Senin, 12 Oktober 2015

7 ALASAN CEWEK PENDAKI GUNUNG TIDAK LAYAK UNTUK DISIA-SIAKAN

Punya teman cewek yang hobi naik gunung? Atau kamu malah salah satu cewek yang suka menaklukkan puncak-puncak tinggi? Betapa beruntungnya dirimu, karena tidak banyak kaum perempuan yang mau bersusah payah mendaki gunung. Bagaimana tidak? Di gunung tidak ada toilet, tidak ada sinyal telepon apalagi internet, jika ingin makan harus masak sendiri, badan dan pakaian kotor penuh debu, seluruh tubuh pegal-pegal, kepanasan di siang hari dan menggigil di malam hari.

Kuat banget kan, pendaki cewek itu? Jika kamu punya stigma negatif tentang pendaki cewek, segera singkirkan hal itu dari benakmu. Mungkin kamu berpikiran bahwa pendaki berjenis kelamin cewek itu cenderung tomboy, dekil dan jarang mandi, serta cuek. Stop! 7 alasan berikut akan membuatmu kagum pada pendaki cewek karena mereka spesies langka yang tidak boleh disia-siakan.

1. Kuat dan Tidak Manja.

Berjalan selama berjam-jam, bahkan 5-7 jam dengan tas ransel atau carrier yang membebani punggung saja pendaki cewek mampu melakukannya. Bekal minum dan makanan hanya seadanya, menunya terbatas pada mie instan dan kopi. Buang hajat di rerumputan dengan berbekal tissue basah. Itu semua harus ditanggung oleh cewek-cewek yang hobi naik gunung.

Capek? Tentu. Mengeluh? Itu adalah pantangan. Seorang pendaki berjenis kelamin cewek ditempa untuk menjadi sosok yang kuat dan tidak manja. Mereka berburu dengan waktu, sehingga harus bisa mengalahkan pesimisme yang muncul dalam diri masing-masing.

2. Pejuang Sejati.

Mendaki gunung yang tingginya ribuan meter di atas permukaan laut bukan persoalan yang mudah. Diperlukan fisik yang kuat dan mental yang mantap bagi seorang cewek yang ingin melakukan pendakian.

Sudah kodrat jika cowok dan cewek memiliki kekuatan yang berbeda, cewek biasanya lebih lemah dari cowok. Tapi saat naik gunung, cewek harus bisa mengimbangi para pendaki cowok agar tidak ketinggalan di tengah jalan. Lihat, kan? Seorang pendaki cewek memiliki semangat berjuang yang besar.

3. Ramah dan Supel.

Saat melakukan pendakian, tentu di perjalanan banyak bertemu dengan pendaki-pendaki lain. Entah itu pendaki cowok atau cewek. Bagi kamu yang sering naik gunung, tentu hafal dengan kebiasaan menyapa pendaki lain. Bahkan mereka bisa menjadi teman perjalananmu selama mendaki gunung.

Pendaki cewek juga sering menyapa sesama teman pendaki lain, bahkan walaupun mereka tidak saling mengenal. Dari sekedar basa-basi, “Mari, Mas/Mbak.” sampai menanyakan asal atau memberi semangat. Bahkan tidak jarang, berawal dari saling berbagi makanan atau foto bersama bisa membentuk sebuah persahabatan.

4. Bukan Orang yang Eksklusif.

Tidur hanya beralas matras dan sleeping bag di tengah alam terbuka saja mau. Makan seadanya, bahkan kadang makanan yang disajikan tidak higienis karena terkena debu saja tidak mengeluh. Capek dan pegal-pegal, tetap berjalan bersama. Pendaki cewek tidak suka menuntut macam-macam.

Jangan cemas jika kamu adalah cowok yang enggak kaya, pendaki cewek bukan orang yang matrealistis. Mereka hanya menginginkan pasangannya mau menerima apa adanya dirinya, seperti halnya mereka menerima apa adanya pasangannya.

5. Sederhana dan Apa Adanya.

Siapa bilang pendaki cewek itu tomboy, sehingga mereka cenderung cuek? Tentu saja tidak! Para pendaki cewek hanya sedikit lebih istimewa daripada cewek-cewek kebanyakan. Pendaki cewek tidak terlalu mempermasalahkan seperti apa mereka di hadapan orang lain.

