Minggu, 28 Februari 2016

Badai Es di Puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu


You'll Never Walk Alone
Sugeng enjing Kangmas Mbakyu sedoyo, apa kabar ...

Jumpa lagi dengan Grup legendaris GARUKPALA yang super gokil, trip GARUKPALA kali ini terdiri dari Bang Bara pria kelahiran Solo yang terkenal dengan suara emasnya, Bang Ari pemuda sleman yang penuh talenta, Bang Dani anak jakarta sekaligus Arjunanya Garukpala dan yang terakhir saya Ryan bocah jogja yang selalu patuh pada undang-undang yang berlaku. Dan tujuan kita kali ini adalah Gunung Merbabu via Wekas, trip kali ini adalah inisiatif dari Bang Bara yang ingin memperkenalkan keindahan puncak Gunung Merbabu kepada kami para pendaki pemula.

Gunung Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.142M dpl pada puncak Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata "meru" yang berarti gunung dan "babu" yang berarti wanita. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.

Dengan cuaca yang masih kurang bersahabat kami sepakat ketemu di Basecamp Wekas jam 09:00 dan memulai pendakian jam 10:00, sekedar informasi alamat ke Basecamp Wekas adalah Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kec. Pakis, Kabupaten Magelang. dengan koordinat 7°26’08.2″S 110°23’15.0″E . nah dari lokasi tersebut tinggal ikuti saja petunjuk arah yang sudah tersedia.
Karena rumah saya dan Bang Ari searah jadi kami berangkatnya bareng sedangkan Bang Bara bareng sama Bang Dani yang sehari sebelumnya sudah menginap di rumahnya.
Gerbang Basecamp Wekas
Pos TPR
Jam 08:00 saya dan Bang Ari sudah sampai Basecamp Wekas, setelah membayar tiket pendakian sebesar Rp 5.000 sambil menunggu Bang Bara dan Bang Dani kami memesan sarapan dan segelas susu jahe.
Jam 13:00 Bang Bara dan bang Dani belum juga datang padahal area basecamp sudah diguyur hujan yang sangat lebat, karena enggak ada signal kami kesulitan untuk menghubungi mereka, kami khawatir terjadi sesuatu dengan mereka atau tiba-tiba mereka SMS "Bro, aku sudah sampai puncak kenteng songo. buruan naik.". kalau gitu kan berabe ...

Jam 14:00 akhirnya Bang Bara dan Bang Dani sampai juga di Basecamp, ternyata mereka tadi salah jalan..  "Oalah bang gak apa-apa salah jalan yang penting tidak salah urat, kalau salah urat gagal deh rencana muncak." candaku ke Bang Bara.
Setelah menunaikan ibadah sholat ashar, dengan formasi Bang Bara paling depan di susul Bang Ari dan Bang Dani serta saya yang paling belakang, kami memulai pendakian dengan di iringi hujan yang sangat deras.
GARUKPALA ...Yeahhh !!!
Peta pendakian

Bara Captain Fantastic
Ari Mr. Incredible
Dani Prince of Garukpala
Ryan The Iceman
Karena hujan tidak kunjung reda, perjalanan kami dari basecamp ke pos 2 atau camping area hampir tanpa istirahat dan sebelum maghrib kami sudah sampai di tempat tersebut. Tanpa berlama-lama kami mendirikan tenda kemudian kami menunaikan ibadah sholat maghrib dan memasak untuk makan malam. Setelah makan malam sambil mendengarkan musik dan temani kopi hangat kami mengobrol tentang pacar, tentang mantan, mantan yang belum sempat jadi pacar bahkan kami membicarakan tentang Politik, seperti siapa yang layak memimpin indonesia di tahun 2097 mendatang dan siapa dalang dibalik menjomblonya Bang Bara dalam beberapa tahun terakhir.

Malam semakin larut, setelah menunaikan ibadah sholat isya Bang Dani tidur duluan disusul Bang Ari dan Bang Bara. Jam tangan sudah menunjukan pukul 23:00 waktu setempat tapi mataku belum juga terpejam, terbayang andai saja di gunung seperti ini ada seseorang yang memberi kehangatan seperti bakso atau wedang ronde pasti ceritanya akan berbeda. Dengan ijin Allah tak lama kemudian saya juga tertidur, tapi tepat jam 00:00 sesuatu yang ganjilpun membangunkan saya, saat itu kebetulan saya tidur paling pinggir dekat pintu tenda dengan keadaan yang masih sangat mengantuk saya mendengar suara lelaki paruh baya yang sepertinya sudah menjomblo cukup lama dan suara itu semakin lama semakin keras dan semakin membuat saya merinding, dan saat saya menoleh kesebelah kanan ternyata itu suara Bang Bara yang sedang mengigau, "Oalah ternyata suaramu toh bang ..." kataku dalam hati, akhirnya saya melanjutkan tidur malam saya.

