Senin, 12 Oktober 2015

KENAPA HARUS GUNUNG?


Kenapa harus gunung? Mengapa harus mendaki? Apalagi sampai harus mencintai? Pertanyaaan yang logis memang, karena jika dipikir-pikir dengan akal sehat kegiatan mendaki gunung atau olah raga alam bebas lainnya memang membutuhkan banyak pengorbanan. Gunung adalah ciptaan Tuhan yang bentuknya menjulang ke atas, mencapainya harus banyak perjuangan, mencapainya harus berbekal segudang 'ilmu kesakitan', mencapainya penuh dengan rintangan-rintangan, mencapainya butuh taruhan nyawa, mencapainya butuh mental kuat, mencapainya sangat sulit.

Dan mengapa harus tetap mendaki kalau semua itu dicapainya sangat sulit?.Sepertinya pertanyaan seperti ini juga seringkali diutarakan oleh banyak orang terhadap para pendaki lain. Apalagi pertanyaan ini banyak dilontarkan orang awam ke pendaki. Sepertinya banyak orang yang ingin mengetahui alasan kenapa orang mendaki gunung. Apakah segala sesuatu harus disertai dengan alasan.

Dari pertanyaan yang logis itu banyak juga berbagai macam alasanpun bermunculan baik yang berbau praktis, nasionalis, idealis sampai tataran filosofis selalu menghiasi argumen-argumen agar terkesan logis (apalagi kalau berhadapan dengan Orang Tua saat minta izin, atau ketika ketahuan pergi dengan cara bergerilya). Mendaki gunung memang selalu menarik, apalagi kalau sudah terlanjur mencintai gunung. Dari anak kecil sampai yang berusia lanjut, dari yang opurtunis sampai yang idealis maupun yang sekedar “asal” dan yang profesional bahkan untuk kepentingan ritual tak mampu berkelit dari ’sihirnya”.

Seseorang yang sudah mendaki pasti akan terpesona dengan kuasa Tuhan yang satu ini, mereka yang sudah mendaki pasti akan kembali lagi dan menaklukan puncak-puncak gunung yang lain. Banyak orang-orang 'besar' terkenal pendaki gunung dan beberapa alasan mereka mengapa mendaki gunung seperti Soe Hok Gie “Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup”. Atau Henry Dunant, Bapak Palang Merah dunia. “Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa bila pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung”. Kalau ditelaah dari pendapat diatas bahwa mendaki gunung adalah mengajarkan keberanian hidup, menghargai hidup, sudah pasti mental yang akan terbentuk mental kuat, pribadi yang bersyukur.

Pada awalnya mencapai puncak gunung merupakan kepuasan pribadi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sama halnya dengan kenikmatan penulis ketika berhasil membius para pembacanya.

Jadi, sebenarnya para pendaki gunung itu seperti seorang pemimpi yang haus untuk menggapai mimpinya, sehingga saat mimpi-mimpinya terwujud ada rasa bahagia dan kepuasan yang begitu besar dan seolah tak dapat diungkapkan atau ditukar dengan apapun. Gunung yang tinggi menjulang mengajarkan kita selayaknya pikiran kita harus tetap mengarah ke atas, ke puncak mimpi mimpi kita dan bagaimana cara kita untuk menggapainya tetapi jangan sampai lupakan untuk kembali menengok ke bawah, jalan yang telah kita lalui, semua cerita kenangan dahulu yang mampu memberi kita pelajaran bagaimana kita dapat melalui jalan yang kita arungi saat ini..

Dengan mendaki gunung, paling tidak kita akan mampu mengetahui bahwa kita tak ubahnya seperti seekor semut yang merayap lamban di tengah luasnya hutan. Kita hanya mahluk biasa yang tak berdaya jika berada di alam bebas, tidur di tanah, minum air mentah, berlindung dari dinginnya udara, tak berdaya di tengah kabut atau tak berkutik jika tersesat dan kehabisan bekal. Itulah kita, manusia yang sebenarnya, tak berdaya di tengah alam, apalagi untuk melawannya. Lalu apalagi yang kita sombongkan, melawan alam saja tidak berdaya apalagi melawan kekuasaan Sang Pencipta alam.

Awal mendaki hanya rasa ingin tahu yang besar dan akhirnya menjadi yang mencintai gunung, Mengapa harus gunung? Mengapa mencintai gunung? Berbicara soal rasa tidak mungkin dapat menggambarakn kecintaan itu dengan kata-kata tapi yang pasti karena di gunung ada sesuatu yang patut dicintai. Gunung punya 'sihir' tertentu jadi bagi sebagian orang mendaki gunung seperti sesuatu kebutuhan selayaknya orang minum kopi yang seteguk selalu ada rasa yang beda, seperti mendaki gunung yang melalui perjalanan panjang, lelah mendaki kemudian turun kembali sebagian orang akan berkata bahwa itu adalah hal yang sia – sia. Tetapi ternyata tidak. Ada banyak keuntungan dalam pendakian gunung. Ada hal yang tidak bisa kita temukan saat tidak di gunung.

Ciptaan Tuhan yang maha luas, pemandangan luar biasa. Berada di atas permadani awan, tanpa tiang-tiang penyanggah, batas horizon yang membentang luas tak terbatas, birunya danau yang tercipta di tengah cekungan, serta banyak lagi. Foto mungkin bisa menangkap sebagian kecil visual, tapi dia tidak dapat membawa aroma tanah, desiran angin di pepohonan, atau hangatnya mentari yang menerpa wajah saat berjalan.

Menjadikan pribadi yang bersyukur.

