggapan bahwa pendaki gunung adalah orang yang tidak punya tujuan dan hidupnya terkesan berantakan. Padahal, sejatinya bukan seperti itu kenyataannya. Pendaki gunung justru adalah orang yang punya tujuan jelas yakni puncak gunung. Mendaki gunung juga mengajarkan kita untuk fokus pada satu tujuan. Jika saat mendaki kita harus tetap fokus untuk bisa sampai ke puncak, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menggunakan konsep yang sama untuk fokus pada satu tujuan sampai tujuan itu benar-benar tercapai sebelum pindah ke tujuan yang lain

2. Mendaki gunung mengajarkan tentang hidup yang fluktuatif

Hidup ini memang seperti roda. Kadang diatas kadang dibawah. Mendaki gunung akan mengajarkan kita untuk memahami konsep hidup yang simple ini. Track pendakian tidak melulu lurus dan datar. Track pendakian terdiri atas tanjakan dan turunan. Ada saat dimana kita harus berjuang dengan peluh saat melewati tanjakan, ada saat dimana kita bisa berjalan lebih santai saat melewati track yang nenurun. Di dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering dihadapkan pada masalah yang serupa. Kadang santai kadang harus berpusing ria

3. Naik gunung mengajarkan kita untuk teliti dan cermat

Mendaki gunung juga dibutuhkan perhitungan yang cukup teliti. Misalnya saja kita harus bisa memperkirakan apakah perbekalan yang kita bawa akan cukup untuk survive selama beberapa hari. Kita juga harus mampu memprediksi waktu kapan kira-kira kita akan sampai pos pendakian untuk beristirahat dan mendirikan tenda. Perhitungan-perhitungan tersebut akan mampu mengajarkan kita untuk lebih teliti dan cermat

4. Mendaki gunung mengajarkan kita arti kesabaran

Jika kita sudah menetapkan puncak sebagai tujuan pendakian maka kita harus mau untuk bersabar. Kita harus bersabar untuk melangkahkan kaki, langkah demi langkah untuk bisa sampai ke tujuan: puncak. Sabar memang menjadi salah satu kunci seseorang untuk meraih kesuksesan. Namun tidak banyak orang yang benar-benar bisa menerapkan konsep kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mendaki gunung kita akan benar-benar bisa meresapi apa arti kata sabar yang sesungguhnya.

5. Mendaki gunung mengajarkan kita arti perjuangan

Perjuangan dalam hidup, sekecil apapun itu, wajib untuk dihargai. Sebagai manusia terkadang kita lupa untuk memberikan penghargaan atas apa yang kita lakukan. Terlebih atas usaha orang lain. Kita sering kali tampak acuh dan tidak mau tahu tentang apa yang orang lain lakukan untuk kita. Mendaki akan membuat kita lebih peka terhadap perjuangan hidup. Apapun bentuknya.

6. Mendaki gunung mengajarkan kita untuk lebih menghargai proses

Masih banyak orang yang ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya namun tidak mau membayar atas kesuksesan tersebut. Masih banyak orang yang maunya cepat sukses tanpa mau melewati serangkaian prosesnya. Misalnya saja, banyak mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai bagus dalam mata kuliah tertentu namun tidak mau belajar. Ketika ujian ia lebih memilih menyontek teman atau yang lebih parah: menyuap bagian administrasi untuk menaikkan nilai mata kuliah tertentu
Apapun yang menjadi tujuan hidup kita, semuanya membutuhkan proses yang tidak gampang. Bahkan untuk makan mie instant saja yang jelas-jelas sudah “instant” kita masih harus memasaknya. Untuk bisa menikmati pemandangan indah dari puncak gunung kita harus mau untuk berproses. Mengayunkan kaki langkah demi langkah untuk bisa sampai ke puncak. So, nothing instant in this world.