Jam 03:30 alarm dari hp bang bara memecah kesunyian di pagi yang dingin itu, "dasar alarm gak tau diri, bukan siapa-siapa gua, berani-beraninya loe jam segini sudah bangunin !!!"  bentak Bang Bara. "ini apa-apaan sih bang pagi buta sudah ribut, aku masih ngantuk nih. ayo tidur lagi aja..." sahutku. akhirnya kami tidur lagi.

Akhirnya jam 05:00 kami benar-benar bangun, setelah menunaikan ibadah sholat subuh kami membuat sarapan,  dan sarapan kali ini kami membuatnya sangat spesial karena kami memakai resep ala chef internasional seperti Chef Bara, Chef Dani Chef Ari dan Chef ryan. Karena nama mereka sudah sangat populer di dunia kuliner, terbayang kan betapa dasyat resep dari chef-chef tersebut.
Pagi itu kami benar-benar sibuk, ada yang manasi sepatu pakai kompor, ada yang berlari-lari kecil di sekitar tenda, ada yang meratapi nasib sudah lama menjomblo dan ada yang sedang serius menyaksikan orang manasi sepatu pakai kompor, orang yang berlari-lari kecil di sekitar tenda dan orang yang meratapi nasib sudah lama menjomblo.
Buat para wanita,
sini abang punya kompor cinta yang siap menghangatkan hatimu ...
cukup ketik Reg (spasi) GARUKPALA dan lapor ke Kepala RT setempat
Dengan di awali do'a, jam 07:00 kami memulai perjalanan ke puncak Merbabu, berbeda dengan gunung jawa tengah lainya jalur ke puncak merbabu via wekas ini lumayan bersahabat, jadi kami bisa menikmati perjalanan dengan sesantai mungkin.
4 Pemuda lugu yang jauh dari rumah
Para pria sehat
Puncak nan jauh di sana ...
Di atas kawah
Masih diatas kawah
Tugu simpang
Perjalanan dari Pos 2 menuju puncak awalnya lancar, di sepanjang  jalur kami di suguhkan pemandangan yang luar biasa, tapi semua berubah saat kami sudah sampai di persimpangan antara Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo. Cuaca yang tadinya cerah dalam sekejap berubah menjadi berkabut yang tak lama kemudian menjadi hujan di sertai es sebesar biji kapuk, biji jagung bahkan ada yang sebesar kelereng semua itu di iringi angin dan gemuruh petir yang sangat keras, dengan keadaan seperti itu kami di puncak kenteng songo tidak lebih dari 30 detik dan tidak sempat membuat dokumentasi. Setelah bersujud syukur karena sudah sampai puncak, kami meminta perlindungan kepada Allah agar di beri keselamatan dari keadaan itu, kemudian kami turun.
Perjalanan turun dari puncak Kenteng Songo adalah perjalanan terberat saya dan kawan-kawan selama menjadi seorang pendaki, bahkan kata Bang Dani dan Bang Bara kejadian ini lebih berat dari pendakian di Gunung Semeru. Saat yang paling menegangkan adalah saat turun melewati Jembatan Setan, persendian kami sudah sangat kaku bahkan untuk pegangan pada sebuah batu saja sudah sangat sulit. Di saat-saat kritis tersebut pikiran-pikiran yang tidak wajarpun menghinggapi di otak kami, Bang Bara berfikir pasti di antara kami akan menjadi "korban" dalam kejadian tersebut, Bang Ari berfikir dia "tidak akan bisa" melewati, keadaan itu, Bang Dani dia berfikir lebih baik jatuh ke jurang daripada "terjadi apa-apa" dengan dirinya dan menjadi beban untuk yang lain dan saya sendiri berfikir kalau semua ini adalah akibat dosa di masa lalu, dalam hati saya berdo'a "ya Allah kalau memang semua ini karena dosaku yang telah lalu, aku mohon jangan libatkan para sahabat yang aku sayangi". Jujur bro, dulu saya pernah berbuat kesalahan karena berpacaran dengan anak Kepala RT di tempatku padahal hukum adat di tempatku berpacaran dengan anak seorang Kepala RT itu hukumnya Pamali atau biasa disebut Ora ilok bagi rakyak jelata seperti saya dan itu tidak boleh dilanggar.
Dengan sambil menahan dingin yang menusuk tulang kami bersama berjalan melewati angin dan badai, dengan keadaan seperti itu saya teringat lagu You'll Never Walk Alone, lagu kebesaran semua kopites di dunia ...

