Senin, 12 Oktober 2015

PENGANUT SLOGAN MTMA ADA BAIKNYA BELAJAR DARI PEMUDA INI


Jangan di rumah saja, Indonesia itu indah men…

Di atas samudra awan puncak gunung Prau, My Trip My Adventure.

Ini petualanganku, mana petualanganmu, yeah, My Trip My Adventure…!!

Sering mendengar kalimat tersebut bersliweran di sosial media ya akhir akhir ini, atau jangan jangan di antara sahabat semua ada yang malah sering menulis kalimat semacam itu beserta memposting sebuah foto perjalanannya di dinding facebook, istagram, atau timelinenya…?

Kalau ada, ya nggak masalah, nothing wrong with that men…

Namun kali ini, saya ingin bercerita mengenai seorang anak muda yang mungkin saja dapat menjadi sebuah wawasan baru untuk sahabat semua yang sering melakukan sebuah perjalanan, dan mengklaim hal itu sebagai sebuah real adventure.

Membaca kisahnya, mungkin banyak yang akan mengatakan kalau anak muda ini bodoh, dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Namun, kali ini, kita akan mencoba melihat segala tindak tanduk pemuda ini dari kacamata dirinya sendiri, dan dari kacamata orang orang yang memuja sebuah pencarian diri dalam keluasan alam raya, dan keganasan alam liar yang membelai setiap manusia dengan cakar cakar besar yang siap merobek mental dan pendirian.

Christopher Johnson McCandless atau yang menyebutnya dirinya dengan sebutan Alexander Supertramp, adalah seorang pemuda jenius, memiliki nilai bagus dalam setiap mata pelajaran sekolahnya, lulus sebagai salah satu sarjana dari sebuah universitas terkemuka di Amerika dengan predikat cum laude, pandai bermain music dan piano, juga pandai dalam menulis prosa kata yang memiliki makna mendalam, dan ia juga piawai dalam menulis bait puisi dan kata kata mutiara.

Jadi secara akademis, pemuda ini tidak bisa dikatakan bodoh.

Why..?

Mengapa ia melakukan hal itu..?

Mengapa ia melepaskan semua kemewahan yang ia miliki, dan memilih hidup laksana gelandangan dalam panas dan hujan, dalam dingin dan terik..?

Prestasinya yang tinggi dalam dunia akademis akan sangat memudahkan ia memperoleh pekerjaan bergaji ribuan dollar yang mungkin didambakan banyak pemuda seumuran dirinya di luar sana, namun sekali lagi, mengapa McCandless malah memilih menjadi seorang petualang yang memburuh disebuah penggilingan gandum…?

Seseorang harus memiliki alasan yang kuat untuk bisa melakukan hal itu. Nekat dan iseng saja tidak cukup besar untuk membuat seorang pemuda jenius mau melakukan petualangan yang pada akhirnya, mengakhiri hidupnya sendiri.

Christopher Johnson McCandless lahir di kota El Segundo, wilayah California, pada 12 Februari 1968. Dan ia meninggal di dalam sebuah bus di Stampede Trail, Alaska, pada Agustus 1992, ketika ia berumur 24 tahun. Ia mati muda, dan menjadi salah satu topik dunia petualangan yang sangat ramai dibicarakan sejak John Krakauer mempublikasikan tulisannya tentang McCandless ini di Outside Magazine.


Ada juga sebuah ucapan pedas dari seorang ranger Alaska yang mengatakan kalau Alexander Supertramp atau Chris McCandless adalah tidak lebih lebih dari seorang pemuda tolol yang memang mencari mati ke Alaska. Pendapat ini diucapkan oleh ranger tersebut karena melihat kenekatan McCandless yang menyusuri Alaska seorang diri tanpa perbekalan yang memadai, bahkan dari banyak data disebutkan bahwa, McCandless tidak membawa selembar peta tentang Alaska pun dalam perbekalannya, buku buku yang ia bawa hanya buku filsafat, sastra, dan pemikiran pemikiran filsuf besar seperti Leo Tolstoy dan yang lainnya.

Satu satunya buku yang berkaitan dengan dunia yang ia masuki, hanya sebuah buku yang yang menerangkan beragam jenis tanaman local beracun yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Tidak ada yang dapat menentukan secara pasti mengapa McCandless melakukan perjalanan yang begitu extreme, dan pada ujungnya malah merenggut kehidupannya sendiri.

Namun dari buku Into The Wild karya John Krakauer yang fenomenal itu, perjalanan McCandless membelah jalanan Fairbanks, Alaska, menjadi bagian dari kelompok Gipsy, bekerja di penggilingan gandum, berjalan jauh menyusuri jalan dengan ransel dan celana pendek, adalah wujud dari kekecewaannya terhadap lingkungan yang mejadi latar belakangnya.

Ayah dan Ibu Alex Supertramp adalah pasangan yang sukses, ayahnya bekerja dan menjabat posisi penting di kantor NASA, dan ibunya adalah seorang sekretaris dari sebuah prusahaan pesawat terbang. Namun seperti banyak istilah, uang mungkin bisa membuatmu senang, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Dan itu pulalah yang terjadi pada McCandless, ia merasa kehidupan yang ada disekelilingnya hanya sebuah ritme kosong yang berisi banyak kepura puraan.

Alex adalah seorang sarjana sejarah dan anthropology, jadi tentu pemahamannya tentang sosial, hubungan antar manusia, dan pengaruh lingkungan dalam tatanan masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Namun yang juga perlu digaris bawahi, bahwa gelar sarjana yang diperoleh Alex adalah melalui materi dan teori dalam kuliah, adalah berdasarkan pemikiran, dan buah renungan dari para sosiolog yang ia baca dari banyak buku dan tulisan, dan bukan pengalamannya secara pribadi. Sedangkan kita tahu, guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman.

Trial and error, do and fail, try and try again, adalah sebuah rel kereta waktu yang mestinya menjadi banyak tolak ukur seseorang dalam menilai dan mengambil keputusan.

Tapi kita tahu, Alex masih muda, ia memang terdidik jenius, namun hanya ia belum cukup kenyang memakan asam garam kehidupan. Jadi ketika, keadaan yang ia temukan dalam lingkungannya tidak sejalan dengan falsafah hidupnya, Alex berontak, ia keluar dari zona itu, dan mencari kehidupan lain yang membuatnya lebih merasa sebagai seorang manusia bebas merdeka.

***
Masih ingat dengan tokoh Beck Weathers dalam film Everest yang lagi marak saat ini, masih ingat dengan apa yang ia katakan tentang alasannya mendaki gunung..?

“.. Dalam kehidupan, saya merasa ada awan gelap yang terus mengikuti kemana pun saya pergi, dan hanya di gunung saya menemukan obatnya…”.

Begitu pula dengan McCandless saya kira, saat kehidupannya seolah hanya sebuah manekin yang tak mempunyai jiwa, ia mencari obatnya.

Maka di sanalah ia menemukan terapinya, mendapatkan obatnya, dalam langkah kaki bersepatu boots menyusuri alam liar, dalam deburan ombak pantai dengan sebuah buku di senja kala, dalam kayuhan paddle kayaknya menyusuri sungai yang panjang, dalam nyanyian berisik orang orang yang Gipsy yang tak memiliki teritori, dalam gemuruh mesin gilingan gandum dan debu yang beterbangan, dan dalam dekapan hutan liar Alaska yang tak memiliki rasa kasihan.

Di sana, di sanalah McCandless menemukan ketenangan jiwanya.

Jadi terlalu kejam jika ada seseorang menilainya dengan sebutan “ seorang anak muda romantic yang mencari jati diri, berjalan ke Alaska hanya untuk bunuh diri..”.

McCandless bukan orang bodoh, jika ia tak faham ilmu survival di alam liar, bagaimana mungkin ia bisa bertahan di tengah belantara, hanya dengan 2 liter beras selama lebih dari tiga bulan.

Ya, Chris McCanldless adalah cerita yang menarik, alasannya bertualang adalah sebuah alasan yang patut mendapat rasa hormat, bukan hanya sebuah keinginan untuk melakukan selfie kemudian membagikannya di sosial media, untuk mendapatkan like dan memperoleh coment.

“.. wow indahnya, dimana tuh…?”

MTMA adalah sebuah slogan yang keren, slogan yang sekaligus menggerakkan banyak orang ke alam dan bertualang. Namun alangkah sayangnya jika sebuah perjalanan hanya sekedar ajang persaingan di media sosial untuk menunjukkan “..Hei, I was there, saya pernah di sana…”.

My Trip My Adventure adalah sebuah petualangan yang semestinya melibatkan banyak emosi, perasaan, pemahaman, pelajaran, dan juga perenungan. Melakukan sebuah journey untuk sebuah maksud dan tujuan yang berorientasi pada perkembangan pemikiran dan diri. Jika hanya untuk berselfie ria tanpa mengindahkan nilai nilai yang ada di dalamnya, maka mungkin kata adventure tidak dapat disematkan di sana.