Sederhana yang membahagiakan seperti sebotol air yang didapat saat persediaan air habis. Belum lagi setiap sukses melewati medan berat, atau selamat dari insiden kecil yang membuat kita merasa bahwa Tuhan itu Maha Baik dan bersyukur sekali atas kebaikan – Nya, ditambah merasakan kebesaran – Nya melalui alam ini. Rasanya tingkat keimanan kita jauh lebih meningkat saat di gunung.

DI Gunung hanya akan bilang "Enak!"

Mau buat makanan apapun di gunung pasti habis! Tidak peduli nasi yang belum matang, teh atau kopi yang super dingin. Hanya satu kata: Enak!

Yang pasti Badan Menjadi Sehat.

Awal mendaki gunung yang ada hanya nafas yang memburu, tubuh pegal semua, mengantuk, hingga malas menggelora. Jangan bosan mengulang lagi. Sekali dua kali kemampuan fisik pasti akan meningkat. Setelah turun, kapasitas paru – paru membesar. Yang tadinya tidak kuat lari satu putaran keliling rumah, setelah dari gunung bisa lari 10 kali putaran rumah.

Rasa solidaritasdan sisi kemanusiaan.

Bantuan di gunung lebih 'mudah' kita dapatkan, sekalipun orang yang belum kita kenal. Ada orang asing yang membantu dan menyapa kita merupakan hal yang menyenangkan. Intinya, sisi kemanusiaan kita akan muncul.

Menguatkan Mental.

Semakin ke atas fisik semakin lemah. Jadi ingatlah, asal niat kuat pasti bakal berhasil! Walau badan sudah lemah, kaki sudah tidak mampu melangkah, kalau semangat masih ada, "Eh, kok kita bisa sampai puncak, ya?" Jangan pernah menyerah, karena seberat apapun, toh puncak itu akan sampai juga pada akhirnya.

Menghargai Sebuah Pencapaian.

Perasaan terharu, puas, lega dan bahagia yang tak terlukiskan campur aduk jadi satu. Rasa yang tidak bisa didapatkan di tempat lain, apalagi dibeli. Hanya bisa ditukar dengan ribuan langkah kaki, tetesan keringat dan semangat yang tidak pernah padam.

Tidak ada kesuksesan tanpa jerih payah, bahkan harus dengan keringat, air mata dan darah. Dan “ Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita menawar, terima dan hadapilah“ Soe Hok Gie.

source; rumahsembilan.wordpress.com/2014/06/17/why-mountain/edited
— di Kantor Imigrasi Srengat - Blitar.

BATAS VEGETASI; AREA RAWAN PENDAKI TERSESAT


Sehubungan dengan banyaknya pendaki yang meninggal di gunung saya ingin memaparkan sebuah idea yang mungkin bermanfaat bagi para pendaki. Kawasan batas vegetasi merupakan salah satu tempat yang paling berbahaya di gunung. Beberapa kawasan batas vegetasi yang berbahaya diantaranya adalah Gunung Semeru, terkenal dengan blank 75. Meskipun begitu sebenarnya batas vegetasi Gunung Slamet juga cukup berbahaya. Kali ini saya akan berbagi mengenai teknis agar selamat dari tersesat di kawasan batas vegetasi "GUNUNG SLAMET"

KAPAN?

Biasanya pendaki tersesat di kawasan batas vegetasi bukan pada waktu perjalanan naik, tetapi, justru pada waktu perjalanan turun.

MENGAPA?

1. Ketika hari beranjak siang, TURUN KABUT di kawasan batas vegetasi Gunung Slamet, biasanya sekitar jam sembilan (pagi) ke atas, oleh karena itu mendakilah sepagi mungkin. Tebalnya kabut akan membuat jarak pandang menjadi terbatas sehingga membuat pendaki rawam tersesat ketika perjalanan turun.

2. Batas vegetasi adalah perbatasan antara kawasan hutan dengan puncak (pasir, kerikil, bebatuan). Jalur yang digunakan untuk masuk kembali ke kawasan hutan ketika perjalanan turun sulit ditemukan ketika cuaca berkabut, sehingga banyak pendaki yang akhirnya masuk hutan tidak tepat pada jalurnya, jika diteruskan maka berpotensi masuk jurang atau tersesat di hutan yang sangat lebat, (mirip kronologi pendaki yang masuk Blank 75, Gn. Semeru).

3. Meskipun cuaca tidak sedang berkabut, menemukan pintu masuk ke kawasan hutan merupakan hal yang cukup sulit jika kita kurang teliti. Hal tersebut disebabkan karena jalur pendakian di kawasan tersebut bukanlah satu lajur, bahkan terdiri beberapa lajur, dimana setiap pendaki bisa memilih jalurnya sendiri asalkan mengarah ke puncak. Akibatnya di kawasan itu terdapat banyak jalur yang jika kita kurang teliti, maka akan membuat kita tersesat ketika perjalanan turun.

SOLUSI?

1. KITA bisa meninggalkan poncho, bendera, atau kain yang berwarna mencolok (kuning atau orange) di kawasan batas vegetasi, letakkan di pohon, di tempat yang kira kira terlihat dari atas. Carilah tanda itu saat kita turun dari puncak, jika cuaca tidak berkabut tanda tersebut kemungkinan besar bisa terlihat. Kita tinggal ikuti tanda tersebut. Jika kita mendaki dari jalur Bambangan, Pos 6 akan terlihat dari puncak jika cuaca cerah, bidik arahnya, dan ikuti sudutnya ketika perjalanan turun.