You'll Never Walk Alone
When you walk through a storm
Saat kau berjalan lalui badai

Hold your head up high
Tegakkan kepalamu

And don't be afraid of the dark
Dan jangan takut pada gelap

At the end of a storm is a golden sky
Di akhir badai, ada langit keemasan

And the sweet silver song of a lark
Dan lagu bahtera perak yang indah


Walk on through the wind
Teruslah berjalan lalui angin

Walk on through the rain
Teruslah berjalan lalui hujan

Tho' your dreams be tossed and blown
Meski mimpi-mimpimu terombang-ambing

Walk on, walk on with hope in your heart
Teruslah berjalan dengan asa di hatimu

And you'll never walk alone
Dan kau takkan pernah berjalan seorang diri

You'll never, ever walk alone
Kau takkan pernah berjalan seorang diri


Walk on, walk on with hope in your heart
Teruslah berjalan dengan asa di hatimu

And
You'll never walk alone
Dan kau takkan pernah berjalan seorang diri
You'll never, ever walk alone
Kau takkan pernah berjalan seorang diri


Dengan menyayikan lagi ini di sepanjang jalur pendakian benar-benar membakar semangat yang sempat surut oleh kejamnya angin dan badai, dengan penuh rasa syukur akhirnya jam 12:00 kami sampai di pos 2. Sambil menghangatkan badan kami memasak untuk makan siang, tak lama kemudian sambil makan siang kami membicaran apa yang baru saja terjadi, di dalam keceriaan itu itu saya sadar bahwa mereka bukan sekedar teman dalam pendakian tapi mereka adalah saudara yang sangat saya sayangi.
Setelah menunaikan ibadah sholat dzuhur kami berkemas untuk kembali ke basecamp.
Karena saat itu kondisi kami sudah sangat capek perjalanan dari pos 2 ke Basecamp membutuhkan waktu selama 3 jam.
Setelah cukup beristirahat dan membayar parkir sebanyak Rp 5.000 kami minta ijin kepada Bapak penjaga Basecamp untuk pulang, dan kami juga saling berpamitan. Saya dan Bang Ari kembali ke Jogja, Bang Bara dan Bang Dani kembali ke Solo.
GARUKPALA ... Uhuuuy !!!
Jam 21:30  saya sampai Jogja, tak lama kemudian saya dapat pesan kalau Bang Ari, Banga Bara dan Bang Dani sudah sampai rumah dengan selamat.
Rasa bahagia dan sedih menjadi satu, saya sangat bahagia karena dengan kekompakan tim akhirnya bisa mencapai puncak dan kembali dengan selamat dan melewati perjalanan yang sangat mengesankan, tetapi disisi lain saya juga bersedih karena berpisah dengan para sahabat yang luar biasa. Dengan kesibukan masing-masing, entah kapan kami bisa berkumpul dan melakukan pendakian lagi ...

Terimakasih Tuhan atas indahnya hidup ini.
Terimakasih telah memberi kemudahan dan keselamatan di sepanjang pendakian ini.
Terimakasih telah mempertemukan
aku dengan sahabat-sahabat yang menjadi keluarga bagiku ...
dan terimakasih buat Bang Bara, Bang Ari dan Bang Dani karena di dalam pendakian ini kita bisa saling menjaga satu sama lain, saling mendukung dan saling melindungi. Semoga di trip selanjutnya kita semakin solid dan kompak.
suatu kehormatan dapat kesempatan mendaki bersama orang-orang hebat seperti kalian.
keberhasilan kita sampai puncak memang luar biasa tapi perjuangan kita melewati segala rintangan itu yang tak akan terlupakan.

Dan semoga pengalaman di pendakian Gunung Merbabu ini memberikan kita inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik. Amin

Cerita ini di angkat dari pendakian kami di Gunung Merbabu via Wekas Selasa 23 Februari 2016, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Untuk video pendakian tim garukpala bisa di lihat di Pendakian Gunung Merbabu via Wekas