Jadi itu mungkin bukan my trip my adventure, tapi lebih tepatnya, my trip my picnic, just only picnic.

Source; arcopodojournal.com/2015/09/para-penganut-slogan-my-trip-my.html

8 PELAJARAN MENDAKI GUNUNG DARI FILM EVEREST


Gunung Everest memiliki predikat gunung tertinggi di dunia dan menjadi incaran para pendaki untuk menjejakkan kaki. Jon Krakauer, penulis buku sukses "Into Thin Air", buku yang mengisahkan kisah nyata tragedi di Everest tahun 1996_yang juga menjadi inspirasi film Everest (September 2015), mengaku sangat menyesal karena pernah memulai mendaki gunung.

"Pendakian Gunung Everest adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya berharap tidak akan pernah pergi (lagi ke Gunung Everest)," kata Krakauer seperti dilansir NGI dan dikutip dari Huffingpost.

Pengalaman buruk Jon Krakauer saat menjadi bagian dari sejarah bencana pendakian terburuk Everest tahun 1996 itu menjadikannya seperti itu. Ia menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) selama bertahun-tahun dan masih mengalami hingga kini. Walaupun mengalami kondisi demikian, Krakauer mengaku senang dapat menulis buku tentang penderitaan yang ia alami.

Dari legenda yang telah diceritakan dan diceritakan kembali oleh banyak orang dan dari perspektif yang berbeda. Banyak kesimpulan negatif yang ditarik dari cerita-cerita pendakian Everest musim itu termasuk oleh Jon Krakauer, seorang jurnalis dalam penugasan oleh Outside yang juga menjadi salah seorang yang selamat dari tragedi Everest 1996.

Krakauer melihat, kompetisi perusahaan-perusahaan komersial, populasi pendaki yang terlalu memenuhi Everest, menjadi akar permasalahan yang berujung korban jiwa di Puncak Tertinggi Dunia. Namun kejadian ini menjadi pengingat yang dramatis bagi siapa saja yang ingin mengais atau memberi rejeki di Everest. Dari kejadian itu, banyak perbaikan yang telah dilakukan, komunikasi menjadi lebih dapat diandalkan. dan kerja sama di antara pendaki dan perusahaan pendakian membaik, dan secara umum sarana dan infrastruktur sejak perkemahan awal hingga puncak Everest juga memuaskan.

Lantas pelajaran apa yang bisa diambil bagi pendaki yang (masih) ingin melakukan perjalanan ke puncak tertinggi dunia? Film everest menyiratkan pelajaran yang jika dipetik hikmanya bisa membuat kita pulang dengan selamat.

1. Rajin Berolahraga.

Dalam film Everest, tokoh Beck Weathers digambarkan paling bersemangat. Jarang sekali memang orang yang mampu naik Everest masih berusia muda, tapi Beck yang usianya 49 tahun waktu itu ikut dalam pendakian 10 Mei 1996 dan dia salah satu yang bersemangat.

Jauh sebelum berangkat ke Everest, setiap pendaki memang harus terbiasa melatih fisik dengan berolahraga. Beck termasuk yang rajin soal itu, tidak hanya sebelum, selama mendaki Everest dari Maret sampai dengan Mei 1996 kadang ia melakukan latihannya di lokasi perkemahan.

Akibat rajin berolahraga, setiap kali cek kesehatan fisik, kondisi Beck adalah salah satu pendaki yang prima.

Sayang, fit saja tidak cukup, Beck yang belum lama melakukan operasi mata mengalami gangguan di puncak Selatan. Dia pun jadi tidak sampai tuntas menjejaki puncak. Gangguan matanya membuat beck harus kembali turun, namun musibah badai salju itu menerjangnya sehingga ia ikut terjerembab dan sempat tak sadarkan diri.

Tertimbun es salju super-dingin membuat kulit wajahnya terbakar. Namun kondisi badan Beck yang fit membuatnya sanggup untuk berjalan setidaknya sampai ke Kamp ke-4, alhasil Beck salah satu yang selamat .

2. Adaptasi dengan Alam.

Coba perhatikan Jake Gyllenhal saat ia berperan jadi Scott Fischer. Di Kamp pertama, Scott bertelajang dada, padahal dia sedang di daerah pegungan Himalaya.

“Aku sedang beradaptasi dengan alam,” katanya mengingatkan pendaki lain agar menyesuaikan tubuh dengan kondisi alam.

Mungkin tidak harus telanjang dada seperti Scott yang sudah terbiasa dengan pegunungan, tapi adaptasi lain adalah membiasakan tubuh rileks di lokasi tempat kita hidup sekarang. Bagaimana caranya, tubuh kalian akan berusaha berfungsi. Jadi cobalah membuat nyaman dan mengontrol diri sendiri.

3. Saling Berkenalan.

Sudah lumrah, di kalangan pendaki, mereka saling mengenal satu sama lain. Selain untuk mengontrol siapa saja yang masih bertahan dan yang bisa naik sampai puncak. Mengenal seseorang lain juga membantu pendaki saling menjaga emosi dan komunikasi.

Di film Everest, memang tidak direncanakan sebelumnya kalau Tim Rob Hall dan Scott Fischer harus dalam pendakian yang sama. Kenal dengan rekan satu grup sudah kewajiban, namun dengan rekan grup lainnya kenapa tidak? Kita tidak tahu siapa orang yang akan menolong kita jika benar-benar dalam kesusahan.

4. Oksigen itu Penting.

Pendaki berpengalaman kadang merasa sanggup melakukan hal yang sama dengan pendakian mereka sebelumnya. Terlebih saat turun dari puncak membuat pendaki seperti ini ogah membawa tabung oksigen tambahan karena dianggap beban atau memang tidak benar-benar membutuhkannya.

Namun siapa yang bisa mengira jika pendaki lain lebih boros dalam menggunakan oksigennya sehingga tabung mereka habis lebih awal. Kita yang masih fit mungkin bisa langsung ngegelosor ke bawah, tapi yang lain belum tentu.

Yang paling parah, sudah tahu hidup di ketinggian bakal membutuhkan oksigen, namun kadang ada saja yang mengesampingkannya. Orang-orang seperti ini tentu belum bisa dikatakan siap mendaki Everest.

Bawalah oksigen yang terisi penuh. Pertama untuk kebutuhan sendiri, kedua untuk kondisi tak terduga, baik untuk menolong diri sendiri lagi atau untuk orang lain. Mungkin saja oksigen yang sudah disiapkan tidak terpakai, tapi persiapan adalah setengah dari kemenangan, bukan? Dan niat baik sudah mencatatkan pahalanya sendiri.

5. Menjaga Isi Kepala.

Kadang hidup di ketinggian membawa seseorang dalam lamunan. Hal mistis pun bisa saja terjadi, dimanadengan tiba-tiba konsentrasi kita buyar. Kondisi ini biasa menyerang orang-orang yang dalam kelelahan, atau ketakutan sangat, termasuk juga yang kekurangan oksigen.

Di film Everest, kita diperlihatkan tokoh Doug yang hilang konsentrasi sehingga ia tidak sanggup lagi mengikat tali temalinya saat menuruni puncak. Harold pun begitu, dia sudah membawa oksigen, namun ketakutan akan badai salju yang menerpanya membuat isi kepalanya kosong. Dia sempat pingsan, lalu setelah tersadar, sayangnya dia linglung dan merasa kalau udara di gunung menjadi sangat panas, karena itu dia pun melepas jaketnya dengan tergesa-gesa sampai-sampai ia limbung dan terjatuh dari puncak kecil di Everest Selatan.

Naik gunung bukan cuma melatih kesabaran, tetapi juga menguji kepala kita tetap bekerja atau tidak. So, keep thinking, guys!

6. Sarung Tangan.

Selain menjaga pikiran dan asupan oksigen, Everest mempunyai suhu udara di bawah nol derajat celcisus. Tubuh yang belum terbiasa akan rentan terserang hipotemia atau bahkan lebih bahaya dari itu.

"Manusia memang tidak dibangun untuk berfungsi pada ketinggian jelajah melebihi dari pesawat Boeing 747," kata Rob mengingatkan bahayanya Everest jika sudah melewati ketinggian 8000 mdpl.

Namun kita bisa menjaga seluruh bagian tubuh kita sehingga tetap dialiri darah dan menjadikan mereka tetap hangat. Caranya selain menjaga gerak masing-masing tubuh, bagian tubuh yang memilikitulang tipis seperti jari tangan, jari kaki, telinga dan hidung harus tetap difungsikan atau dilindungi sebagai mana mestinya.