2. KITA bisa menggunakan tissue. Gunakan batu untuk menindih tissue dan tinggalkan dengan interval tertentu sepanjang jalur yang telah kita lewati. Ketika perjalanan turun ikuti tanda tersebut sambil membawa kembali (turun) tissuenya. Tidak perlu repot repot membawa batu dari bawah karena di kawasan tersebut banyak batu dengan ukuran beragam. Cara ini lebih efektif ketika cuaca sedang berkabut.

TERLANJUR TERSESAT ?

Jika kita terlanjur sampai di batas vegetasi dan tidak menemukan jalur pendakian untuk masuk ke kawasan hutan, berarti kita sedang tersesat.

1. Jangan masuk ke hutan tanpa melewati jalur pendakian. Di dalamnya banyak jurang yang siap menanti kedatangan kita. Di dalam hutan juga banyak duri tajam yang bisa membuat lecet / luka sekujur tubuh kita.

2. Jika kita bergerak melipir ke kiri atau ke kanan, kemungkinan besar kita akan menemukan lembah untuk diseberangi. Jika lembahnya dangkal maka mudah untuk kita seberangi, namun, jika lembahnya dalam sebaiknya jangan kita seberangi.

3. Solusi terbaik adalah dengan mendaki kembali ke arah puncak sambil melihat ke arah bawah. Cari jalur yang digunakan untuk masuk ke kawasan hutan sambil terus mendaki ke Puncak. Jika tidak kunjung ketemu, mendakilah terus hingga ke puncak. Dari puncak kita bisa mengulangi lagi perjalanan turun dengan menggunakan jalur yang benar. Mungkin butuh lebih banyak tenaga, akan tetapi, cara ini yang paling aman.

Kondisi jalur pendakian Gunung Slamet, Jalur Bambangan. Dukuhliwung, Guci, dan yang lain cenderung indentik. KOndisi ini juga bisa terjadi di Gunung lain dengan tipe yang sama seperti Gunung Semeru, dengan Blank 75-nya.

KETERANGAN GAMBAR :
Garis Kuning = Jalur pendakian (Bambangan Gn. Slamet)
Titik Kuning = Pintu masuk / keluar kawasan hutan
Titik Biru = Lembah / Jurang
Titik A, B, C, D = Lokasi potensi tersesat

Diteruskan kembali dari catatan Andriyana [KPG]

TIPS MENDAKI GUNUNG


Memandangi alam dari ketinggian adalah hal yang paling membanggakan, apalagi jika sudah sampai di puncak ketinggian. Kita akan diperlihatkan dengan pesona negeri di atas awan.Wah, gak terbayangkan ingin rasanya tiduran dan main-main di atas lautan awan yang luas. Haru biru dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, perjuangan kita menuju puncak mdpl terbayar sudah dengan menatap tanpa kedip lautan samudera awan serta hembusan angin pegunungan yang bergemuruh bersamaan dengan nafas kita yang terengah-engah selama pendakian.

Mungkin untuk sebagian orang, mempunyai hobi berpetualang di alam bebas adalah hal yang cukup extreme terkadang aneh juga, kok mau-maunya naek gunung bawa keril berat-berat terus turun lagi. Namun bagi yang sudah sangat menyukai dan mencintai kegiatan alam bebas mah, mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupannya, tak jarang ada sejumlah penggiat alam yang mencari kehidupan dunianya dibidang ini, entah dengan menjadi guide, porter, trainer outbound, penjual alat perlengkapan alam bebas ataupun menjadi event organizer ekowisata dan lain-lain.

Dengan seiring zaman kegiatan alam bebas di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan banyak event-event organizer yang membuka “open trip” baik itu ke gunung, pulau ataupun ke tempat wisata yang lainnya. Dari harga yang termurah sampai harga termahal (tapi biasanya saya sendiri lebih suka cari yang share-cost, lebih murah dan seru aja. Akan tetapi itu dikembalikan lagi ke yang empunya hajat dan niatannya, mau yang share-cost mangga, mau yang ikut open trip silakan dan mau yang solois duois juga terserah gak ada yang larang kok

Oke, dengan banyaknya peminat kegiatan dialam bebas, baik yang pemula (penjelajah muka lama :p) ataupun yang newbie sebenernya tak ada masalah gak ada istilah senior or junior (yang ada super-junior, coboy junior sama super-mie hehe). Namun perlu digaris bawahi dan di cetak tebal, dengan menjamurnya kegiatan alam bebas ini, sudah seharusnya dan selaiknya kita selaku penggiat memenuhi standar operasional kegiatan hidup di alam bebas. Misalnya, dari kesiapan fisik dan mental, perlengkapan dan peralatan yang nyaman dan aman serta surat perizinan (baik dari orang tua dan simaksi) dll.

Tak ayal juga, banyak penggiat alam bebas yang tidak memenuhi standar operasional, sehingga banyak kejadian yang tidak didinginkan. Dalam coretan, saya akan berbagi tips dan triks bagaimana jika kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat kita sedang melakukan kegiatan di alam bebas.

Keracunan asap belerang.

Pada gunung berapi yang masih aktif, tak heran kita akan menemui beberapa cekungan kawah yang mengandung akan zat belerang. Nah, jika temen-temen yang berwisata, ngetrip ke kawasan gunung api lalu tiba-tiba diperjalanan menghirup bau belerang dengan gejala sesak nafas dan mata perih, karena menghirup zat racun yang dikeluarkan dari belerang tersebut, don’t be panic guys…pertolongan yang lebih awal adalah

- Ambil saputangan, buff atau kain yang ada
- Lalu basahi dengan air bersih
- Kemudian usapkan (tempelkan) pada wajah, diamkan beberapa menit

Atau ada juga yang lain yaitu menggunakan tumbuhan begonia yang tumbuh disekitar pegunungan dengan cara mengambil batangnya lalu kupas kulit batangnya, lalu tumbuk batang tersebut dan ambil perasan air dari batang tersebut.