Mereka tidak suka terlihat cantik dengan make up tebal atau perawatan di salon-salon terkenal. Untuk apa? Toh, make up akan luntur saat terkena panasnya matahari di atas gunung. Begitu pun muka akan terlihat coreng moreng karena debu di sepanjang trek pendakian.

6. Romantis Abis.

Cewek itu gampang tersentuh perasaannya. Tapi, tidak banyak cewek yang mau bersusah payah menunjukkan sisi romantismenya. Kebanyakan malah menuntut cowoknya senantiasa romantis, sedangkan dia sendiri enggan jika harus bersikap romantis. Alasannya: cowok memberi, cewek menerima.

Beda halnya dengan cewek yang suka mendaki gunung, dia tidak akan ragu menggandeng tangan pasangannya sambil menikmati matahari terbit di puncak gunung.

7. Cantiknya Tersembunyi.

Setiap orang tahu, edelweis adalah bunga abadi yang cantik. Tapi orang jarang memperhatikan dandelion yang tak kalah indah, tersembunyi di rerumputan.

Seperti halnya para cewek yang suka mendaki gunung, mereka bagaikan dandelion yang keindahannya kalah oleh edelweis yang terlihat di permukaan. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang jeli yang bisa melihat kecantikan cewek-cewek titisan Srikandi yang berbeda dari yang lain ini.

Source; hipwee.com/list/7-alasan-cewek-yang-suka-mendaki-gunung-tidak-layak-untuk-disia-siakan/?utm_source=Facebook&utm_medium=Social&utm_campaign=fbrepost+%2F+for+reposted+articles

TEKNIK SEAM SEALING

Membuat tenda menjadi waterproof (kembali).


Seringnya tenda dome kita kalau lama dipakai sudah gak waterproof lagi, bocor sana sini kalau hujan. Apalagi kalau dari pertama emang gak waterproof ya jelaslah tembus... hahaha... Bahan yang tdk tembus air ini biasa disebut silnylon karena merupakan kain nilon yang dilapisi silikon biar gak tembus air.
Ini adalah tips dari saya utk melakukan seamsealing disesuaikan dengan ketersediaan bahan di indonesia.

Bahan:
1. Lem kaca / lem silikon bening
2. M3
3. Kuas busa
4. Selotip (jika ingin rapi)
5. Wadah untuk mencampur.

Keterangan:
1. Lem kaca 35gr bisa untuk melapisi semua jahitan tenda dome ukuran 4 orang, itupun masih sisa. Tapi jika ingin melapisi seluruh permukaan tenda bisa beli tube yang agak besar (70 gr), atau kalau mau memperbaiki buanyak tenda sekalian beli yang 300 gr.
Harga 35gr = Rp 5rb-7rb, 70gr = Rp 10rb-14rb, 300gr = Rp 20rb-35rb. Bisa diperoleh di toko bangunan atau toko aquarium.

2. M3 merupakan alternatif dari odorless mineral spirits. Berhubung odorless mineral spirits sangat susah dicari di Indonesia, maka dipakai M3. M3 merupakan thinner yang biasa dipakai di industri sablon.
Harga 250ml sekitar Rp 9rb. Bisa diperoleh di toko bahan sablon.

3. Kuas busa sangat tidak populer di indonesia, makanya gak ada yang jual. Bikin saja dari busa yang dikasih pegangan kayu, atau langsung saja busanya dipegang pakai tangan.

4. Selotip hanya digunakan agar membentuk kerapian... mirip orang ngecat garis itu lah. jadi sebenarnya gak perlu-perlu amat.

Cara melakukan seam sealing:

1. Campur lem silikon dengan M3 dalam suatu wadah dengan perbandingan 1:5. tidak perlu tepat sekali bisa 1:3 sampai 1:10. campur sampai silikon benar-benar larut.

2. Tenda sebaiknya dipasang pada framenya agar mudah dan hasilnya bagus. Jika ingin melakukan seeam seal di bagian dalam pada tenda double layer, maka masangya flysheet posisinya dibalik dalam ditaruh luar biar bisa dikerjakan.

3. Tempelkan selotip di kanan kiri jahitan agar larutan tidak meleber sehingga hasil menjadi rapih. opsional saja jika ingin rapih.

4. Tuaskan larutan dengan kuas busa pada jahitan tersebut sampai merata.

5. Jika ingin seluruh tenda dilapisi waterproofing maka ratakan larutan tipis saja mengkover semua bagian. Kuaskan dengan sapuan panjang dengan ditekan menggunakan jari agar larutan dapat meresap ke dalam kain dengan sempurna.