Salam lestari.
YNWA

Sabtu, 16 Januari 2016

Pendakian di Puncak Tugu Magir Titik Tertinggi Gunungkidul

Sebagai seorang pendaki yang masih dalam kategori pemula saya iseng-iseng nyari informasi di tempatnya Mbah Gugel, letak titik tertinggi di Kabupaten Gunungkidul. siapa tahu berawal dari pendakian titik tertinggi Gunungkidul bisa ke titik tertinggi pulau Jawa, Indonesia dan dunia. hehehe
Anggapan saya bahwa titik tertinggi di Gunungkidul adalah Gunung Nglanggeran ternyata salah, karena titik tertinggi di Gunungkidul berada di puncak bukit Batara Sriten yang terletak di Padukuhan Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul Yogyakarta dengan Koordinat klik di sini.
Embung Batara Sriten
O iya, sekedar informasi nama Batara Sriten enggak ada hubunganya dengan tokoh pewayangan seperti Batara Indra, Batara Bayu atau Batara Kala loh bro tapi sebutan Batara Sriten diberikan karena lokasi bukit ini berada di Pegunungan Baturagung Utara yang kemudian disingkat menjadi Batara, tepatnya di wilayah Padukuhan Sriten.
Seperti biasanya disetiap persiapan sebelum pendakian saya sempatkan 2 minggu sebelumnya untuk berolahraga secara teratur untuk meminimalisir cedera otot atau hal lainya.
Akhirnya pada hari kamis 7 januari 2016 saya memulai perjalanan yang sudah saya rencanakan itu, dan untuk perjalanan kali ini saya ditemani Ibu Negara (sebutan untuk mbak pacar)
Jam 08:00 kami memulai perjalanan dari jogja, dengan rute:
Jogja - Jl. Wonosari - Piyungan - Pathuk - Pertigaan Sambipitu (ambil kiri, arah nglipar) - Pertigaan Besar (sbelum pasar nglipar) ambil kiri - Jalan Nglipar_Ngawen - Kedungpoh - Pertigaan setelah Kantor Kepala Desa Pilangrejo (ke kiri, lihat papan petunjuk) - masuk jalan cor berbatu dan menanjak (ikuti papan petunjuk) - Embung Batara Sriten.
Perjalanan dari jogja sampai ke jalan nglipar-ngawen mulus dan lancar, setelah pertigaan kantor kepala desa pilangrejo jalanan mulai menanjak, akhirnya Si Ipul (motor matic kesayangan) mulai bekerja keras membawa saya dan ibu negara ke puncak. Baru nanjak sekitar 2 KM karena kondisi jalan yang semakin rusak akhirnya Si Ipul menyerah, dengan kondisi seperti itu saya turun membawa semua barang-barang dengan jalan kaki, kemudian Ibu Negara sendirian berjuang dengan Si Ipul melewati jalan nanjak dengan kondisi yang mulai rusak dan menunggu saya di jalan yang mulai landai. Kejadian seperti itu sampai berulang 5x.Dengan penuh perjuangan akhirnya kami sampai di Pos Retribusi, dan untuk masuk ke tempat wisata ini kami cukup membayar Rp 8.000 dengan rincian biaya parkir motor Rp 2.000 dan tiket untuk 2 orang Rp 6.000.
Dengan penuh perjuangan akhirnya kami sampai di Embung Batara Sriten saat itu sudah jam 09:45, ternyata bukit yang saya maksud letaknya tidak jauh dari Embung Batara Sriten padahal perkiraan saya untuk sampai ke puncak bukit harus trekking seperti Gunung Nglanggeran.
Sambil beristirahat di salahsatu gazebo kami membuka bekal berupa soft drink dan snack yang kami beli di tengah perjalan tadi.
Peragawati dan Binarangka
Ibu Negara versi Garukpala
Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan ke puncak Tugu Magir, begitulah puncak di sisi timur itu disebut. dan dari embung ke puncak kami hanya membutuhkan waktu 5 menit."Wah kalau kayagini yang muncak motornya, bukan pendakinya" kataku dalam hati. Di tempat ini ternyata terdapat sebuah makam tiban yang dipercaya sebagai petilasan Syeh Wali Jati, seorang kerabat Sultan pada masanya.
Petilasan Syeh Wali Jati
Puncak Tugu Magir yang berketinggian 859 Mdpl menyuguhkan pemandangan 360 derajat wilayah-wilayah di sekitarnya seperti Rawa Jombor, Gunung Merapi, deretan pegunungan Gunungkidul dan Wonogiri. Saat menikmati keindahan di puncak terlintas sebuah imajinasi, andai saja di area ini belum ada akses jalan untuk kendaraan bermotor pasti tempat ini sangat potensial untuk di jadikan tujuan pendakian seperti Gunung Andong atau Gunung Prau, dengan suguhan pemaandangan yang di berikan Puncak Tugu Magir saya yakin misalnya puncak ini di jadikan sebuah tempat pendakian pasti setiap hari akan penuh dengan Tenda Dome para pendaki.
Melamun tanda tak dalam
Ngademke pikir
Bahagia diatas kepedihan orang lain
yang corat-coret kalian NORAK !!!
Batas antara bahagia dan luka
Puncak tertinggi Gunungkidul
Sebenarnya kami ingin menikmati keindahan sunset di Embung Batara Sriten tapi karena saat itu masih sekitar jam 14:00 daripada terlalu lama menunggu kami gunakan untuk melanjutkan perjalanan dan menikmati sunset di tempat lain.
Perjalanan turun dari lokasi embung ternyata lumayan menegangkan, menyusuri jalanan menurun curam kami hanya menggunakan motor matic padahal untuk ke tempat Wisata Batara Sriten sangat tidak disarankan bila menggunakan motor matic. Tidak adanya engine brake pada motor matic membuat pengemudi hanya bisa mengandalkan rem, sehingga lebih mudah mengalami over heating pada disc brake.
Sekian catatan perjalanan saya di Tempat Wisata Batara Sriten dan untuk videonya bisa dilihat di Trip ke Embung Batara Sriten dan Puncak Tugu Magir, semoga bermanfaat.