Setelah keadaan tubuh terkondisi, ambilah langkah dengan teratur untuk segera mencari tempat yang aman.

Mendaki Gunung yang berpasir.

Jika kita mendaki gunung dengan tekstur pendakian berpasir, berbatu serta jarang tumbuhannya, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, diantaranya

- Berjalan/mendakilah sesuai dengan kemampuan tubuh kita
- Pakailah jaket yang tahan angin, karena pada umumnya area gunung yang berpasir udara lebih dingin
- Pakailah sepatu tracking yang nyaman dan aman dikaki
- Gunakan tracking-pool jika kita tidak ada pegangan
- Gunakan kacamata dan masker, karena debu pada gunung api mengandung serbuk kaca yang halus sehingga dapat melukai mata dan pernafasan jika dihirup.
- Jika tidak keberatan, pakailah helm, karena khawatir batu-batu menimpuk kepala kita

Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya. Begitupun dengan keindahan alamnya dari keanaeka ragaman hayati dan non hayati yang tentunya kaya akan manfaat dan kegunaaanya. Tak ada salahnya kita memanfaatkan sumber daya alam yang ada, tapi ingat kita harus melestarikan dan menjaganya agar generasi kita selanjutnya dapat menikmatinya juga. Jujur saja saya, bukan termasuk pendaki, backpack atau penjelajah alam professional, namun saya hanya sekedar berbagi tips, triks dan pengalaman selama dalam perjalanan menjelajah alam bebas, entah ke gunung, laut, pantai, sungai ataupun yang lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang hobi kegiatan di alam bebas.

Source; cadventura.com/tips-aku-dan-kegiatan-alam-bebasku/

TIPS MENDIRIKAN TENDA


Tenda merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pendakian gunung karena tenda inilah yang akan menjadi rumah bagi para pendaki gunung itu sendiri. Setiap pendaki gunung harus paham tentang cara mendirikan tenda yang dibawanya sendiri dan selain itu pula seorang pendaki harus paham terhadap berbagai faktor yang ada di lapangan sebelum mereka mendirikan tenda. Tentunya hal ini bertujuan untuk keamanan dan kenyaman pendaki itu sendiri.

Berikut beberapa tips yang bisa digunakan saat hendak mendirikan tenda :

Perhatikan kondisi lahan.

Sebelum mendirikan tenda sebaiknya perhatikan dahulu kondisi lahan yang akan digunakan. Sebisa mungkin carilah lahan tanah yang datar dan tidak terdapat banyak batu atau akar yang menempatinya karena hal tersebut akan membuat anda tidak nyaman saat hendak tidur ataupun saat berada di dalamnya.

Perhatikan arah mata angin.

Lihatlah dahulu kemana arah angin berhembus dan jika sudah mengetahuinya maka tempatkanlah pintu tenda membelakangi arah angin tersebut. Hal ini berguna agar angin yang berhembus tidak langsung masuk ke dalam tenda yang mengakibatkan anda malah menjadi kedinginan di dalam tenda nantinya.

Dirikan tenda di lokasi yang agak tertutup.

Jika memungkinkan, dirikanlah tenda di lokasi yang agak tertutup dan hindari mendirikannya di tanah lapang. Hal ini cukup berguna untuk meminimalisir hembusan angin kencang yang bisa menerpa tenda anda. Selain itu perhatikan pula kondisi lingkungan sekitarnya, hindari untuk mendirikan tenda di dekat pohon yang sudah mati karena lebih rawan untuk tumbang.

Hindari untuk mendirikan tenda tepat di jalur pendakian.

Terkadang pendaki bisa saja mengalami kondisi yang memaksa untuk mendirikan tenda di jalur pendakian. Namun alangkah baiknya jika anda mendirikan tenda sedikit keluar dari jalur pendakian, hal ini tentunya akan lebih baik dan aman karena tidak akan menghambat atau menghalangi pendaki lain yang mungkin juga sedang melewati jalur tersebut.

Jangan mendirikan tenda di pinggir sungai.

Walaupun dengan alasan lebih dekat dengan sumber air namun hal tersebut justru tidak baik karena lebih rawan terhadap luapan air sungai yang bisa terjadi kapan saja, terutama saat hujan datang. Selain itu pula sungai merupakan sumber air yang biasa digunakan binatang untuk minum, tentunya anda tidak mengharapkan kedatangan binatang ini bukan ?.

Berilah alas pada tenda (footprint).

Hal ini cukup berguna untuk meminimalisir suhu dingin yang terdapat pada tanah, terutama saat menjelang malam hari. Selain itu pula dapat melindungi tenda anda dari kebasahan akibat rembesan air dari tanah. Pemberian alas pada tenda ini bisa dengan menggunakan rumput atau dedaunan kering yang terdapat di sekitar lokasi tenda. Bisa pula dengan membawa sebuah flysheet atau footprint yang memang sudah banyak dijual di pasaran.

Tambahkan pasak tenda.

Pasak berfungsi untuk memperkuat berdirinya tenda dari terpaan angin. Biasanya setiap tenda yang dijual sudah termasuk dengan pasak. Gunakanlah pasak ini untuk ditancapkan pada masing-masing sisi tenda. Bila perlu tambahkan pula tali-tali bantu tenda untuk di ikatkan pada penambat yang ada di sekitarnya.