6. Akan mengering dalam beberapa puluh menit, dan biasanya dalam 24 jam sudah kering sempurna.

7. Jika perlu diulangi terutama pada bagian yang dekat dengan tali.

8. Sebelum dipakai di lapangan cobalah dulu dengan disemprotkan air dari selang untuk memastikan waterproofnya. jika masih ada yang bocor bisa diaplikasi lagi setelah kering.

9. Selamat, anda sudah punya lagi tenda waterproof.

Dengan cara ini hasilnya lebih bagus daripada seamsealer pabrikan (biasanya impor). Jadi hanya dengan duit tak sampai 20rb, kamu bisa menghasilkan seam seal yang lebih bagus daripada seam sealer impor yang mahal itu (harga 1oz di ebay sktr $7). Hasilnya bisa lebih baik daripada dibawa ke tukang. The best part is cara ini bisa digunakan pada tenda murahan yang tembus air agar bisa waterproof. Tenda saya ini (eiger lungern) merupakan versi lawas dan murahan. seam sealnya menggunakan tape - yang sekarang sudah lepas semua. permukaannya pun tidak begitu waterproof, sejak pertama dulu kalau hujan ya airnya agak masuk. Tapi dengan cara ini sekarang sudah tidak bochor... hehehe. Bisa juga diaplikasikan pada rain jacket atau rain cover yang sudah tembus ataupun sepatu agar jadi waterproof.

Source; facebook.com/groups/pendakigunungindonesia/permalink/858720977498800/

===================================================

Disclaimer;

- Silakan ditambahin sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Pengalaman dan pengetahuan yang Anda bagikan akan sangat bermanfaat bagi sesama penggiat alam bebas.

- Artikel ini kami muat dengan tujuan sebagai pengingat, tanpa ada maksud untuk menggurui pendaki senior/pendaki muka lama/pendaki tua atau pendaki yang sudah mengetahuinya terlebih dahulu.

- Bila berkenan silakan dibagikan. Jangan pelit, dibagikan juga ke group yang Anda ikuti.

KENAPA HARUS GUNUNG?


Kenapa harus gunung? Mengapa harus mendaki? Apalagi sampai harus mencintai? Pertanyaaan yang logis memang, karena jika dipikir-pikir dengan akal sehat kegiatan mendaki gunung atau olah raga alam bebas lainnya memang membutuhkan banyak pengorbanan. Gunung adalah ciptaan Tuhan yang bentuknya menjulang ke atas, mencapainya harus banyak perjuangan, mencapainya harus berbekal segudang 'ilmu kesakitan', mencapainya penuh dengan rintangan-rintangan, mencapainya butuh taruhan nyawa, mencapainya butuh mental kuat, mencapainya sangat sulit.

Dan mengapa harus tetap mendaki kalau semua itu dicapainya sangat sulit?.Sepertinya pertanyaan seperti ini juga seringkali diutarakan oleh banyak orang terhadap para pendaki lain. Apalagi pertanyaan ini banyak dilontarkan orang awam ke pendaki. Sepertinya banyak orang yang ingin mengetahui alasan kenapa orang mendaki gunung. Apakah segala sesuatu harus disertai dengan alasan.

Dari pertanyaan yang logis itu banyak juga berbagai macam alasanpun bermunculan baik yang berbau praktis, nasionalis, idealis sampai tataran filosofis selalu menghiasi argumen-argumen agar terkesan logis (apalagi kalau berhadapan dengan Orang Tua saat minta izin, atau ketika ketahuan pergi dengan cara bergerilya). Mendaki gunung memang selalu menarik, apalagi kalau sudah terlanjur mencintai gunung. Dari anak kecil sampai yang berusia lanjut, dari yang opurtunis sampai yang idealis maupun yang sekedar “asal” dan yang profesional bahkan untuk kepentingan ritual tak mampu berkelit dari ’sihirnya”.

Seseorang yang sudah mendaki pasti akan terpesona dengan kuasa Tuhan yang satu ini, mereka yang sudah mendaki pasti akan kembali lagi dan menaklukan puncak-puncak gunung yang lain. Banyak orang-orang 'besar' terkenal pendaki gunung dan beberapa alasan mereka mengapa mendaki gunung seperti Soe Hok Gie “Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup”. Atau Henry Dunant, Bapak Palang Merah dunia. “Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa bila pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung”. Kalau ditelaah dari pendapat diatas bahwa mendaki gunung adalah mengajarkan keberanian hidup, menghargai hidup, sudah pasti mental yang akan terbentuk mental kuat, pribadi yang bersyukur.