Jika jari kaki tertutup sepatu yang nyaman, telinga di tutup kupluk, hidung dengan masker, maka menjaga jari tangan adalah dengan sarung tangan. Ini penting. Pasalnya selama mendaki, tangan ini akan menopang banyak hal dan melakukan kegiatan melimpah. Jadi saat ia diam, dan suhu diingin merambat, dia akan membeku lalu terbakar dan bisa saja putus.

Seperti kejadian Beck yang saat terjerembab di salju, mukanya dalam keadaan terbuka tanpa masker, dan sarung tangannya sedang tidak terpakai. Dia kuat berjalan ke Kamp saat sudah kembali sadar, tapi tangannya sudah beku, hidungnya sudah terbakar. Beck kini sudah tidak punya hidung dan jari tangan lagi.
Mau?

7. Komunikasi dengan Keluarga.

Tujuan mendaki sebenarnya bukan cuma ingin sampai ke puncaknya, melainkan secara utuh mereka menginginkan titik awal, yaitu rumah.

Meski sebagian pendaki mengaku kalau mereka melakukan semua itu hanya untuk diri mereka sendiri. Di hati kecilnya, setiap pendaki menginginkan pulang. Sama seperti Astronot yang punya misi sampai ke bulan, namun yang terpenting dari mereka adalah memikirkan bagaimana caranya kembali ke bumi (rumah) dengan selamat.

Nah dalam film Everest, lagi-lagi tokoh Beck termasuk yang rajin menjaga komunikasi dengan keluarganya, terlebih istri dan anak-anaknya. Dengan begitu, ada alasan dan semangat buat kita untuk kembali ke mereka yang sayang sama kita. Berkat menjaga komunikais yang baik, Beck mendapat bantuan nyata sehingga ia ada dalam penjemputan helikopter yang dalam film ini masuk dalam scene yang menegangkan.

8. Selebrasi di Puncak.

Beberapa pendaki akhirnya sukses berada di puncak ketinggian dunia. Untuk merayakan keberhasilan ini tidak usah berlebihan. Cukup keluarkan kamera dan bendera _jika membawanya, lalu ikat baik-baik sebab angin di atas sangat kencang.

Tidak perlu berlama-lama, sebab selain tidak diperkenankan berlama-lama di sana karena antrean, waktu turun pun sudah menunggu. Telat sedikit, maka terpaan cuaca yang datang bisa saja menimbulkan risiko yang besar.

Jangan menghabiskan persediaan bekal dan tenaga kita hanya untuk puncak. Seperti tujuan di awal, selain puncak, pulang ke rumah adalah tujuan selanjutnya. Jadi sisakan tenaga dan bekal seperlunya untuk kita turun dan sampai ke titik awal.

Source; hai-online.com/Feature/Movie/8-Pelajaran-Naik-Gunung-Dari-Film-Everest

10 DASAR BERTAHAN HIDUP DI ALAM BEBAS

Bertualang di alam bebas merupakan hal bagus yang dapat kamu lakukan untuk refreshing pikiran, melatih kekuatan fisik, dan juga mendekatkan diri pada alam. Namun, yang perlu diingat, selain mendatangkan banyak manfaat, bertualang di alam bebas juga punya banyak resiko bahaya yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Cuaca ekstrim, tanaman beracun, serangan hewan liar, dan tersesat di hutan adalah beberapa contoh bahaya yang bisa saja datang menghadang.


Untuk itu, kamu perlu tahu 10 dasar bertahan hidup di alam yang bakal menyelamatkan dirimu jika menghadapi bahaya saat beraktivitas di alam bebas.

1. Beritahu Orang Lain Kemana Kamu akan Pergi, Minimal Orang Terdekatmu.

Jika kamu telah punya rencana untuk bertualang dalam waktu dekat, cobalah untuk memberitahukan rencana perjalananmu kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, teman nongkrong, ataupun tetangga. Beritahukan detail-detail penting mengenai perjalanan yang akan kamu lakukan, seperti destinasi tujuan petualanganmu, kapan kamu berangkat dan kapan akan pulang, apakah kamu pergi sendiri atau bersama kelompok. Dalam kondisi dimana kamu tidak kembali pulang tepat waktu, misal karena alasan cedera atau tersesat, seseorang akan tahu dan segera menghubungi pihak-pihak yang berwenang untuk mengirimkan regu penyelamat. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun sangat penting, dan bisa menyelamatkan hidupmu.

Pernah Menonton film 127 hours? Jika pernah, kamu pasti tahu betapa menyesalnya Aaron Rolston yang harus berjuang sendirian menyelamatkan hidupnya, karena pergi bertualang tanpa memberitahu siapapun.


2. Jangan Melawan Kekuatan Alam.

Jangan sekali-kali meremehkan kekuatan alam, sadarilah jika manusia memang lebih sering kalah dari alam raya. Jika suatu waktu kamu telah berencana untuk pergi bertualang, semua persiapan sudah beres dilakukan, namun tiba-tiba ada kabar tentang badai besar atau cuaca buruk di tempat yang akan kamu tuju, jangan ragu untuk menunda perjalananmu. Memaksakan diri bisa berakibat fatal, hargailah keselamatan dirimu dengan lebih baik. Pulang kembali ke rumah bukan berarti kalah, namun sebuah langkah bijak demi keselamatan diri.


3. Membawa Peralatan Keselamatan.

Pastikan peralatan survival seperti pisau saku, kompas, dan peta berada dalam daftar teratas barang bawaanmu. Dan pastikan juga kamu menguasai cara penggunaannya dengan baik dan benar. Jangan lupa juga untuk membawa peralatan P3K, korek api cadangan, serta tambahan air dan makanan. Peralatan survival bakal membantu kamu manakala menghadapi kondisi yang tak diinginkan, seperti tersesat di tengah perjalanan. Peralatan P3K bakal menolongmu saat menghadapi resiko cedera dan kecelakaan, sedangkan tambahan air dan makanan dapat memperpanjang nafas hidupmu manakala harus tertahan di alam bebas untuk waktu yang lebih panjang.


4. Berhati-hati dengan Hewan Liar.

Tak bisa dihindari, saat bertualang di alam bebas, kita bakal bertetangga secara langsung dengan beragam hewan liar. Ingatlah kenapa mereka disebut hewan liar, jangan sekali-kali mencoba mendekati mereka. Serangan dari hewan liar seperti macan tutul, macan kumbang, babi hutan, dan hewan lainnya memang sangat jarang terjadi, namun bukan berarti tak mungkin terjadi. Maka dari itu, berusahalah untuk menghindari kontak dengan hewan-hewan tersebut dengan selalu menjauhi wilayah mereka. Selalu berjalan pada jalur pendakian yang sering digunakan, dan dirikanlah tenda hanya di shelter-shelter yang telah tersedia. Itu merupakan langkah dasar untuk menjauhi ancaman serangan hewan liar.


5. Tetap Tenang dan Buat Sebuah Rencana.

Kepanikan akan sangat mudah datang manakala kamu dan seluruh anggota kelompokmu mulai sadar telah kehilangan arah alias tersesat. Namun kamu perlu ingat baik-baik jika hal penting yang harus dilakukan dalam kondisi seperti itu adalah berusaha untuk tetap tenang. Kepanikan bakal membuat kamu mengambil langkah ceroboh yang bisa menyebabkan kondisi semakin buruk. Hentikan perjalanan, dan cobalah untuk tetap tenang, agar pikiranmu tetap jernih untuk menyusun rencana-rencana agar bisa segera keluar dari situasi tersesat. Tentukan langkah dengan bijak, apakah akan mencari sumber air terlebih dahulu, atau segera membangun shelter dan membuat api sebagai sinyal untuk mencari pertolongan. Selanjutnya diskusikan setiap rencana dengan baik dan tenang agar secepatnya bisa keluar dari kondisi buruk tersebut.


6. Usahakan untuk Tetap Terlihat.

Kenapa seragam kelompok-kelompok pecinta alam atau tim SAR punya warna-warna yang mencolok? Pastinya agar mereka tetap terlihat saat berkegiatan di alam bebas, sehingga saat kondisi buruk terjadi, misalnya ada anggota yang tersesat, pencarian korban akan lebih mudah untuk dilakukan. Coba bayangkan jika seorang yang tersesat memakai baju berwarna hitam, atau hijau yang serupa dengan dedaunan, tentu pencarian korban bakal lebih sulit dilakukan. Lalu, jika kamu tersesat di hutan, cobalah untuk menuju ke tempat terbuka yang lebih tinggi –ini penting karena orang seringkali secara reflek pergi ke tempat yang lebih rendah saat tersesat- agar tim penyelamat lebih mudah untuk menemukanmu.