Buatlah parit kecil di sekitar tenda.

Saat hujan turun maka parit inilah yang akan berfungsi untuk menghalau air hujan masuk ke dalam tenda. Buatlah parit kecil ini melingkari tenda sesuai dengan bentuknya kemudian berikan jalur pembuangan airnya sehingga air bisa mengalir tanpa harus tergenang di dalam parit.

Kumpulkan kelengkapan tenda yang tidak terpakai.

Jangan biarkan semua sisa kelengkapan tenda yang tidak terpakai berceceran di luar tenda karena rawan untuk kehilangan. Kelengkapan tenda seperti kantong tenda, sisa pasak dan tali tenda sebaiknya dikumpulkan dalam satu wadah dan masukkan ke dalam tenda agar terhindar dari kelupaan untuk membawanya.

Jangan memaksa keadaan.

Saat cuaca sedang hujan lebat yang disertai angin kencang, saat itulah kekuatan tenda akan di uji. Jika anda mengalami suatu kondisi yang mengkhawatirkan terhadap tenda yang rawan patah, sebaiknya segeralah berpindah tempat untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Dengan memperhatikan faktor kondisi lapangan terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda, diharapkan dapat lebih membuat rasa aman dan nyaman bagi seorang pendaki dalam menghuni rumahnya yang bernama tenda. Dengan tidur yang nyaman di tenda tentunya akan memulihkan tenaga yang telah habis setelah seharian penuh berjalan. Selamat berpetualang!

Source; alidesta.wordpress.com/2015/03/17/tips-mendirikan-tenda-di-gunung-yang-baik-dan-benar/

KAMI MENDAKI GUNUNG KARENA KAMI MENGHARGAI HIDUP

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hiiiiii”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual!!!!!

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang - orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh!

Source; hutantropis.com/kami-mendaki-gunung-karena-menghargai-hidup

PENGANUT SLOGAN MTMA ADA BAIKNYA BELAJAR DARI PEMUDA INI


Jangan di rumah saja, Indonesia itu indah men…

Di atas samudra awan puncak gunung Prau, My Trip My Adventure.

Ini petualanganku, mana petualanganmu, yeah, My Trip My Adventure…!!

Sering mendengar kalimat tersebut bersliweran di sosial media ya akhir akhir ini, atau jangan jangan di antara sahabat semua ada yang malah sering menulis kalimat semacam itu beserta memposting sebuah foto perjalanannya di dinding facebook, istagram, atau timelinenya…?

Kalau ada, ya nggak masalah, nothing wrong with that men…

Namun kali ini, saya ingin bercerita mengenai seorang anak muda yang mungkin saja dapat menjadi sebuah wawasan baru untuk sahabat semua yang sering melakukan sebuah perjalanan, dan mengklaim hal itu sebagai sebuah real adventure.

Membaca kisahnya, mungkin banyak yang akan mengatakan kalau anak muda ini bodoh, dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Namun, kali ini, kita akan mencoba melihat segala tindak tanduk pemuda ini dari kacamata dirinya sendiri, dan dari kacamata orang orang yang memuja sebuah pencarian diri dalam keluasan alam raya, dan keganasan alam liar yang membelai setiap manusia dengan cakar cakar besar yang siap merobek mental dan pendirian.

Christopher Johnson McCandless atau yang menyebutnya dirinya dengan sebutan Alexander Supertramp, adalah seorang pemuda jenius, memiliki nilai bagus dalam setiap mata pelajaran sekolahnya, lulus sebagai salah satu sarjana dari sebuah universitas terkemuka di Amerika dengan predikat cum laude, pandai bermain music dan piano, juga pandai dalam menulis prosa kata yang memiliki makna mendalam, dan ia juga piawai dalam menulis bait puisi dan kata kata mutiara.

Jadi secara akademis, pemuda ini tidak bisa dikatakan bodoh.

Why..?

Mengapa ia melakukan hal itu..?

Mengapa ia melepaskan semua kemewahan yang ia miliki, dan memilih hidup laksana gelandangan dalam panas dan hujan, dalam dingin dan terik..?

Prestasinya yang tinggi dalam dunia akademis akan sangat memudahkan ia memperoleh pekerjaan bergaji ribuan dollar yang mungkin didambakan banyak pemuda seumuran dirinya di luar sana, namun sekali lagi, mengapa McCandless malah memilih menjadi seorang petualang yang memburuh disebuah penggilingan gandum…?

Seseorang harus memiliki alasan yang kuat untuk bisa melakukan hal itu. Nekat dan iseng saja tidak cukup besar untuk membuat seorang pemuda jenius mau melakukan petualangan yang pada akhirnya, mengakhiri hidupnya sendiri.

Christopher Johnson McCandless lahir di kota El Segundo, wilayah California, pada 12 Februari 1968. Dan ia meninggal di dalam sebuah bus di Stampede Trail, Alaska, pada Agustus 1992, ketika ia berumur 24 tahun. Ia mati muda, dan menjadi salah satu topik dunia petualangan yang sangat ramai dibicarakan sejak John Krakauer mempublikasikan tulisannya tentang McCandless ini di Outside Magazine.


Ada juga sebuah ucapan pedas dari seorang ranger Alaska yang mengatakan kalau Alexander Supertramp atau Chris McCandless adalah tidak lebih lebih dari seorang pemuda tolol yang memang mencari mati ke Alaska. Pendapat ini diucapkan oleh ranger tersebut karena melihat kenekatan McCandless yang menyusuri Alaska seorang diri tanpa perbekalan yang memadai, bahkan dari banyak data disebutkan bahwa, McCandless tidak membawa selembar peta tentang Alaska pun dalam perbekalannya, buku buku yang ia bawa hanya buku filsafat, sastra, dan pemikiran pemikiran filsuf besar seperti Leo Tolstoy dan yang lainnya.