Untuk mengikuti perjalanan saya selanjutnya silahkan berkunjung di Gunung Ireng Kepingan Merapi di Sisi Selatan Yogyakarta.
Salam Lestari

You'll Never Walk Alone

Gunung Ireng Kepingan Merapi di Sisi Selatan Yogyakarta

"Berawal dari kisah Raden Bratasena dalam lakon pewayangan. Pada zaman dahulu kala, konon Raden Bratasena sangat marah ketika melihat sekelompok kera bermain bintang di puncak Merapi sehingga Raden Bratasena menendang sekelompok kera tersebut namun tendanganya meleset melainkan mengenai puncak merapi sehingga terlempar jauh di segala penjuru salah satunya di padukuhan Srumbung yakni Gunung Ireng".
Itulah sejarah singkat dari Gunung Ireng ...

Melanjutkan perjalanan dari Wisata Batara Sriten saya langsung tancap gas menuju Gunung Ireng yang terletak di Padukuhan Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta dengan Koordinat GPS Klik disini.
Misalnya dari jogja langsung saja menuju bukit bintang, dari bukit bintang terus aja sampai perempatan radio GCD FM atau kantor Polisi Patuk. Nah, sampai perempatan ini ambil kanan, kalau kiri ke gunung api nglanggeran, kalo lurus terus ya ke Wonosari. Setelah ambil kanan lurus dikit nanti ada pertigaan lurus saja jalannya menurun, emang kalau jalan besarnya belok kanan tp itu arah ke hutan pinus imogiri. Setelah lurus terus ikuti jalan itu sampai mentok ketemu perempatan yang ada tugunya kemudian ambil kanan, gak jauh dari situ sudah ada papan penunjuknya Gunung Ireng. Papannya ada dikiri jalan. Nah, tinggal ikuti papan itu aja belok kanan kemudian kiri jalan sudah ada gapura masuk Gunung Ireng.
Lurah Garukpala Adventure
Setelah melewati macetnya Jl. wonosari  jam 17:20 akhirnya saya sampai di Pos retribusi kawasan Gunung Ireng, dengan membayar Rp 2.000 untuk biaya rparkir dan Rp 3.000 untuk biaya masuk kawasan wisata saya melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Ireng. Perjalanan dari tempat parkir ke puncak Gunung Ireng ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 5 menit saya sudah sampai puncak Gunung Ireng.
Pos Retribusi dan tempat parkir
kawasan wisata Watu Ireng
Sebenarnya banyak yang di tawarkan di kawasan wisata Gunung Ireng seperti lafal Allah raksasa yang terukir jelas di dinding Gunung Ireng. Di bawahnya juga ada sebuah batu yang sebagian masyarakat meyakini kalau di sini dulu adalah bekas candi Hindu-Budha.
Ada juga yang meyakini kalau di sini sebagai petilasan Sunan Geseng dan Sunan Kalijaga. Bukti lainnya yakni adanya batu yang kita namai watu lumpang, watu lumpang merupakan cekungan kecil berjumlah 5 buah yang mengandung arti 5 rukun Islam. Menurut cerita orang tua, konon di lokasi ini sering terdengar suara orang memainkan gejok lesung yang suaranya bisa terdengar hingga daerah Bantul.
Selain itu, masih di area Gunung Ireng, ada batu yang disebut sebagai watu tapak kaki. Seperti namanya, batu itu berbentuk sebuah telapak kaki.Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah kubangan dekat sumber mata air yang dinamakan sebagai Sendang Ayu. Konon, masyarakat percaya jika air sendang ayu digunakan untuk membasuh muka bisa menjadi awet muda. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, saya hanya menuju puncak dan menungggu datangnya sunset, tapi saat itu saya kurang beruntung setelah menunggu sampai jam 18:00 sunset indah yang saya harapkan sama sekali tidak kelihatan yang ada cuma kabut tebal yang menyelimuti sisi barat Gunung Ireng.
O iya, selain kaya akan peninggalan dan batu-batuan unik, Gunung Ireng juga menyajikan pemandangan asyik saat pagi hari. Jadi misalnya camping di tempat ini kalau beruntung bisa melihat sunrise dengan view seperti di atas awan layaknya gunung dengan ketinggian 3000 MDPL.

Nunggu KEPASTIAN sunset
Salah-satu Spot camping di kawasan wisata Watu Ireng
Siluet

Gazebo di atas tebing salah-satu ikon kawasan wisata Watu Ireng
Jürgen Klopp jowo
Jam 18:30 dengan perasaan sedikit kecewa saya kembali ke jogja tercinta.

Sekian catatan perjalanan singkat Gunung Ireng Kepingan Merapi di Sisi Selatan Yogyakarta dan untuk videonya bisa dilihat di Trip ke Watu Ireng Gunungkidul Yogyakarta.