7. Mendaki gunung membuat kita lebih menghargai ciptaaan Tuhan

Pemandangan yang akan kita dapatkan saat naik gunung adalah sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kalimat ataupun puisi seindah apapun!. Kamu tak akan semakir sadar bahwa ciptaaNya memang sungguh luar biasa. Saat sudah berada di puncak dan menikmati pemandangan yang indah, kamu akan semakin sadar bahwa alamnya ini sangat luas. Kamu juga akan semakin menghargai ciptaanNya ini dan berusaha untuk menjaganya demi anak cucu.

8. Mendaki Gunung Akan Menjadikanmu Pribadi Yang Ramah

Keramah-tamahan antar pendaki adalah hal yang sangat lumrah dijumpai saat pendakian. Meskipun baru pertama kali ketemu, pada pendaki tidak akan pernah merasa sungkan dan canggung untuk menyapa satu sama lain di track pendakian. Saat ada pendaki yang sedang berisitrihat, pendaki lain biasanya akan menyapa dengan ramah. Mendaki gunung akan menjadikan kamu menjadi pribadi yang lebih ramah dan bersahabat.

9. Mendaki Gunung Mengajarkan Untuk Hidup Mandiri


Mau tidak mau, seorang pendaki harus hidup dengan perbekalan yang seadanya saat melakukan pendakian untuk bisa survive. Pendaki juga dituntut untuk tidak manja dan bisa menjaga diri sendiri. Hal ini akan membuat kita menjadi orang yang lebih mandiri. Saat mendaki kita akan belajar untuk bisa masak sendiri, melipat sleeping bag, packing dll. Ini akan membuat kita menjadi pribadi mandiri yang tangguh

10. Berhenti Menjadi Robot

Di zaman modern ini, sebagian besar masyarakat dituntut untuk menjadi ‘robot’ yang setiap harinya kerja dari pagi hingga sore atau malam, lalu mengulanginya lagi dan lagi setiap hari. Memang benar tuntutan ekonomi jadi alasan utama kita rela untuk melakukan aktivitas membosankan tersebut, namun tak ingin kah kalian sesekali berhenti jadi robot dan meraskan seperti apa rasanya hidup yang sesungguhnya itu?
dengan berlibur, atau lebih tepatnya naik gunung, kita akan dibuat lupa dengan yang namanya stres harian atau tuntutan kerja yang sudah seperti menempel di otak. Kita bahkan bisa bertemu dengan orang-orang baru yang punya pandangan berbeda-beda ketimbang teman duduk di bangku kantor yang itu-itu saja. So, refreshing sesekali dan naik gunung adalah jawaban yang tepat banget buat kamu yang benar-benar ingin ‘hidup’.

11. Mendaki Gunung Akan Membuat Kamu Lebih Mecintai Indonesia


Indonesia adalah negara cantik dengan keindahan alam yang tiada duanya. Saat di puncak gunung kamu akan disuguhi oleh indahnya pemandangan alam yang mempesona. Sebagai contoh adalah indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh puncak Rinjani. Hamparan biru danau Segara Anak serta Gunung Barujadi ditengahnya. Itu hanyalah sebagian kecil dari keindahan alam Indonesia. Tak heran jika banyak pendaki yang dengan bangga mengibarkan bendera merah putih ketika berhasil sampai ke puncak

12. Mengajarkan Arti Kekompakan Bekerjasama Dalam Satu Tujuan

mencapai puncak gunung memang bukanlah tujuan sebagian pendaki. tapi menjalin kekompakan dan kebersamaan itulah yang paling penting yang harus diutamakan. karena dalam meraih keindahan puncak gunung dalam sebuah kelompok, ego pribadi haruslah dibuang jauh-jauh. saling peduli dan saling bantu-membantu akan tercipta sendiri ketika kamu mendaki bersama orang yang kamu kenal bahkan dengan orang yang belum pernah kamu kenal sekalipun.
dan inilah poin penting dimana bisa menjadi pelajaran buat kamu dalam menjalani rutinitas sehari-hari, khusunya buat kamu yang gemar berbisnis yang mana akan membutukan kerja sama yang kompak dalam mengarungi satu tujuan. karena satu langkah kamu bersama-sama mendaki gunung, maka satu langkah itu pula kamu menciptakan kebersamaan.