Satu satunya buku yang berkaitan dengan dunia yang ia masuki, hanya sebuah buku yang yang menerangkan beragam jenis tanaman local beracun yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Tidak ada yang dapat menentukan secara pasti mengapa McCandless melakukan perjalanan yang begitu extreme, dan pada ujungnya malah merenggut kehidupannya sendiri.

Namun dari buku Into The Wild karya John Krakauer yang fenomenal itu, perjalanan McCandless membelah jalanan Fairbanks, Alaska, menjadi bagian dari kelompok Gipsy, bekerja di penggilingan gandum, berjalan jauh menyusuri jalan dengan ransel dan celana pendek, adalah wujud dari kekecewaannya terhadap lingkungan yang mejadi latar belakangnya.

Ayah dan Ibu Alex Supertramp adalah pasangan yang sukses, ayahnya bekerja dan menjabat posisi penting di kantor NASA, dan ibunya adalah seorang sekretaris dari sebuah prusahaan pesawat terbang. Namun seperti banyak istilah, uang mungkin bisa membuatmu senang, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Dan itu pulalah yang terjadi pada McCandless, ia merasa kehidupan yang ada disekelilingnya hanya sebuah ritme kosong yang berisi banyak kepura puraan.

Alex adalah seorang sarjana sejarah dan anthropology, jadi tentu pemahamannya tentang sosial, hubungan antar manusia, dan pengaruh lingkungan dalam tatanan masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Namun yang juga perlu digaris bawahi, bahwa gelar sarjana yang diperoleh Alex adalah melalui materi dan teori dalam kuliah, adalah berdasarkan pemikiran, dan buah renungan dari para sosiolog yang ia baca dari banyak buku dan tulisan, dan bukan pengalamannya secara pribadi. Sedangkan kita tahu, guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman.

Trial and error, do and fail, try and try again, adalah sebuah rel kereta waktu yang mestinya menjadi banyak tolak ukur seseorang dalam menilai dan mengambil keputusan.

Tapi kita tahu, Alex masih muda, ia memang terdidik jenius, namun hanya ia belum cukup kenyang memakan asam garam kehidupan. Jadi ketika, keadaan yang ia temukan dalam lingkungannya tidak sejalan dengan falsafah hidupnya, Alex berontak, ia keluar dari zona itu, dan mencari kehidupan lain yang membuatnya lebih merasa sebagai seorang manusia bebas merdeka.

***
Masih ingat dengan tokoh Beck Weathers dalam film Everest yang lagi marak saat ini, masih ingat dengan apa yang ia katakan tentang alasannya mendaki gunung..?

“.. Dalam kehidupan, saya merasa ada awan gelap yang terus mengikuti kemana pun saya pergi, dan hanya di gunung saya menemukan obatnya…”.

Begitu pula dengan McCandless saya kira, saat kehidupannya seolah hanya sebuah manekin yang tak mempunyai jiwa, ia mencari obatnya.

Maka di sanalah ia menemukan terapinya, mendapatkan obatnya, dalam langkah kaki bersepatu boots menyusuri alam liar, dalam deburan ombak pantai dengan sebuah buku di senja kala, dalam kayuhan paddle kayaknya menyusuri sungai yang panjang, dalam nyanyian berisik orang orang yang Gipsy yang tak memiliki teritori, dalam gemuruh mesin gilingan gandum dan debu yang beterbangan, dan dalam dekapan hutan liar Alaska yang tak memiliki rasa kasihan.

Di sana, di sanalah McCandless menemukan ketenangan jiwanya.

Jadi terlalu kejam jika ada seseorang menilainya dengan sebutan “ seorang anak muda romantic yang mencari jati diri, berjalan ke Alaska hanya untuk bunuh diri..”.

McCandless bukan orang bodoh, jika ia tak faham ilmu survival di alam liar, bagaimana mungkin ia bisa bertahan di tengah belantara, hanya dengan 2 liter beras selama lebih dari tiga bulan.

Ya, Chris McCanldless adalah cerita yang menarik, alasannya bertualang adalah sebuah alasan yang patut mendapat rasa hormat, bukan hanya sebuah keinginan untuk melakukan selfie kemudian membagikannya di sosial media, untuk mendapatkan like dan memperoleh coment.

“.. wow indahnya, dimana tuh…?”

MTMA adalah sebuah slogan yang keren, slogan yang sekaligus menggerakkan banyak orang ke alam dan bertualang. Namun alangkah sayangnya jika sebuah perjalanan hanya sekedar ajang persaingan di media sosial untuk menunjukkan “..Hei, I was there, saya pernah di sana…”.

My Trip My Adventure adalah sebuah petualangan yang semestinya melibatkan banyak emosi, perasaan, pemahaman, pelajaran, dan juga perenungan. Melakukan sebuah journey untuk sebuah maksud dan tujuan yang berorientasi pada perkembangan pemikiran dan diri. Jika hanya untuk berselfie ria tanpa mengindahkan nilai nilai yang ada di dalamnya, maka mungkin kata adventure tidak dapat disematkan di sana.

Jadi itu mungkin bukan my trip my adventure, tapi lebih tepatnya, my trip my picnic, just only picnic.