Pada awalnya mencapai puncak gunung merupakan kepuasan pribadi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sama halnya dengan kenikmatan penulis ketika berhasil membius para pembacanya.

Jadi, sebenarnya para pendaki gunung itu seperti seorang pemimpi yang haus untuk menggapai mimpinya, sehingga saat mimpi-mimpinya terwujud ada rasa bahagia dan kepuasan yang begitu besar dan seolah tak dapat diungkapkan atau ditukar dengan apapun. Gunung yang tinggi menjulang mengajarkan kita selayaknya pikiran kita harus tetap mengarah ke atas, ke puncak mimpi mimpi kita dan bagaimana cara kita untuk menggapainya tetapi jangan sampai lupakan untuk kembali menengok ke bawah, jalan yang telah kita lalui, semua cerita kenangan dahulu yang mampu memberi kita pelajaran bagaimana kita dapat melalui jalan yang kita arungi saat ini..

Dengan mendaki gunung, paling tidak kita akan mampu mengetahui bahwa kita tak ubahnya seperti seekor semut yang merayap lamban di tengah luasnya hutan. Kita hanya mahluk biasa yang tak berdaya jika berada di alam bebas, tidur di tanah, minum air mentah, berlindung dari dinginnya udara, tak berdaya di tengah kabut atau tak berkutik jika tersesat dan kehabisan bekal. Itulah kita, manusia yang sebenarnya, tak berdaya di tengah alam, apalagi untuk melawannya. Lalu apalagi yang kita sombongkan, melawan alam saja tidak berdaya apalagi melawan kekuasaan Sang Pencipta alam.

Awal mendaki hanya rasa ingin tahu yang besar dan akhirnya menjadi yang mencintai gunung, Mengapa harus gunung? Mengapa mencintai gunung? Berbicara soal rasa tidak mungkin dapat menggambarakn kecintaan itu dengan kata-kata tapi yang pasti karena di gunung ada sesuatu yang patut dicintai. Gunung punya 'sihir' tertentu jadi bagi sebagian orang mendaki gunung seperti sesuatu kebutuhan selayaknya orang minum kopi yang seteguk selalu ada rasa yang beda, seperti mendaki gunung yang melalui perjalanan panjang, lelah mendaki kemudian turun kembali sebagian orang akan berkata bahwa itu adalah hal yang sia – sia. Tetapi ternyata tidak. Ada banyak keuntungan dalam pendakian gunung. Ada hal yang tidak bisa kita temukan saat tidak di gunung.

Ciptaan Tuhan yang maha luas, pemandangan luar biasa. Berada di atas permadani awan, tanpa tiang-tiang penyanggah, batas horizon yang membentang luas tak terbatas, birunya danau yang tercipta di tengah cekungan, serta banyak lagi. Foto mungkin bisa menangkap sebagian kecil visual, tapi dia tidak dapat membawa aroma tanah, desiran angin di pepohonan, atau hangatnya mentari yang menerpa wajah saat berjalan.

Menjadikan pribadi yang bersyukur.

Sederhana yang membahagiakan seperti sebotol air yang didapat saat persediaan air habis. Belum lagi setiap sukses melewati medan berat, atau selamat dari insiden kecil yang membuat kita merasa bahwa Tuhan itu Maha Baik dan bersyukur sekali atas kebaikan – Nya, ditambah merasakan kebesaran – Nya melalui alam ini. Rasanya tingkat keimanan kita jauh lebih meningkat saat di gunung.

DI Gunung hanya akan bilang "Enak!"

Mau buat makanan apapun di gunung pasti habis! Tidak peduli nasi yang belum matang, teh atau kopi yang super dingin. Hanya satu kata: Enak!

Yang pasti Badan Menjadi Sehat.

Awal mendaki gunung yang ada hanya nafas yang memburu, tubuh pegal semua, mengantuk, hingga malas menggelora. Jangan bosan mengulang lagi. Sekali dua kali kemampuan fisik pasti akan meningkat. Setelah turun, kapasitas paru – paru membesar. Yang tadinya tidak kuat lari satu putaran keliling rumah, setelah dari gunung bisa lari 10 kali putaran rumah.