7. Buat Sinyal atau Tanda untuk Mendapatkan Pertolongan.

Mencari pertolongan adalah salah satu langkah penting yang harus dilakukan manakala kondisi buruk datang menghadang, namun tentunya kamu harus memikirkan cara untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. Jika handphonemu masih punyak cukup daya, cobalah untuk mencari sinyal untuk dapat menghubungi pihak-pihak yang bisa dimintai pertolongan. Kemudian, buatlah api unggun di tempat yang kira-kira bakal terlihat dari kejauhan sebagai penanda posisimu agar memudahkan tim pencari untuk menemukan dimana kamu berada, namun perhatikan juga jangan sampai api yang kamu buat malah menyebabkan kebakaran. Membawa peluit juga sangat disarankan sebagai bantuan lain untuk memberitahukan posisimu. Belajar sandi morse juga bukan ide buruk, itu akan sangat berguna.


8. Menemukan Sumber Air.

Kamu dapat bertahan hidup selama sebulan tanpa makanan, namun hanya 3 hari jika tanpa air. Maka dari itu, jika tiba-tiba petualangan seharimu berubah menjadi petualangan panjang karena tersesat, hal yang paling penting untuk dipikirkan adalah memastikan jumlah persediaan airmu cukup. Untuk itu, kamu perlu menemukan sumber air terdekat dari posisimu saat tersesat. Jika tak menemukan sumber mata air atau sungai, kamu bisa mencoba alternatif mendapatkan air dari pohon pisang, embun di dedaunan, atau tanaman merambat seperti rotan. Mendapatkan air di kawasan hutan tropis cukup mudah dilakukan, kamu hanya harus mempelajari agar tahu cara mendapatkannya. Jika kamu punya penyaring air atau water purifier, akan lebih baik untuk menyaring dulu air yang kamu dapatkan agar lebih higienis dan aman dari penyakit.


9. Membuat Shelter Sebagai Tempat Berlindung.

Jika kamu menyadari bahwa kamu telah tersesat cukup dalam dan butuh waktu cukup lama agar dapat ditemukan tim penyelamat, hal penting lainnya yang harus kamu lakukan adalah membangun shelter sebagai tempat berlindung. Jika kamu membawa tenda, segera dirikan di tempat aman dan nyaman yang telah kamu pilih untuk menunggu bantuan. Jika tak ada tenda, bisa gunakan ponco, jas hujan, atau plastik sampah untuk membuat bivak darurat. Jika tak ada peralatan tersebut, terpaksa kamu harus membuat bivak alam sederhana. Membangun shelter sangat penting dilakukan, agar tubuhmu tetap terlindung dari panas, hujan, dingin, atau serangan hewan.


10. Jangan Menyerah dan Teruslah Berusaha.

Dan terakhir, yang paling penting untuk diingat adalah terus berusaha, motivasi dirimu agar jangan sampai menyerah. Dalam kondisi buruk, mental manusia manapun pastinya bakal mudah turun dan pikiran akan mudah menjadi kacau, namun cobalah untuk mengendalikannya, jangan biarkan emosi yang mengendalikanmu. Beranikan diri untuk membuang rasa takut dan terus berusaha untuk keluar dari situasi buruk yang sedang kamu hadapi.

Hidup itu sangat berharga, seburuk apapun keadaannya, sekecil apapun peluangnya, akan selalu ada harapan untuk selamat yang bisa kamu perjuangkan dengan sekuat tenaga.



MENU MAKANAN SAAT MENDAKI GUNUNG



Satu hal yang gak bisa dipisahkan dari kegiatan mendaki gunung adalah makanan.

Menu makanan naik gunung sebenernya gak serumit yang dibayangkan, terutama buat ngana-ngana yang baru akan naik gunung biasanya agak heboh sedikit soal makanan, kayak:

"Aduh, aku bawa apa yah?" kata si X sambil ngerol jilbab

"Aduh, aku gak bakal makan deh, takut eek." kata si B sambil bikin alis

"Girls, hello-hello-helloooooowww gak usah ribet keleus, naik gunung mah makannya mie instan ajha!" kata si W sambil cebok

Kemudian X dan B saling ber-iyuuuwhhh, lalu melipir, dan nutup idung.

Nah, makanan buat kegiatan mendaki gunung ini emang susah-susah gampang. Kalau bawa mie instan melulu, rasanya kok ya ada yang salah. Bawa yang lain-lain, rasanya kok ya jadi berat dan ribet. Belum waktu masaknya segala macem. Jadi serba salah ya?

Okay, daripada keribetan, gua mau share sedikit soal apa aja sih menu makanan naik gunung dan biar pendakian jadi lebih menyenangkan. Kalau udah senang, kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius. Meniqa misalnya.

1. Beras/Nasi.

4 sehat 5 sempurna kayaknya dimulai dari karbohidrat. Karbohidratnya orang Indonesia biasanya nasi. Nasi dimulai dari beras. Nah, biasakan membawa beras ke gunung buat karbohidrat yang dibutuhkan tubuh. Gak usah bawa sekuintal. Bawa aja masing-masing per orang di rombongan segelas, jadinya lebih enteng. Eh, disesuaikan juga ding sama jenis gunungnya, sesuaikan sama berapa kali makan.

Kelebihannya, bawa beras itu makan jadi enak, karena nasi selalu enak buat dimakan dan dipadukan sama apapun. Asal jangan sama tai kambing. Atau segala jenis tai-taian. Lalu tentu aja jauh lebih kenyang.

Kekurangannya, waktu masak agak lumayan lama. Belum lagi kalau yang masak mba mba kekinian, biasanya gosong atau minimal keras jadi kerak, lu mamam dah tuh nasi keras. Karena masak nasi di gunung pake nesting itu perlu keahlian khusus. Oiya, konsumsi air juga lumayan banyak buat masak beras agar jadi nasi ini.

Biasanya, buat menyiasati ini, sebelum nanjak, belilah nasi mateng di warung terdekat gunung beserta lauk pauknya (terutama lauk pauk yang gak mudah basi), nasi dan lauk pauk dipisah. Jangan disatuin, ntar mereka saling jatuh cinta.

2. Chicken Nugget, Chicken Wings, Bakso, dan Sosis.

Empat jenis makanan instan ini adalah pilihan yang boleh dibilang enak, lezat, praktis, dan cucok banget buat dibawa ke gunung. Despite of pengawetnya yang bejibun, ya udah lah ya, kan enak inih wkwk. Selain enak, segala jenis makanan ini juga paling gak punya nutrisi yang boleh dibilang cukup buat perjalanan kita menembus hutan menapaki bebatuan.

Kelebihannya, makanan ini tentu aja enak. Cocok dipadu-padankan dengan nasi. Dicemilin juga pasti enak.

Kekurangannya, biasanya cepat basi, karena kebanyakan makanan ini frozen food alias musti ditaro di kulkas dengan suhu sekian. Seringnya cepat menghilang dicemilin pas lagi dimasak. Jadi belum mateng semua, pas lagi jamnya makan, nuggetnya udah bubar kemana tau. Menghabiskan cukup banyak minyak goreng, jadi agak rempong karena kita harus bawa bawa minyak lebih kalau bawa makanan ini (kecuali bakso).

3. Spaghetti dan Mie Instan.

Gak jauh beda sama Mie Instan, spaghetti sebenernya ya mie-mie juga cuma ala-ala itali dan jauh lebih berasa enaknya karena saos ala-ala bolognese yang bikin mie ini jadi lebih sedap. Ditambah jauh lebih kenyang daripada mie instan.

Kalau dibandingin sama mie instan, ibaratnya, kelas sosialnya beda lah. Kalau spaghetti itu mie ala ala sosialita, kalau mie instan ala ala mie rakyat pada umumnya. Meskipun sama-sama enak.

Kelebihannya, spaghetti itu... enak. Mie instan itu.... enak banget. Apalagi kalau dicemilin gak pake dimasak, dijadiin ala-ala mie kremes, wuih! Endes! Tapi ya siap-siap aja tingkat kebegoannya nambah. Eh, kremes-kremes tadi cuma berlaku di mie instan ya. Tapi kalau penasaran mau cobain spaghetti di kremes juga boleh, mungkin rasanya kayak lidi-lidian tapi tebel.
Kekurangannya, baik spaghetti maupun mie instan, rasanya sama-sama ngabisin air buat masak. Khusus buat mie instan, dia juga ngabis-ngabisin space di keril, apalagi kalau bawanya banyak. Meskipun keduanya dipercaya bisa mengenyangkan dan mempunyai nutrisi (terutama karbohidrat) yang cukup, tapi you know lah, kebanyakan makan mie kan gak baik buat kesehatan.

4. Sayur Sop.

Salah satu makanan kesukaan yang akhir-akhir ini gak pernah lupa gua bawa pas mendaki gunung: sayur sop. Yes, sayur sop.