Source; arcopodojournal.com/2015/09/para-penganut-slogan-my-trip-my.html

8 PELAJARAN MENDAKI GUNUNG DARI FILM EVEREST


Gunung Everest memiliki predikat gunung tertinggi di dunia dan menjadi incaran para pendaki untuk menjejakkan kaki. Jon Krakauer, penulis buku sukses "Into Thin Air", buku yang mengisahkan kisah nyata tragedi di Everest tahun 1996_yang juga menjadi inspirasi film Everest (September 2015), mengaku sangat menyesal karena pernah memulai mendaki gunung.

"Pendakian Gunung Everest adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saya berharap tidak akan pernah pergi (lagi ke Gunung Everest)," kata Krakauer seperti dilansir NGI dan dikutip dari Huffingpost.

Pengalaman buruk Jon Krakauer saat menjadi bagian dari sejarah bencana pendakian terburuk Everest tahun 1996 itu menjadikannya seperti itu. Ia menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) selama bertahun-tahun dan masih mengalami hingga kini. Walaupun mengalami kondisi demikian, Krakauer mengaku senang dapat menulis buku tentang penderitaan yang ia alami.

Dari legenda yang telah diceritakan dan diceritakan kembali oleh banyak orang dan dari perspektif yang berbeda. Banyak kesimpulan negatif yang ditarik dari cerita-cerita pendakian Everest musim itu termasuk oleh Jon Krakauer, seorang jurnalis dalam penugasan oleh Outside yang juga menjadi salah seorang yang selamat dari tragedi Everest 1996.

Krakauer melihat, kompetisi perusahaan-perusahaan komersial, populasi pendaki yang terlalu memenuhi Everest, menjadi akar permasalahan yang berujung korban jiwa di Puncak Tertinggi Dunia. Namun kejadian ini menjadi pengingat yang dramatis bagi siapa saja yang ingin mengais atau memberi rejeki di Everest. Dari kejadian itu, banyak perbaikan yang telah dilakukan, komunikasi menjadi lebih dapat diandalkan. dan kerja sama di antara pendaki dan perusahaan pendakian membaik, dan secara umum sarana dan infrastruktur sejak perkemahan awal hingga puncak Everest juga memuaskan.

Lantas pelajaran apa yang bisa diambil bagi pendaki yang (masih) ingin melakukan perjalanan ke puncak tertinggi dunia? Film everest menyiratkan pelajaran yang jika dipetik hikmanya bisa membuat kita pulang dengan selamat.

1. Rajin Berolahraga.

Dalam film Everest, tokoh Beck Weathers digambarkan paling bersemangat. Jarang sekali memang orang yang mampu naik Everest masih berusia muda, tapi Beck yang usianya 49 tahun waktu itu ikut dalam pendakian 10 Mei 1996 dan dia salah satu yang bersemangat.

Jauh sebelum berangkat ke Everest, setiap pendaki memang harus terbiasa melatih fisik dengan berolahraga. Beck termasuk yang rajin soal itu, tidak hanya sebelum, selama mendaki Everest dari Maret sampai dengan Mei 1996 kadang ia melakukan latihannya di lokasi perkemahan.

Akibat rajin berolahraga, setiap kali cek kesehatan fisik, kondisi Beck adalah salah satu pendaki yang prima.

Sayang, fit saja tidak cukup, Beck yang belum lama melakukan operasi mata mengalami gangguan di puncak Selatan. Dia pun jadi tidak sampai tuntas menjejaki puncak. Gangguan matanya membuat beck harus kembali turun, namun musibah badai salju itu menerjangnya sehingga ia ikut terjerembab dan sempat tak sadarkan diri.

Tertimbun es salju super-dingin membuat kulit wajahnya terbakar. Namun kondisi badan Beck yang fit membuatnya sanggup untuk berjalan setidaknya sampai ke Kamp ke-4, alhasil Beck salah satu yang selamat .

2. Adaptasi dengan Alam.

Coba perhatikan Jake Gyllenhal saat ia berperan jadi Scott Fischer. Di Kamp pertama, Scott bertelajang dada, padahal dia sedang di daerah pegungan Himalaya.

“Aku sedang beradaptasi dengan alam,” katanya mengingatkan pendaki lain agar menyesuaikan tubuh dengan kondisi alam.

Mungkin tidak harus telanjang dada seperti Scott yang sudah terbiasa dengan pegunungan, tapi adaptasi lain adalah membiasakan tubuh rileks di lokasi tempat kita hidup sekarang. Bagaimana caranya, tubuh kalian akan berusaha berfungsi. Jadi cobalah membuat nyaman dan mengontrol diri sendiri.

3. Saling Berkenalan.

Sudah lumrah, di kalangan pendaki, mereka saling mengenal satu sama lain. Selain untuk mengontrol siapa saja yang masih bertahan dan yang bisa naik sampai puncak. Mengenal seseorang lain juga membantu pendaki saling menjaga emosi dan komunikasi.

Di film Everest, memang tidak direncanakan sebelumnya kalau Tim Rob Hall dan Scott Fischer harus dalam pendakian yang sama. Kenal dengan rekan satu grup sudah kewajiban, namun dengan rekan grup lainnya kenapa tidak? Kita tidak tahu siapa orang yang akan menolong kita jika benar-benar dalam kesusahan.

4. Oksigen itu Penting.

Pendaki berpengalaman kadang merasa sanggup melakukan hal yang sama dengan pendakian mereka sebelumnya. Terlebih saat turun dari puncak membuat pendaki seperti ini ogah membawa tabung oksigen tambahan karena dianggap beban atau memang tidak benar-benar membutuhkannya.