Semoga bermanfaat.
Salam Lestari

You'll Never Walk Alone

Selasa, 29 Desember 2015

Watu Payung Kedamaian di Sisi Selatan Kota Djogja

Gardu pandang watu payung
Berawal dari rasa penasaran saat melihat papan penunjuk arah yang bertuliskan "Wisata Watu Payung" ketika pulang kampung kemarin, akhirnya keinginan untuk ke tempat tersebut kesampaian juga.
Seperti tempat wisata pada umumnya wisata patu payung ini sudah ada fasilitas toilet, mushola dan beberapa bangunan untuk beristirahat dan yang istimewa dari tempat wisata ini adalah adanya 2 gardu pandang yang terletak di sisi utara area ini.
Kenapa saya menyebutnya istimewa dikarenakan pada saat-saat tertentu akan muncul lautan awan di bawah gardu pandang tersebut, layaknya gunung di ketinggian 3000 MDPL.
Wisata payung berada di Dusun Turunan, Desa Giri Suko, Panggang, Gunungkidul. Area ini juga merupakan Kawasan Karst Pegunungan Sewu, yakni kawasan konservasi tempat hidup fauna endemi, antara lain kera ekor panjang.
Setelah melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor selama 40 menit akhirnya saya sampai di kawasan wisata watu payung, untuk sampai ke watu wayung rutenya juga sangat mudah kok, dari jogja cukup ambil arah arah menuju panggang (lewat jalan imogiri), nah nanti setelah tanjakan kan ada SPBU di kiri jalan, kurang lebih 200 meter selanjutnya akan menemui persimpangan yang ada papan penunjuk arah yang bertuliskan wisata watu payung, disini ambil kiri, kurang lebih 2 - 3 KM nanti kalian akan sampai di pintu masuk kawasan wisata watu payung atau bisa menggunakan GPS dengan koordinat 7°58'27.9"S 110°26'11.0"E
Persimpangan dari jogja menuju panggang,
dari sini ambil kiri ya bro ...
pintu masuk kawasan watu payung
Saat itu sudah jam 08:00 tapi belum ada penjaga atau wisatawan sama sekali, tanpa membuang waktu saya berkeliling di kawasan wisata watu payung. Sambil beristirahat di salah satu gardu pandang saya melihat beberapa hasil jepretan kamera saya, saya masih penasaran apa saja yang ada di kawasan wisata watu payung ini.
Beberapa fasilitas yang ada di kawasan wisata watu payung ...








Akhirnya kurang lebih jam 09:00 datang salah satu penjaga wisata watu payung, karena saya sangat penasaran apa saja yang ada di kawasan wisata watu payung, saya langsung bertanya kepada beliau tentang kawasan wisata watu payung.
"Di area watu payung ini ada 2 gardu pandang yang menjadi andalan di tempat wisata ini mas, karena di waktu-waktu tertentu ada lautan awan di bawah gardu pandang tersebut, dan di bawah sana ada yang namanya goa jodo, goa gatotkaca, watu belah, goa pertapan dan air terjun."  jawab beliau.
Setelah mendengar penjelasan seperti itu saya langsung bersemangat dan meminta ijin untuk pergi ke semua tempat tersebut.
jalan menuju area hutan
batas wilayah kabupaten gunungkidul dan bantul
goa jodo
Belum menemukan lokasi air terjun,
yang saya dapat hanyalah mata air ini.
itu loh yang katanya goa pertapan
1 jam lebih saya berputar-putar di area hutan yang di jelaskan bapak tadi, bahkan sampai melewati jauh ancer-ancer yang menjadi acuan perjalanan saya tapi belum juga menemukan tempat-tempat yang bapak tadi sebutkan. Tidak adanya penunjuk arah dan lebatnya hutan menjadikan saya patah semangat. dan di saat saya mau kembali saya bertemu bapak-bapak yang sedang pulang mencari rumput. saya menceritakan tujuan perjalanan saya sampai di tempat tersebut dan bapak itupun memberi arahan "kalau air terjun setahu saya di area sini tidak ada mas, yang ada hanyalah sungai kecil dari beberapa mata air yang mengalir ke sungai besar di bawah sana dan untuk goa-goa yang mas sebutkan sebaiknya niat sampean kesana di urungkan saja karena jalan menuju kesana masih penuh dengan semak belukar yang kalau musim seperti ini banyak terdapat ular berbisa". setelah mendengar penjelasan seperti itu saya berterimakasih dan pamit kembali. Saya gak mau sembrono mengambil resiko yang sangat tinggi hanya untuk sebuah adventure.

Jam 11:20 akhirnya saya sampai di gardu pandang sisi barat, disini saya membuka bekal berupa soft drink dan snack, sambil beristirahat saya mendengarkan mp3 lewat headset kesayangan. saat itu cuaca pas lagi cerah, jadi waktu istirahat saya sangat istimewa karena di suguhi pemandangan yang sangat indah.
Hamparan pegunungan hijau dengan langit biru di atasnya sungguh memberi kedamaian siapapun yang melihatnya.
Jam 13:00 saya berkemas, setelah membayar biaya retribusi dan parkir yang belum sempat saya bayar tadi pagi saya kembali ke jogja.