Menurut gua, lauk yang satu ini lauk paling simpel yang pernah ada di muka bumi ini dan wajib banget dibawa-bawa pas naik gunung. Cukup bawa sayur-mayur sesukanya, potong-potong gak jelas, rebus, kasih bumbu masak, banyakin merica, ceplokin telor juga mantep, dalam sekejap langsung mateng!

Oh, i love sayur sop!

Kelebihannya ya itu tadi, mudah dibawa dan ditemukan, mudah dimasak, enak serta bernutrisi. Kekurangannya, namanya sayur mayur, terutama kentang mentah sama wortel, dua sayuran itu bakal bikin makin berat keril. Sayuran sisanya mudah busuk.

5. Tempe.

Ini juga, makanan kesukaan gua banget! Siapa yang gak suka tempe coba?

Meskipun tempe dibuat dengan cara diinjek-injek oleh abang-abang pembuatnya. Meskipun kita gak tau itu abang-abang kena panu kadas kurap apa gak. Meskipun kita gak tau itu abang ada kutilnya aa gak. Meskipun kita gak tau.... udah Cen, cukup. Malah jadi jijik huek.

Iya, meskipun apalah-apalah, tempe tetap yang terbaik. Digoreng jreng tanpa bumbu ya enak-enak aja. Digoreng pake direndem dalam bumbu dulu ya pasti asin-asin enak. Duh, jadi kangen makan tempe goreng.
Kelebihannya, jelas, enak, mantap, pakein sambel rasanya lebih juara, dan penuh nutrisi. Kekuranganya, cepet busuk, jadi rasanya cepet berubah kalau kondisinya udah gak prima.

6. Sop Instan.

Seperti segala yang instan-instan, sop instan rasanya jauh lebih advance dari sop sayur bikinan sendiri. Lebih enak tentunya dengan banyak pilihan, kayak sop jagung, sop cream, dan lain-lain.

Kelebihannya tentu aja lebih simpel, ringkes, dan sangat menghemat space di keril. Kan bentuknya cuma sachet, tinggal disiram air panas, cusss, langsung mateng. Kekurangannya, segala sesuatu yang instan, gak pernah baik bukan?

7. Roti.

Makanan ini kayaknya wajib ada musti banget di keril masing-masing personel di rombongan. Selain menghasilkan tenaga instan dan cukup mengenyangkan, at least dengan makan roti di gunung akan membuat kita serasa bule yang menjadikan roti sebagai bahan makanan pokok dalam hidupnya.

So, jangan tinggalkan roti kalian.

Kelebihannya, roti bisa dibikin apa aja, sandwich isi apapun bisa, dimakan langsung bisa, digoreng bisa, dipanggang bisa, dibakar bisa, buat cebok juga bisa kalau gak ada tisu (baca: Penderitaan Pribadi)

Kekurangannya, roti ini.... kayaknya gak ada deh.

8. Kering Kentang/Tempe

Another makanan instan-tapi-sehat yang layak banget buat dibawa-bawa ke gunung. Selain lebih awet secara alami, bawa-bawa ginian juga lebih enteng. Bisa dicemilin, juga bisa dijadikan makanan berat bersanding dengan nasi dan si dia.

Kekurangannya, nyuruh keluarga masakin itu agak ribet, terutama gua yang keluarganya jauh entah dimana. Mau beli di warteg, tapi gakk semua warteg jual. Kelebihannya... banyak! Yang lebih mahal juga banyak!

9. Ayam Ungkep.

Seriusan, ayam yang udah di ungkep itu enak banget! Maksudnya, ayam ungkep, trus digoreng pas di gunung. Sumpah, it feels like... ayam-ayam restoran! Kayak ada manis-manisnya gitu. KFC lewat!

Cuma PR-nya ya gitu, ribet ngungkep ayam sebelum nanjak. Tapi kayaknya beli di pasar yang udah diungkep juga banyak. Kekurangannya, ngabisin minyak goreng juga. Kelebihannya, ENAK BANGET!

10. Buah-buahan, Minuman Rasa-Rasa, dan Segala jenis coklat.

Gua pernah, waktu lagi di Sindoro, ada seorang teman, sebut saja bang Amar, dia bawa-bawa buah (kalo gak salah apel) dan dia membaginya pada saat-saat kami break. You know what, itu rasanya kayak apel terenak dalam hidup gua!

Lalu, hampir setiap nanjak gua bawa buah-buahan lagi, dan... sumpah, itu buah-buahan terenak dalam hidup gua! Semuanya! Lejat! Endeus! Endiduls!

Sama kayak minuman rasa-rasa, dimulai dari teh-tehan, pocari sweat, marimas, jasjus, ya Tuhan, itu air dan buah kayaknya jadi dingin sendiri gitu pas di gunung. Lebih segar dan bermartabat.

Kalau minuman sih gua lebih suka hydro coco karena sering gua jadikan rewards pas nanjak (baca: tips tetap kuat mendaki gunung)

Yang gue sebut tadi semua kelebihannya, kekurangannya cuma satu kata; BERAT!

11. Jelly.

Yang ini ada dalam banyak bentuk. Sachetan pake dimasak dulu. Atau yang udah jadi. Kalau sachetan, jangan lupa beli yang udah pake gula sekalian, PR banget soalnya kalau yang belum pake gula, selain jadi nambah-nambahin beban, rasanya bakal lebih gak enak.

Kelebihannya jelly adalah bisa paling gak nahan haus, karena jelly kan ada air-airnya gitu. Nahan laper juga kalo kata Oky. Kekurangannya sih cuma satu, kalo kamu eek-nya lancar kayak gua, bisa makin lancar. Kalau yang gak lancar, siap-siap aja.

12. Kopi & Coklat, dan lainnya.

Terakhir yang gak boleh lupa.

KOPI!

Atau coklat. Atau energen. Atau apapun minuman sachet. Selain lumayan buat iseng-iseng di malam hari, buat anget-anget juga, bisa juga buat bahan ngegebet tetangga sebelah tenda. Kan mayan, berawal dari nawarin kopi, kali-kali ditawarin hati. Ye gak?

Nah, mungkin itu aja menu makanan (dann minuman) naik gunung dari gua.

Ada yang mau nambahin?



3 ALASAN MENGAPA JOMBLO TIDAK BOLEH MENDAKI GUNUNG

Beberapa bulan lalu, negeri jomblo kembali berduka cinta cita—Eri Yunanto (21), mahasiswa Atmajaya Yogyakarta, jatuh ke kawah Merapi. Eri jatuh saat hendak turun dari Puncak Garuda, puncak tertinggi dan menjadi simbol kebanggaan para pendaki Merapi. Kepergian Eri turut pula mengingatkan saya kepada Gie, salah satu tokoh jomblo revolusioner negeri ini.

Soe Hok Gie, atau biasa disapa Gie, meninggal di Gunung Semeru tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-26. Seorang anak muda berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya. Jika kalian sudah membaca catatan yang ditulis oleh Gie, betapa Catatan Seorang Demonstran merupakan buku yang wajib dibaca oleh para jomblo revolusioner.

Dalam kurun waktu terakhir, saya menyaksikan berbondong-bondong anak muda pergi ke gunung. Entah ingin mencari kesunyian atau sekadar ingin jalan-jalan, mengusir penat dengan cara selfie dan menunjukkan ke khalayak ramai: untuk kamu, kapan naik gunung sama aku?

Ah, rasa-rasanya saya ingin mengutuk diri saya sendiri. Sebab sebagai anak muda yang kesepian, saya lebih ingin menziarahi sepi ini ke pantai daripada ke gunung. Lalu bersama desir angin dan suara debur ombak, saya bacakan sebuah kalimat yang ditulis oleh Gie (Catatan Seorang Demonstran, Selasa 11 November 1969), “Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.” Sebuah kalimat yang lebih cocok ditujukan kepada mantan-mantan saya daripada ke tempat yang sepi, bahkan di depan gedung MPR-DPR sekalipun.

Sebelum saya makin melankolis, berikut alasan mengapa jomblo tidak boleh naik gunung:

1. Bahaya.

Mungkin Nietzche telah berhasil mengubah paradigma para jomblo jelata tentang mendaki gunung. Ya. Ia telah berhasil menjawab pertanyaan yang dibuat sendiri dalam puisinya yang berjudul Naik, “Kiat terbaik mendaki gunung? Naik saja! Jangan direnung!” Ya, naik saja, jangan direnung! Tapi tahukah kalian bahwa seorang jomblo revolusioner tak boleh menelan kalimat bulat-bulat? Mengenal Nietzche paling tidak harus lebih dahulu membaca buku-buku filsafat, minimal ya filsafat ketuhanan.