Rasa solidaritasdan sisi kemanusiaan.

Bantuan di gunung lebih 'mudah' kita dapatkan, sekalipun orang yang belum kita kenal. Ada orang asing yang membantu dan menyapa kita merupakan hal yang menyenangkan. Intinya, sisi kemanusiaan kita akan muncul.

Menguatkan Mental.

Semakin ke atas fisik semakin lemah. Jadi ingatlah, asal niat kuat pasti bakal berhasil! Walau badan sudah lemah, kaki sudah tidak mampu melangkah, kalau semangat masih ada, "Eh, kok kita bisa sampai puncak, ya?" Jangan pernah menyerah, karena seberat apapun, toh puncak itu akan sampai juga pada akhirnya.

Menghargai Sebuah Pencapaian.

Perasaan terharu, puas, lega dan bahagia yang tak terlukiskan campur aduk jadi satu. Rasa yang tidak bisa didapatkan di tempat lain, apalagi dibeli. Hanya bisa ditukar dengan ribuan langkah kaki, tetesan keringat dan semangat yang tidak pernah padam.

Tidak ada kesuksesan tanpa jerih payah, bahkan harus dengan keringat, air mata dan darah. Dan “ Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita menawar, terima dan hadapilah“ Soe Hok Gie.

source; rumahsembilan.wordpress.com/2014/06/17/why-mountain/edited
— di Kantor Imigrasi Srengat - Blitar.

BATAS VEGETASI; AREA RAWAN PENDAKI TERSESAT


Sehubungan dengan banyaknya pendaki yang meninggal di gunung saya ingin memaparkan sebuah idea yang mungkin bermanfaat bagi para pendaki. Kawasan batas vegetasi merupakan salah satu tempat yang paling berbahaya di gunung. Beberapa kawasan batas vegetasi yang berbahaya diantaranya adalah Gunung Semeru, terkenal dengan blank 75. Meskipun begitu sebenarnya batas vegetasi Gunung Slamet juga cukup berbahaya. Kali ini saya akan berbagi mengenai teknis agar selamat dari tersesat di kawasan batas vegetasi "GUNUNG SLAMET"

KAPAN?

Biasanya pendaki tersesat di kawasan batas vegetasi bukan pada waktu perjalanan naik, tetapi, justru pada waktu perjalanan turun.

MENGAPA?

1. Ketika hari beranjak siang, TURUN KABUT di kawasan batas vegetasi Gunung Slamet, biasanya sekitar jam sembilan (pagi) ke atas, oleh karena itu mendakilah sepagi mungkin. Tebalnya kabut akan membuat jarak pandang menjadi terbatas sehingga membuat pendaki rawam tersesat ketika perjalanan turun.

2. Batas vegetasi adalah perbatasan antara kawasan hutan dengan puncak (pasir, kerikil, bebatuan). Jalur yang digunakan untuk masuk kembali ke kawasan hutan ketika perjalanan turun sulit ditemukan ketika cuaca berkabut, sehingga banyak pendaki yang akhirnya masuk hutan tidak tepat pada jalurnya, jika diteruskan maka berpotensi masuk jurang atau tersesat di hutan yang sangat lebat, (mirip kronologi pendaki yang masuk Blank 75, Gn. Semeru).

3. Meskipun cuaca tidak sedang berkabut, menemukan pintu masuk ke kawasan hutan merupakan hal yang cukup sulit jika kita kurang teliti. Hal tersebut disebabkan karena jalur pendakian di kawasan tersebut bukanlah satu lajur, bahkan terdiri beberapa lajur, dimana setiap pendaki bisa memilih jalurnya sendiri asalkan mengarah ke puncak. Akibatnya di kawasan itu terdapat banyak jalur yang jika kita kurang teliti, maka akan membuat kita tersesat ketika perjalanan turun.

SOLUSI?

1. KITA bisa meninggalkan poncho, bendera, atau kain yang berwarna mencolok (kuning atau orange) di kawasan batas vegetasi, letakkan di pohon, di tempat yang kira kira terlihat dari atas. Carilah tanda itu saat kita turun dari puncak, jika cuaca tidak berkabut tanda tersebut kemungkinan besar bisa terlihat. Kita tinggal ikuti tanda tersebut. Jika kita mendaki dari jalur Bambangan, Pos 6 akan terlihat dari puncak jika cuaca cerah, bidik arahnya, dan ikuti sudutnya ketika perjalanan turun.