Sebelum pulang saya sempat memberi saran kalau sebaiknya untuk menuju area yang di dalam hutan di beri penunjuk arah agar para wisatawan yang datang berkunjung tidak kecelik seperti saya.

Sekian catatan perjalanan saya kemarin di kawasan wisata watu payung.

Salam Lestari

YNWA

Senin, 28 Desember 2015

Kisah Nyata, Sendirian Tersesat Di Gunung.


Maaf ...
foto pinjam pendakian tim garukpala.
Semua berawal seperti biasanya sebelum pendakian kami melakukan registrasi di basecamp pendakian. Karena kami berencana hanya melakukan pendakian selama 1 hari dengan rencana berangkat pagi dan turun dari puncak sebelum matahari terbenam, jam 8 pagi dengan di awali dengan berdo’a kami berdua memulai perjalanan. Kami bercanda dan tertawa di sepanjang perjalanan tapi semua berubah waktu kami sampai di pos terakhir sebelum ke puncak, karena saat itu pemandangan di sekitar sangat indah saya meminta ijin untuk tinggal sebentar untuk mengabadikan momen indah tersebut, pemandangan yang tadinya sangat indah dan hijau tiba-tiba di selimuti kabut yang sangat tebal dan jarak pandangpun berkurang. dengan tergesa-gesa saya memasukan kamera ke dalam tas dan berusaha menyusul teman saya yang  naik duluan tapi di tengah perjalanan saya mendapati jalur yang bercabang, karena jalur ke kanan lebih landai saya memutuskan untuk melaluinya, tapi ternyata jalur itu lebih jauh dan kagetnya lagi ketika sampai di puncak tidak ada seorangpun yang ada disana, saat itu saya berfikir teman saya belum sampai puncak atau malah sudah turun dan saya putuskan menunggunya selama 30 menit, sambil menunggu saya membuka bekal makanan dan minuman yang saya persiapkan dari rumah. Setelah makan saya berkali-kali berteriak memanggil teman saya tapi sama sekali tidak jawaban. Akhirnya 30 menit berlalu saat itu sudah jam 15:00 karena cuaca saat itu kurang bersahabat saya putuskan untuk turun.
Setelah 1 jam perjalanan saya baru sadar kalau saya tersesat, jalur yang tadinya terbuka malah semakin menyempit dan untuk menemukan jalur yang benar saya kembali naik ke puncak tapi ada hal yang tidak wajar setiap turun saya selalu sampai di tempat yang sama bahkan saya sampai mengulanya 3 kali. Kebetulan saat itu hari keempat survivor hilang yang di gunung sindoro, teringat hal itu saya bersujud memohon kepada sang pencipta agar diberi petunjuk dan secepatnya sampai di basecamp dalam keadaan sehat, tidak lama kemudian hari mulai gelap tapi kabut juga mulai menghilang dan di kejauhan saya melihat sebuah punggungan, saya mengeluarkan kamera berharap bisa melihat objek yang jauh menggunakan lensa zoom. Ada sebuah objek yang saya yakini adalah jalur pendakian yang sebenarnya dan letaknya masih sangat jauh dari tempat saya berdiri, setelah mempersiapkan alat penerangan saya melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut. Terkena pohon berduri, terjatuh sampai terkilir itu yang saya rasakan saat melewati vegetasi yang sangat lebat. Jam 20:00 akhirnya saya sampai di punggungan yang saya tuju tapi ternyata itu bukan punggungan jalur pendakian, kebetulan di tempat itu sudah ada sinyal jadi sambil istirahat saya mencoba mencari tahu lokasi saya menggunakan GPS handphone ternyata saya tersesat cukup jauh dari jalur pendakian, untungnya tidak jauh dari tempat saya beristirahat ada bekas warga mencari rumput untuk ternak, jadi saya yakin kalau sudah berada tidak jauh dari pemukiman penduduk. Di sisi lain saya sangat mengkhawatirkan keadaan teman saya, dia turun melewati jalur pendakian yang benar atau tersesat seperti saya dan karena hp teman saya belum bisa di hubungi, saya mengirim sms kalau saya tersesat tapi sekarang hampir sampai pemukiman warga.
sambil menahan rasa sakit yang ada di kaki saya akibat terkilir di perjalan tadi saya melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih.
Jam 22:00 saya merasa ada sesuatu yang tidak wajar, saya merasa hanya berputar-putar ketika saya seharusnya sampai di ladang penduduk, saat melihat lokasi saya lewat GPS ternyata posisi saya belum jauh dari tempat istirahat yang tadi. Kemudian saya kembali bersujud sambil memohon perlindungan dari hal-hal buruk yang akan mencelakakan saya.