Mendaki gunung pun sama seperti membaca buku filsafat ketuhanan. Bahaya. Kalau akal tak sampai, bisa jadi berbalik dan membikin diri menjadi gila. Ini lebih berbahaya daripada mati pelan-pelan karena mantan tak mau diajak balikan. Oleh karena itu, seberapa besar nyalimu mendaki gunung, kegiatan macam ini sungguh-sungguh berbahaya. Yang lebih berbahaya yaitu jika kamu mendaki gunung sambil mengajak selingkuhan, lalu ternyata si pacar juga sedang mendaki bersama teman-temannya. Kamu serta selingkuhanmu bertemu dengan pacarmu, jangankan sampai di puncak, baru mau buka tenda saja kalian telah terperosok ke dalam jurang kecerobohan.

2. Boros kantong.

Dari info yang saya dapat, baik lewat fitur mesin pencari maupun teman-teman yang baru-baru ini mendaki Semeru, perkiraan biaya untuk menjamah Semeru pulang-pergi dari Jakarta sekitar limaratus ribu rupiah. Bayangkan, Mbloo. Kamu perlu mengeluarkan uang sekitar setengah juta hanya untuk (mungkin saja ya) selfie di atas gunung. Mau jomblo jelata mau jomblo sosialita, tentu uang segitu banyak lebih mulia bila disumbangkan ke panti jomblo.

Sebagai seorang jomblo yang hidupnya serba ‘ekonomis’, kegiatan mendaki gunung sudah sepatutnya mendapat nomor urut sekian ribu. Jangankan mendaki gunung, wong ngajak makan gebetan sekaligus jalan-jalan saja mesti dipikir matang-matang. Belum lagi buat makan sehari-hari, bayar cicilan rumah (kalau punya), juga menabung untuk biaya nikah nanti (kalau masih kepengin nikah). Harga kebutuhan sudah pada naik, tapi pajak masih juga jadi tanggungan rakyat. Memang rakyat wajib bayar pajak. Tapi kalau pajaknya malah masuk ke kantong-kantong orang bejat, gimana?

Ya, jangankan buat mendaki gunung. Buat patungan menggelar demo di depan gedung MPR-DPR saja susahnya minta ampun.

Yakinlah, Mbloo. Jalan revolusi bukan terletak pada seberapa berani kamu menaklukkan gunung-gunung tinggi dan tebing-tebing curam. Tapi seberapa mampu kamu mengikhlaskan kepergian mantan. Ikhlas karena barang-barang yang telah diberikan berasal dari uang tabungan, bahkan harus rela menjahit kembali luka akibat boros kantong.

3. Di gunung tak ada Chelsea Islan.

Ya Tuhan… Betapa senyuman Chelsea Islan mampu menggantikan pemandangan di atas puncak. Tapi sayang, kita takkan menemuinya sekalipun ia sedang syuting di gunung. Seakan ada jarak yang membentang luas selayak Sungai Bengawan Solo yang panjangnya lebih panjang dari penderitaan seorang jomblo.

Jadi masih mau ke gunung? Tak ada Chelsea Islan di sana, Mbloo. Jangankan Chelsea Islan, dedek-dedek gemes JKT48 juga tak akan kau temui di gunung sana. Ha? Apa? Maudy Ayunda? Apa lagi! Sudah, pokoknya mereka cukuplah jadi pahlawan jomblo di dunia maya. Karena pada kenyataannya, seperti Gie bilang, “Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.”

Eh, bacanya jangan pake serius banget gitu, mblo!



17 TIPE PENDAKI GUNUNG


Di dunia pendakian ini ada banyak orang dengan beragam sifatnya yang bisa diklasifikasikan menjadi jenis-jenis pendaki tertentu. Mau tau apa aja? Cuss, simak langsung tipe-tipe pendaki yang didapat dari survey ACen Nielsen yang terpercaya dan berkelas internasional:

1. Pendaki Nubie.

Pendaki yang satu ini bisa dibilang orang yang belum pernah mendaki tapi niat-banget-pengen-mendaki dan terjun bebas di dunia pendakian. Doi bakalan kerja keras googling sana sini, tanya kanan kiri, demi mendapatkan informasi seputar dunia pendakian dan gunung mana yang akan dia daki pertama kali sesuai dengan kemampuannya. Pendaki nubie bakalan olahraga secara teratur untuk menghadapi pendakian pertamanya. Layak ditiru, pantas dicontoh, dan oke untuk dijadikan panutan.

2. Pendaki Senior.

Namanya juga senior, pendaki jenis ini tentunya udah malang melintang di dunia pendakian, selain karena pengalamannya, tentu aja karena umurnya yang biasanya udah sepuh. Maksudnya tuaan dikit. Sebut aja gunung mana di Indonesia yang belum dia jamah, bahkan mungkin gunung di luar Indonesia pernah dia jajaki.

3. Pendaki Sejati.

Pendaki jenis ini adalah pendaki yang sifatnya down to earth banget. Dia diem-diem aja anaknya, tapi... pengalamannya di dunia pendakian gak usah ditanya. Prinsip-prinsip pendakian juga dia pegang teguh. Survival skill-nya boleh diadu. Kematangan pikirannya boleh dijelajahi. Event-event pendakian macam 7summit, 20 hari 20 gunung, bersih gunung, elap gunung, marathon di gunung, mungkin pernah dia lakukan. Kontribusinya buat alam jangan ditanya. Jenis pendaki ini adalah pendaki yang top markotop dan selalu menerapkan 7 Hal Baik Yang Bisa Dilakukan di Gunung.

4. Pendaki 5cm.

Tipe pendaki ini ditemukan baru-baru aja setelah booming-nya film 5cm. Baru-baru ini makin banyak orang-orang yang maunya dipanggil juple ketimbang nama aslinya, karena merasa sifatnya mirip si Juple. Ada juga yang pengennya dipanggil ian mungkin karena berat badannya sama. Atau Genta? Atau Riani? Atau ah... aku lelah.

Kebanyakan dari para pendaki 5cm ini, menurut yang gue baca, adalah pendaki yang tiba-tiba muncul di event dengan jumlah pesertanya bisa ratusan bahkan ribuan. Sampe sekarang kadang gue masih gak habis pikir, itu mendaki gunung apa umroh sih. Oiya, tentu aja gunung yang incarannya adalah gunung Semeru. Dan serasa di film, kadang pendaki ini asal mendaki aja tanpa persiapan lengkap, kan di film semuanya serba enteng dan happy ending, cyin. But remember, reality bites. *OHOK*

5. Pendaki Rempong.

Pendaki jenis ini punya contoh yang paling dekat, yaitu gue. Tanya sama temen-temen yang udah pernah mendaki bareng gue. Gimana bawelnya gue nanya logistik, ini itu sampai detail. Gimana gue yang mau manjat sehari semalem aja bawaannya kayak mau pindahan rumah. Gimana bawa baju, udah ada serep, masih ada serep lainnya. Gimana.. ah rempong pokoknya!

6. Pendaki Borjuis.

Udah jelas dari jenisnya, pendaki ini adalah kalangan orang-orang berduit. Bisa dilihat dari segala-galanya yang bermerk. Sempak versace, tas gunung gucci, sepatu gunung louboutin, jas hujan indomaret, apapun yang jelas bermerk dan mahal. Dengan uangnya, dia bahkan bisa bayar porter buat gendong dia dari bawah sampe puncak sampe balik lagi. Masalahnya, ada gitu porter yang mau?

7. Pendaki Galau.

Ah udah lah ya, gue males jelasin pendaki model begini. Bawaanya mellow melulu pas manjat gunung. Muka sendu, jalan gontai, dikit-dikit curhat, ah ya gitu deh. Pasti kamu pernah ketemu kok pendaki model begini.

8. Pendaki American-Next-Stop-Model-Wannabe.

Tipe pendaki kayak begini bisa diliat dari kelakuannya yang begitu ketemu pohon bagusan dikit langsung berpose, ketemu batu dikit langsung gaya, bahkan pas lagi boker kalau perlu juga difoto. Pendaki kaya gini kalau pulang dari manjat biasanya ada lebih dari 1000 foto dirinya sendiri baik di kameranya, maupun di kamera temen-temennya.

9. Pendaki Fotografer.

Kalau yang ini kebalikannya dari sebelumnya, kalau dikit-dikit sebelumnya berpose, yang ini dikit-dikit berhenti tiap ada objek bagus yang bisa difoto. Pendaki jenis ini sering tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul, tapi mudah dikenali karena kamera yang (selalu) menggantung di dadanya.