2. KITA bisa menggunakan tissue. Gunakan batu untuk menindih tissue dan tinggalkan dengan interval tertentu sepanjang jalur yang telah kita lewati. Ketika perjalanan turun ikuti tanda tersebut sambil membawa kembali (turun) tissuenya. Tidak perlu repot repot membawa batu dari bawah karena di kawasan tersebut banyak batu dengan ukuran beragam. Cara ini lebih efektif ketika cuaca sedang berkabut.

TERLANJUR TERSESAT ?

Jika kita terlanjur sampai di batas vegetasi dan tidak menemukan jalur pendakian untuk masuk ke kawasan hutan, berarti kita sedang tersesat.

1. Jangan masuk ke hutan tanpa melewati jalur pendakian. Di dalamnya banyak jurang yang siap menanti kedatangan kita. Di dalam hutan juga banyak duri tajam yang bisa membuat lecet / luka sekujur tubuh kita.

2. Jika kita bergerak melipir ke kiri atau ke kanan, kemungkinan besar kita akan menemukan lembah untuk diseberangi. Jika lembahnya dangkal maka mudah untuk kita seberangi, namun, jika lembahnya dalam sebaiknya jangan kita seberangi.

3. Solusi terbaik adalah dengan mendaki kembali ke arah puncak sambil melihat ke arah bawah. Cari jalur yang digunakan untuk masuk ke kawasan hutan sambil terus mendaki ke Puncak. Jika tidak kunjung ketemu, mendakilah terus hingga ke puncak. Dari puncak kita bisa mengulangi lagi perjalanan turun dengan menggunakan jalur yang benar. Mungkin butuh lebih banyak tenaga, akan tetapi, cara ini yang paling aman.

Kondisi jalur pendakian Gunung Slamet, Jalur Bambangan. Dukuhliwung, Guci, dan yang lain cenderung indentik. KOndisi ini juga bisa terjadi di Gunung lain dengan tipe yang sama seperti Gunung Semeru, dengan Blank 75-nya.

KETERANGAN GAMBAR :
Garis Kuning = Jalur pendakian (Bambangan Gn. Slamet)
Titik Kuning = Pintu masuk / keluar kawasan hutan
Titik Biru = Lembah / Jurang
Titik A, B, C, D = Lokasi potensi tersesat

Diteruskan kembali dari catatan Andriyana [KPG]

TIPS MENDAKI GUNUNG


Memandangi alam dari ketinggian adalah hal yang paling membanggakan, apalagi jika sudah sampai di puncak ketinggian. Kita akan diperlihatkan dengan pesona negeri di atas awan.Wah, gak terbayangkan ingin rasanya tiduran dan main-main di atas lautan awan yang luas. Haru biru dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, perjuangan kita menuju puncak mdpl terbayar sudah dengan menatap tanpa kedip lautan samudera awan serta hembusan angin pegunungan yang bergemuruh bersamaan dengan nafas kita yang terengah-engah selama pendakian.

Mungkin untuk sebagian orang, mempunyai hobi berpetualang di alam bebas adalah hal yang cukup extreme terkadang aneh juga, kok mau-maunya naek gunung bawa keril berat-berat terus turun lagi. Namun bagi yang sudah sangat menyukai dan mencintai kegiatan alam bebas mah, mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupannya, tak jarang ada sejumlah penggiat alam yang mencari kehidupan dunianya dibidang ini, entah dengan menjadi guide, porter, trainer outbound, penjual alat perlengkapan alam bebas ataupun menjadi event organizer ekowisata dan lain-lain.

Dengan seiring zaman kegiatan alam bebas di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan banyak event-event organizer yang membuka “open trip” baik itu ke gunung, pulau ataupun ke tempat wisata yang lainnya. Dari harga yang termurah sampai harga termahal (tapi biasanya saya sendiri lebih suka cari yang share-cost, lebih murah dan seru aja. Akan tetapi itu dikembalikan lagi ke yang empunya hajat dan niatannya, mau yang share-cost mangga, mau yang ikut open trip silakan dan mau yang solois duois juga terserah gak ada yang larang kok

Oke, dengan banyaknya peminat kegiatan dialam bebas, baik yang pemula (penjelajah muka lama :p) ataupun yang newbie sebenernya tak ada masalah gak ada istilah senior or junior (yang ada super-junior, coboy junior sama super-mie hehe). Namun perlu digaris bawahi dan di cetak tebal, dengan menjamurnya kegiatan alam bebas ini, sudah seharusnya dan selaiknya kita selaku penggiat memenuhi standar operasional kegiatan hidup di alam bebas. Misalnya, dari kesiapan fisik dan mental, perlengkapan dan peralatan yang nyaman dan aman serta surat perizinan (baik dari orang tua dan simaksi) dll.