Namun siapa yang bisa mengira jika pendaki lain lebih boros dalam menggunakan oksigennya sehingga tabung mereka habis lebih awal. Kita yang masih fit mungkin bisa langsung ngegelosor ke bawah, tapi yang lain belum tentu.

Yang paling parah, sudah tahu hidup di ketinggian bakal membutuhkan oksigen, namun kadang ada saja yang mengesampingkannya. Orang-orang seperti ini tentu belum bisa dikatakan siap mendaki Everest.

Bawalah oksigen yang terisi penuh. Pertama untuk kebutuhan sendiri, kedua untuk kondisi tak terduga, baik untuk menolong diri sendiri lagi atau untuk orang lain. Mungkin saja oksigen yang sudah disiapkan tidak terpakai, tapi persiapan adalah setengah dari kemenangan, bukan? Dan niat baik sudah mencatatkan pahalanya sendiri.

5. Menjaga Isi Kepala.

Kadang hidup di ketinggian membawa seseorang dalam lamunan. Hal mistis pun bisa saja terjadi, dimanadengan tiba-tiba konsentrasi kita buyar. Kondisi ini biasa menyerang orang-orang yang dalam kelelahan, atau ketakutan sangat, termasuk juga yang kekurangan oksigen.

Di film Everest, kita diperlihatkan tokoh Doug yang hilang konsentrasi sehingga ia tidak sanggup lagi mengikat tali temalinya saat menuruni puncak. Harold pun begitu, dia sudah membawa oksigen, namun ketakutan akan badai salju yang menerpanya membuat isi kepalanya kosong. Dia sempat pingsan, lalu setelah tersadar, sayangnya dia linglung dan merasa kalau udara di gunung menjadi sangat panas, karena itu dia pun melepas jaketnya dengan tergesa-gesa sampai-sampai ia limbung dan terjatuh dari puncak kecil di Everest Selatan.

Naik gunung bukan cuma melatih kesabaran, tetapi juga menguji kepala kita tetap bekerja atau tidak. So, keep thinking, guys!

6. Sarung Tangan.

Selain menjaga pikiran dan asupan oksigen, Everest mempunyai suhu udara di bawah nol derajat celcisus. Tubuh yang belum terbiasa akan rentan terserang hipotemia atau bahkan lebih bahaya dari itu.

"Manusia memang tidak dibangun untuk berfungsi pada ketinggian jelajah melebihi dari pesawat Boeing 747," kata Rob mengingatkan bahayanya Everest jika sudah melewati ketinggian 8000 mdpl.

Namun kita bisa menjaga seluruh bagian tubuh kita sehingga tetap dialiri darah dan menjadikan mereka tetap hangat. Caranya selain menjaga gerak masing-masing tubuh, bagian tubuh yang memilikitulang tipis seperti jari tangan, jari kaki, telinga dan hidung harus tetap difungsikan atau dilindungi sebagai mana mestinya.

Jika jari kaki tertutup sepatu yang nyaman, telinga di tutup kupluk, hidung dengan masker, maka menjaga jari tangan adalah dengan sarung tangan. Ini penting. Pasalnya selama mendaki, tangan ini akan menopang banyak hal dan melakukan kegiatan melimpah. Jadi saat ia diam, dan suhu diingin merambat, dia akan membeku lalu terbakar dan bisa saja putus.

Seperti kejadian Beck yang saat terjerembab di salju, mukanya dalam keadaan terbuka tanpa masker, dan sarung tangannya sedang tidak terpakai. Dia kuat berjalan ke Kamp saat sudah kembali sadar, tapi tangannya sudah beku, hidungnya sudah terbakar. Beck kini sudah tidak punya hidung dan jari tangan lagi.
Mau?

7. Komunikasi dengan Keluarga.

Tujuan mendaki sebenarnya bukan cuma ingin sampai ke puncaknya, melainkan secara utuh mereka menginginkan titik awal, yaitu rumah.

Meski sebagian pendaki mengaku kalau mereka melakukan semua itu hanya untuk diri mereka sendiri. Di hati kecilnya, setiap pendaki menginginkan pulang. Sama seperti Astronot yang punya misi sampai ke bulan, namun yang terpenting dari mereka adalah memikirkan bagaimana caranya kembali ke bumi (rumah) dengan selamat.

Nah dalam film Everest, lagi-lagi tokoh Beck termasuk yang rajin menjaga komunikasi dengan keluarganya, terlebih istri dan anak-anaknya. Dengan begitu, ada alasan dan semangat buat kita untuk kembali ke mereka yang sayang sama kita. Berkat menjaga komunikais yang baik, Beck mendapat bantuan nyata sehingga ia ada dalam penjemputan helikopter yang dalam film ini masuk dalam scene yang menegangkan.

8. Selebrasi di Puncak.

Beberapa pendaki akhirnya sukses berada di puncak ketinggian dunia. Untuk merayakan keberhasilan ini tidak usah berlebihan. Cukup keluarkan kamera dan bendera _jika membawanya, lalu ikat baik-baik sebab angin di atas sangat kencang.

Tidak perlu berlama-lama, sebab selain tidak diperkenankan berlama-lama di sana karena antrean, waktu turun pun sudah menunggu. Telat sedikit, maka terpaan cuaca yang datang bisa saja menimbulkan risiko yang besar.

Jangan menghabiskan persediaan bekal dan tenaga kita hanya untuk puncak. Seperti tujuan di awal, selain puncak, pulang ke rumah adalah tujuan selanjutnya. Jadi sisakan tenaga dan bekal seperlunya untuk kita turun dan sampai ke titik awal.

Source; hai-online.com/Feature/Movie/8-Pelajaran-Naik-Gunung-Dari-Film-Everest