10. Pendaki Vandal-Alay.

Jujur, agak pedih nulisnya, tapi pendaki jenis ini kayaknya musti diberantas, dan dikasi hukuman sosial kalau kita ketemu. Kenapa? Karena pendaki jenis ini adalah pendaki yang demenannya nyoret-nyoret batu, public space, ngukir pohon, dengan kata-kata "was here was here" atau nama-nama geng (ngaku) pecinta alamnya, atau misalnya "gepeng love markonah" dan semacamnya. Selain ngeselin karena dia punya pacar, lebih ngeselin lagi kenapa musti dipamer-pamerin sik. Betek kan?

Oiya, pendaki kayak gini juga nyabut-nyabutin edelweis dan memanennya seolah doi yang udah nanem. Anyway, biasanya sih yang macem begini gak diakuin sebagai pendaki.

11. Pendaki Religius.

Udah jelas dong, kalau pendaki jenis ini bawaannya solat melulu. Ngaji sekalian malah kalau bisa. Tapi pendaki kayak gini yang bikin gue terhenyak dan tersadar, how come dalam kondisi hujan badai pun mereka masih berusaha buat solat, sementara gue udah kekepan di sleeping bag. Aku tertampar sekaligus terharu. Maafkan kemalasan aku, Tuhan~~

12. Pendaki Pria-Punya-Selera.

Jenis ini adalah jenis pendaki yang ngerokoknya kuat banget. Udah bukan rahasia lagi kalau mendaki gunung berhubungan dengan pernapasan yang lancar. Harusnya, perokok sih agak berat buat manjat gunung, tapi buat jenis pendaki ini, rokok justru napas tambahannya!

Anyway, hati-hati ya bro, kesehatanmu kuwi lho...

13. Pendaki Porter.
Pendaki jenis ini punya kemampuan memanggul barang yang luar biasa. Mungkin pada saat Dr. Burton kesiram cairan yang bikin dia jadi hulk, si pendaki jenis ini kecipratan sedikit. Kemampuan orang ini emejing banget, selain bisa bawa keril segede kulkas, doi juga geraknya cepet bingit meskipun medan lagi nanjak-nanjaknya. Gue pernah ketemu orang kayak gini. Pernah.

14. Pendaki Doraemon.

Jenis pendaki yang ini adalah jenis paling unik, langka, dan juga layak untuk dipepet terus. Tau doraemon kan? Yap, hampir semua hal yang (kemungkinan) kamu butuhin ada di jenis pendaki ini. Misalnya, kaki lecet-lecet butuh hansplast--dia punya, butuh gunting kuku--dia bawa, butuh sarung tangan lebih--dia siapin, butuh kehangatan--dia sediain, butuh bahu buat sandaran--dia lakuin, butuh tentengan kondangan--dia mau diajak, butuh tumpuan masa depan--diaa.. tanya sendiri aja deh ya sama orangnya.

15. Pendaki Egois.

Pendaki kayak gini termasuk tipe pendaki paling ngeselin dan paling dimusuhin sejagad. Bagaimana tidak, kelakukannya yang mau enaknya doang, gak pernah bantuin rombongannya, tau-tau udah ilang entah dimana, dan apapun harus semaunya dia kalau gak dia bakal ngambek, kan minta digebukin banget. Eh, ada gak sih pendaki nyusahin kayak gini?

16. Pendaki Kere.

Jelas ini kebalikannya dari pendaki borjuis. Biasanya sih, jenis ini muncul karena doi masih sekolah, kuliah, atau emang bener-bener kere. Gak usah diliat dari barang-barangnya yang kebanyakan minjem, tapi liat dari sesedih apa mukanya pas kehabisan duit buat pulang. Tapi, seiring berjalannya waktu, pendaki model begini akan punya uang. Percayalah. Percayalah. *pengalaman pribadi*

17. Pendaki Multitalenta.

Pendaki tipe ini punya talenta yang luar biasa. Dia bisa masak dan sering jadi chef andelan rombongannya, bisa bangun tenda, bisa p3k, bisa nyetrika, bisa juga disuruh bersih-bersih, ini sebenernya pendaki apa pembantu sih?

Dia juga bisa nyanyi, bisa main musik, bisa nulis, bisa ngelawak, ganteng, punya bahu buat disenderin. Duh, ini pendaki apa suami idaman sih?

Pokoknya pendaki jenis ini sih gue banget lah! *digebukin*

So, termasuk jenis pendaki yang manakah kamu?

Ps: boleh milih lebih dari satu. Boleh di mix and match juga sesuai selera.

Disclaimer:
Tulisan ini dibuat se-SUBJEKTIF mungkin berdasarkan pengamatan yang gue lakukan akhir-akhir ini dan juga tambahan dari baca artikel sana-sini, ditambah kata-katanya orang lain, dan juga kelakuan para pendaki yang notabene kebanyakan temen-temen gue (dan gue sendiri), sumber yang gak terpercaya, serta bumbu-bumbu drama yang gak masuk akal lainnya. Jangan sampai salah langkah ya.



PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG

Kenapa mendaki gunung?

Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001)

Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Persiapan mendaki gunung.

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

1. Kesiapan mental.

Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

2. Kesiapan fisik.

Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

3. Kesiapan administrasi.

Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

4. Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
■ Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.

Perlengkapan dasar perjalanan
■ Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
■ Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
■ Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu
■ Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

■ Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
■ Masukkan dalam kantong plastik.
■ Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
■ Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
■ Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
■ Buat Checklist barang barang tersebut.


SURVIVAL.

Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu. Dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Sedangkan Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.

Survival adalah keadaan dimana diperlukan perjuangan untuk bertahan hidup. Survival merupakan kehidupan dengan waktu mendesak untuk melakukan improvisasi yang memungkinkan. Kuncinya adalah menggunakan otak untuk improvisasi.

Statistik membuktikan hampir semua situasi survival mempunyai batasan waktu yang singkat hanya 3 hari atau 72 jam bagi orang hilang, dan yang mampu bertahan cukup lama tercatat sangat sedikit sekitar 5 persen itupun karena pengetahuan dan pengalamannya.

Dalam situasi survival janganlah tergesa-gesa menentukan prioritas survival karena dapat berakibat salah, gagasan kaku yang tidak boleh ditawar-tawar juga akan berakibat fatal. Ketepatan memutuskan dengan didukung pengalaman dan hasil diskusi dapat menguntungkan karena situasi darurat perlu pertimbangan dan sikap tegas dalam mencapai tujuan akhir.

Dalam keadaan survival diperlukan pengetahuan terhadap kondisi dan kebutuhan tubuh, bukan mutlak mengerti secara fisik tetapi memahami reaksi atau dampak akibat pengaruh lingkungan. menggunakan pengetahuan dalam usaha mengatur diri saat keadaan darurat adalah kunci dari survival. Pengaturan disini adalah memelihara ketrampilan dan kemampuan untuk mengontrol sumber daya didalam diri dan kemampuan memecahkan persoalan, bila pengaturan keliru, tidak hanya badan terganggu akan tetapi dapat langsung berdampak terhadap kemampuan untuk tetap hidup. Memahami jenis kebutuhan hidup yang menjadi prioritas sangat menguntungkan didalam situasi survival.

Dalam kondisi survival tantangan yang sangat dominan adalah sikap mental atau psikologis untuk mencari kebutuhan tubuh dan untuk memperolehnya dibutuhkan gagasan-gagasan dengan dasar pertimbangan dari pengalaman atau pendidikan yang pernah diikutinya, pengalaman hidup dengan resiko tinggi dan aktivitas menantang terbukti dapat membuat orang belajar untuk berbuat yang lebih baik dan melakukan adaptasi efektif.

Berikut adalah contoh susunan prioritas dalam keadaan survival :

1. Tentunya yang paling utama adalah udara. bernafas dilakukan setiap detik untuk bertahan hidup oleh karena itu udara mendapat prioritas utama untuk bertahan hidup. survival tanpa udara umumnya hanya bertahan selama 3 sampai 5 menit.

2. Selanjutnya dibutuhkan perlin- dungan, dari cuaca buruk dan keganasan alam. sejak keberadaannya manusia dibatasi lingkungannya sendiri mulai dari temperatur yang sangat berpengaruh pada tubuh. Untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat melindunginya contohnya api yang dapat menghangatkan dan menjaga temperatur tubuh, jika tidak ada rumah, tenda atau gua. Api dapat dimasukkan kedalam prioritas kedua

3. Istirahat, sepele namun dibutuhkan, dengan istirahat jaringan tubuh akan terbebas dari CO2, asam dan pemborosan lain. Istirahat yang dimaksud adalah istirahat fisik dan juga mental sebab stress dapat mengurangi kemampuan untuk bertahan.Dengan demikian istirahat dapat dimasukkan kedalam prioritas ketiga.