Tak ayal juga, banyak penggiat alam bebas yang tidak memenuhi standar operasional, sehingga banyak kejadian yang tidak didinginkan. Dalam coretan, saya akan berbagi tips dan triks bagaimana jika kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat kita sedang melakukan kegiatan di alam bebas.

Keracunan asap belerang.

Pada gunung berapi yang masih aktif, tak heran kita akan menemui beberapa cekungan kawah yang mengandung akan zat belerang. Nah, jika temen-temen yang berwisata, ngetrip ke kawasan gunung api lalu tiba-tiba diperjalanan menghirup bau belerang dengan gejala sesak nafas dan mata perih, karena menghirup zat racun yang dikeluarkan dari belerang tersebut, don’t be panic guys…pertolongan yang lebih awal adalah

- Ambil saputangan, buff atau kain yang ada
- Lalu basahi dengan air bersih
- Kemudian usapkan (tempelkan) pada wajah, diamkan beberapa menit

Atau ada juga yang lain yaitu menggunakan tumbuhan begonia yang tumbuh disekitar pegunungan dengan cara mengambil batangnya lalu kupas kulit batangnya, lalu tumbuk batang tersebut dan ambil perasan air dari batang tersebut.

Setelah keadaan tubuh terkondisi, ambilah langkah dengan teratur untuk segera mencari tempat yang aman.

Mendaki Gunung yang berpasir.

Jika kita mendaki gunung dengan tekstur pendakian berpasir, berbatu serta jarang tumbuhannya, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, diantaranya

- Berjalan/mendakilah sesuai dengan kemampuan tubuh kita
- Pakailah jaket yang tahan angin, karena pada umumnya area gunung yang berpasir udara lebih dingin
- Pakailah sepatu tracking yang nyaman dan aman dikaki
- Gunakan tracking-pool jika kita tidak ada pegangan
- Gunakan kacamata dan masker, karena debu pada gunung api mengandung serbuk kaca yang halus sehingga dapat melukai mata dan pernafasan jika dihirup.
- Jika tidak keberatan, pakailah helm, karena khawatir batu-batu menimpuk kepala kita

Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya. Begitupun dengan keindahan alamnya dari keanaeka ragaman hayati dan non hayati yang tentunya kaya akan manfaat dan kegunaaanya. Tak ada salahnya kita memanfaatkan sumber daya alam yang ada, tapi ingat kita harus melestarikan dan menjaganya agar generasi kita selanjutnya dapat menikmatinya juga. Jujur saja saya, bukan termasuk pendaki, backpack atau penjelajah alam professional, namun saya hanya sekedar berbagi tips, triks dan pengalaman selama dalam perjalanan menjelajah alam bebas, entah ke gunung, laut, pantai, sungai ataupun yang lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang hobi kegiatan di alam bebas.

Source; cadventura.com/tips-aku-dan-kegiatan-alam-bebasku/

TIPS MENDIRIKAN TENDA


Tenda merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pendakian gunung karena tenda inilah yang akan menjadi rumah bagi para pendaki gunung itu sendiri. Setiap pendaki gunung harus paham tentang cara mendirikan tenda yang dibawanya sendiri dan selain itu pula seorang pendaki harus paham terhadap berbagai faktor yang ada di lapangan sebelum mereka mendirikan tenda. Tentunya hal ini bertujuan untuk keamanan dan kenyaman pendaki itu sendiri.

Berikut beberapa tips yang bisa digunakan saat hendak mendirikan tenda :

Perhatikan kondisi lahan.

Sebelum mendirikan tenda sebaiknya perhatikan dahulu kondisi lahan yang akan digunakan. Sebisa mungkin carilah lahan tanah yang datar dan tidak terdapat banyak batu atau akar yang menempatinya karena hal tersebut akan membuat anda tidak nyaman saat hendak tidur ataupun saat berada di dalamnya.

Perhatikan arah mata angin.

Lihatlah dahulu kemana arah angin berhembus dan jika sudah mengetahuinya maka tempatkanlah pintu tenda membelakangi arah angin tersebut. Hal ini berguna agar angin yang berhembus tidak langsung masuk ke dalam tenda yang mengakibatkan anda malah menjadi kedinginan di dalam tenda nantinya.

Dirikan tenda di lokasi yang agak tertutup.

Jika memungkinkan, dirikanlah tenda di lokasi yang agak tertutup dan hindari mendirikannya di tanah lapang. Hal ini cukup berguna untuk meminimalisir hembusan angin kencang yang bisa menerpa tenda anda. Selain itu perhatikan pula kondisi lingkungan sekitarnya, hindari untuk mendirikan tenda di dekat pohon yang sudah mati karena lebih rawan untuk tumbang.

Hindari untuk mendirikan tenda tepat di jalur pendakian.

Terkadang pendaki bisa saja mengalami kondisi yang memaksa untuk mendirikan tenda di jalur pendakian. Namun alangkah baiknya jika anda mendirikan tenda sedikit keluar dari jalur pendakian, hal ini tentunya akan lebih baik dan aman karena tidak akan menghambat atau menghalangi pendaki lain yang mungkin juga sedang melewati jalur tersebut.

Jangan mendirikan tenda di pinggir sungai.

Walaupun dengan alasan lebih dekat dengan sumber air namun hal tersebut justru tidak baik karena lebih rawan terhadap luapan air sungai yang bisa terjadi kapan saja, terutama saat hujan datang. Selain itu pula sungai merupakan sumber air yang biasa digunakan binatang untuk minum, tentunya anda tidak mengharapkan kedatangan binatang ini bukan ?.

Berilah alas pada tenda (footprint).

Hal ini cukup berguna untuk meminimalisir suhu dingin yang terdapat pada tanah, terutama saat menjelang malam hari. Selain itu pula dapat melindungi tenda anda dari kebasahan akibat rembesan air dari tanah. Pemberian alas pada tenda ini bisa dengan menggunakan rumput atau dedaunan kering yang terdapat di sekitar lokasi tenda. Bisa pula dengan membawa sebuah flysheet atau footprint yang memang sudah banyak dijual di pasaran.

Tambahkan pasak tenda.

Pasak berfungsi untuk memperkuat berdirinya tenda dari terpaan angin. Biasanya setiap tenda yang dijual sudah termasuk dengan pasak. Gunakanlah pasak ini untuk ditancapkan pada masing-masing sisi tenda. Bila perlu tambahkan pula tali-tali bantu tenda untuk di ikatkan pada penambat yang ada di sekitarnya.

Buatlah parit kecil di sekitar tenda.

Saat hujan turun maka parit inilah yang akan berfungsi untuk menghalau air hujan masuk ke dalam tenda. Buatlah parit kecil ini melingkari tenda sesuai dengan bentuknya kemudian berikan jalur pembuangan airnya sehingga air bisa mengalir tanpa harus tergenang di dalam parit.

Kumpulkan kelengkapan tenda yang tidak terpakai.

Jangan biarkan semua sisa kelengkapan tenda yang tidak terpakai berceceran di luar tenda karena rawan untuk kehilangan. Kelengkapan tenda seperti kantong tenda, sisa pasak dan tali tenda sebaiknya dikumpulkan dalam satu wadah dan masukkan ke dalam tenda agar terhindar dari kelupaan untuk membawanya.

Jangan memaksa keadaan.

Saat cuaca sedang hujan lebat yang disertai angin kencang, saat itulah kekuatan tenda akan di uji. Jika anda mengalami suatu kondisi yang mengkhawatirkan terhadap tenda yang rawan patah, sebaiknya segeralah berpindah tempat untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Dengan memperhatikan faktor kondisi lapangan terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda, diharapkan dapat lebih membuat rasa aman dan nyaman bagi seorang pendaki dalam menghuni rumahnya yang bernama tenda. Dengan tidur yang nyaman di tenda tentunya akan memulihkan tenaga yang telah habis setelah seharian penuh berjalan. Selamat berpetualang!

Source; alidesta.wordpress.com/2015/03/17/tips-mendirikan-tenda-di-gunung-yang-baik-dan-benar/

KAMI MENDAKI GUNUNG KARENA KAMI MENGHARGAI HIDUP

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hiiiiii”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual!!!!!

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang - orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh!

Source; hutantropis.com/kami-mendaki-gunung-karena-menghargai-hidup