4. Air. Kehilangan cairan dan kondisi air yang tidak dapat diminum adalah persoalan didalam survival. Tubuh manusia kira-kira terdiri dari 2/3 jaringan yang mengandung air dan merupakan bagian sistem sirkulasi di dalam organ tubuh. Air dapat menjaga suhu tubuh, memperlancar buang air dan mencerna makanan. Kondisi lingkungan yang exstrem tanpa air dapat mengurangi kemampuan bertahan hidup hingga tiga hari, sehingga air dapat dimasukkan kedalam prioritas keempat. Sangatlah bijaksana apabila pemakaian air dapat dihemat.

5. Tubuh manusia membutuhkan makanan tiga kali sehari. Tetapi sementara banyak manusia di benua lain hanya dapat makan sekali sehari atau bahkan tidak makan berhari-hari. Catatan menunjukkan bahwa tanpa makanan survivor dapat bertahan selama 40 sampai 70 hari. Keharusan untuk mendapatkan makanan adalah prioritas terakhir dalam survival. Penghematan energi adalah salah satu cara untuk mengimbangi kekurangan makanan.

Sikap dalam Survival.

Sikap cepat tanggap dalam keadaan darurat sangat diperlukan. Setiap orang harus dapat berbuat yang terbaik dalam memprioritaskan pandangan terhadap lingkungan darurat. Hal ini tidak mudah karena sikap ini perlu latar belakang pengetahuan dan keterampilan. Bila semua prioritas telah diperoleh, tetapi masih kehilangan kemauan untuk hidup atau kemampuan untuk menguasai mental yang disebabkan kondisi fisik, maka akhirnya akan hilang sama sekali. Kondisi yang demikian sangat membahayakan dan bahkan sesuatu yang menguntungkan pun akan dibuangnya. Juga yang perlu diingat janganlah meremehkan sesuatu yang anda lihat. Sikap mental positif sangat diperlukan untuk menganalisa semua yang bertentangan dengan tubuh.

Apa saja yang berguna dalam mengha- dapi situasi survival dapat dilihat dalam dua persoalan :

1. Kesiapan mendiskusikan dengan jelas “apakah anda ingin hidup ?”, ungkapan yang sederhana. Secara naluriah manusia mempunyai insting untuk menjaga diri. Banyak kegiatan survival yang menunjukkan adanya jalan keluar dari periode fisik ekstrem dan mental stress ke posisi tenang. Sadar atau tidak orang mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kematian. Oleh karena itu setiap orang juga mempunyai kekuatan untuk dirinya sendiri terhadap kehidupan.

2. Kemampuan untuk memecahkan persoalan, hal ini didapat jika kita mampu mempertahankan kondisi tubuh. sebagai contoh : tubuh manusia bekerja optimum dengan temperatur 37 derajat C. Mengabaikan temperatur lingkungan akan menyebabkan penyempitan susunan fungsi inti didalam tubuh yang efektivitasnya tinggi yang pada akhirnya akan mengganggu peredaran darah, menurunkan aktivitas sel, dan akhirnya otak cepat kehilangan hubungan dengan realitas, akhirnya bertindak irrasional berbarengan dengan turunnya koordinasi yang akhirnya berakibat fatal. Pengetahuan dan pengalaman tidak ada artinya kalau tubuh hanya bekerja dengan separuh kemampuannya, penghematan sumberdaya seperti energi, panas dan air adalah penting.

Mengapa ada Survival?

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

- Keadaan alam (cuaca dan medan)
- Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
- Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)
- Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri. Dalam keadan tersebut ada beberapa faktor yang menetukan seorang Survivor mampu bertahan atau tidak, antara lain : mental, kurang lebih 80% kesiapan kita dalam survival terletak dari kesiapan mental kita.

Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

- Keadaan alam (cuaca dan medan)
- Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
- Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)

Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.

Definisi Survival.

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam ;

Sadarkan diri dalam keadaan gawat darurat
Usahakan untuk tetap tenang dan tabah
Rasa takut dan putus asa harus hilangkan
Vitalitas mesti ditingkatkan
Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
Variasi alam bisa dimanfaatkan
Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya
Lancar dan selamat

Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tersebut, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :

Stop & seating / berhenti dan duduklah
Thingking / berpikirlah
Observe / amati keadaan sekitar
Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan

Kebutuhan survival

Yang harus dipunyai oleh seorang survivor adalah :

1. Sikap mental ; Semangat untuk tetap hidup, Kepercayaan diri, Akal sehat, Disiplin dan rencana matang serta Kemampuan belajar dari pengalaman]

2. Pengetahuan ; Cara membuat bivak, Cara memperoleh air, Cara mendapatkan makanan, Cara membuat api, Pengetahuan orientasi medan, Cara mengatasi gangguan binatang, Cara mencari pertolongan

3. Pengalaman dan latihan ; Latihan mengidentifikasikan tanaman, Latihan membuat trap, dll
4. Peralatan ; Kotak survival, Pisau jungle , dll

Langkah yang harus ditempuh bila anda/kelompok anda tersesat :

1. Mengkoordinasi anggota
2. Melakukan pertolongan pertama
3. Melihat kemampuan anggota
4. Mengadakan orientasi medan
5. Mengadakan penjatahan makanan
6. Membuat rencana dan pembagian tugas
7. Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar
8. Membuat jejak dan perhatian
9. Mendapatkan pertolongan

Bahaya-bahaya dalam Survival.

Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :

Ketegangan dan panik

Cara Pencegahan : Sering berlatih, Berpikir positif dan optimis dan Persiapan fisik dan mental

Matahari / panas

- Kelelahan panas
- Kejang panas
- Sengatan panas
- Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas : Penyakit akut / kronis, Baru sembuh dari penyakit Demam, Baru memperoleh vaksinasi, Kurang tidur, Kelelahan, Terlalu gemuk, Penyakit kulit yang merata, Pernah mengalami sengatan udara panas, Minum alkohol, Dehidrasi.

Pencegahan keadaan panas :

-Aklimitasi.
- Persedian air.
- Mengurangi aktivitas.
- Garam dapur.
- Pakaian : Longgar, Lengan panjang, Celana pendek, Kaos oblong.

Serangan penyakit.
Penyakit yang biasa diderita pegiat alam bebas adalah grin emotikon emam, Disentri, Typus, Malaria.

Kemerosotan mental.
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah atau keadaan lingkungan mencekam.
Pencegahan : Usahakan tenang dan tentu saja banyak berlatih.

Bahaya binatang beracun dan berbisa.
Keracunan.

- Gejala ; Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang mencret, kejang kejang seluruh badan, bisa pingsan.
- Penyebab : Makanan dan minuman beracun
- Pencegahan : Air garam di minum, Minum air sabun mandi panas, Minum teh pekat atau di tohok anak tekaknya

Keletihan amat sangat.
Pencegahan : Makan makanan berkalori dan Membatasi kegiatan

Bahaya lainnya dalam survival adalah : Kelaparan, Lecet, Kedinginan [untuk penurunan suhu tubuh 30° C bisa menyebabkan kematian]

Membuat Bivouck (Shelter)

Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.

Macam –macam bivouac :

1. Shelter asli alam ; Gua [yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor]. Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.
2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan [misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu]

Syarat bivouac :

- Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]
- Di atas bivouac / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
- Bukan sarang nyamuk/serangga
- Bahan kuat
- Jangan terlalu merusak alam sekitar
- Terlindung langsung dari angin

Mengatasi Gangguan Binatang:

Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk

Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan

Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan

Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.

Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut

Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan

Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]


MAKANAN.

Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :

- Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
- Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
- Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.
- Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.
- Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam

Catatan ;

Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat [dapat dicoba di ujung lidah]

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :

- Batang pohon pisang (putihnya)
- Bambu yang masih muda (rebung)
- Pakis dalamnya berwarna putih.
- Sagu dalamnya berwarna putih.
- Tebu.

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :

- Selada air
- Rasamala (yang masih muda)
- Daun mlinjo
- Singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :

- Ubi jalar, talas, singkong

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
Arbei, asam jawa, juwet

Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :

- Jamur merang, jamur kayu. Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :
- Mempunyai warna mencolok
- Baunya tidak sedap
- Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
- Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
- Bila diraba mudah hancur
- Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
- Tumbuh dari kotoran hewan
- Mengeluarkan getah putih

Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.

Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :

- Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking
- Binatang yang mengandung racun : penyu laut
- Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung

Api.

Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.

Cara membuat api dalam keadaan darurat :

- Dengan lensa / Kaca pembesar ; fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.

- Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar.

- Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren

Survival kits.

Survical kits adalah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan sebagai alat berjaga-jaga bila terjadi keadaan darurat atau juga dapat digunakan selama perjalanan.

Beberapa contoh survival kits adalah :

- Mata pancing /kait
- Pisau / sangkur / vitrorinoc
- Tali kecil
- Senter
- Cermin suryakanta, cermin kecil
- Peluit
- Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]
- Tablet garam, norit
- Obat-obatan pribadi
- Jarum + benang + peniti
- Ponco / jas hujan / rain coat
- Dan lain-lain.