kemudian saya melanjutkan perjalanan, saat itu persediaan air sudah habis dan saya benar-benar kehausan. Dalam hati saya berkata ‘’semoga secepatnya mendapatkan sumber air’’, entah secara kebetulan atau apa baru beberapa langkah kedepan saya mendengar gemercik air di bawah sekumpulan pohon bambu yang lumayan lebat. Ternyata suara itu dari pipa untuk keperluan penduduk yang bocor, seketika saya langsung meminum tumpahan air tersebut, setelah puas meminum air segar dari pipa saya mengeluarkan botol kosong yang ada di dalam tas, tapi baru terisi setengah saya mendengar tawa cekikikan yang cukup jelas tepat di atas saya, dengan masih terus mengisi botol dengan air tumpahan dari pipa saya berkata “ permisi mbah, saya cuma minta airnya sedikit dan saya tidak berniat jahat jadi tolong jangan jahati saya, saya hanyalah pria lugu yang sedang tersesat gak lebih. Itupun bukan kemauan saya.” Tapi bukan berhenti tertawa yang bersangkutan tertawanya malah semakin bersemangat. Bukanya saya tidak perhatian dengan "kau tahu itu apa" tapi saya tetap menunduk sambil mengisi botol air minum yang sudah hampir penuh.
Setelah botol air penuh saya melanjutkan kembali melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian sampai di perkebunan warga. Saya semakin bersemangat ketika melihat cahaya lampu salah satu rumah penduduk, baru beberapa kali melangkahkan kaki saya dapat telepon dari teman saya kalau dia sudah sampai basecamp dan dia sangat mengkhawatirkan keadaan saya. Ternyata teman saya pas naik lewat jalur kiri yang terjal tapi dengan waktu tempuh yang lebih cepat, dia di puncak menunggu saya lumayan lama tapi karena khawatir dengan keadaan saya dia kembali turun untuk mencari saya, di tengah perjalanan dia bertemu pendaki lain dan turun bersama. Saya lega setidaknya tidak mengalami hal seperti yang menimpa saya dan saya tinggal mengkhawatirkan diri sendiri yang saat itu sudah kehabisan tenaga, tinggal semangat yang masih terus berkobar.
jam 23:00 akhirnya saya sampai di pemukiman penduduk, saya bertanya kepada bapak-bapak yang kebetulan baru pulang dari pengajian, saya bertanya kepada beliau nama desa tersebut dan saya sangat terkejut ternyata saya berjarak kurang lebih 40 KM dari basecamp pendakian. Kemudian saya memberi tahu lokasi saya kepada teman saya sudah sampai basecamp. Sambil menunggu teman saya menjemput, karena saat itu keadaan sudah sangat sepi saya di ajak ke rumah bapak-bapak yang tadi. Sambil menceritakan kejadian yang menimpa saya, saya di ajak makan dan di beri minuman hangat.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya teman saya datang bersama 2 orang pengelola basecamp pendakian, dan setelah berpamitan saya kembali menuju basecamp.    
Setelah meminta maaf karena sudah merepotkan pengelola basecamp saya berpamitan pulang ke rumah.
Jam 02:00 akhirnya saya sampai rumah dengan selamat dan hujan turun sangat lebat di sertai angin yang kencang.
Saya sangat bersyukur karena bisa pulang  kerumah dengan selamat dan masih di beri kesempatan untuk memperbaiki hidup saya. Saya tidak bisa membayangkan apa selanjutnya yang terjadi pada diri saya kalau saat itu saya masih tersesat di gunung kedinginan atau bertemu binatang buas dalam kondisi cuaca yang sangat buruk.
Yang membuat saya menangis adalah ketika beberapa hari kemudian saya mendapat kabar dari teman saya yang kebetulan menjadi relawan kalau survivor yang hilang di gunung sindoro telah di temukan tapi sudah dalam keadaan meninggal. Tak lupa saya memberikan do’a kepada almarhum agar di ampuni dosa-dosanya dan di terima semua amal ibadahnya.
Sejak kejadian itu saya merasa seperti dilahirkan kembali, saya menjadi orang yang sangat berbeda. Saya selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik tentunya ...

Cerita ini di tulis berdasarkan pengalaman sahabat saya yang tidak mau di sebutkan identitasnya saat melakukan pendakian di salah satu gunung di indonesia yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 MDPL.
Dan untuk menjaga identitas sahabat saya, saya mohon maaf kalau tidak mencantumkan nama gunung dan nama jalur pendakian yang di gunakan. Saya tidak ada maksud apapun, saya hanya menulis yang diminta oleh sahabat saya
. Sahabat saya hanya ingin menjaga perasaan keluarganya karena apabila keluarganya tahu kejadian tersebut akan sangat bersedih dan sahabat saya tidak akan di izinkan untuk melakukan pendakian lagi, dia berharap dengan menceritakan pengalamanya kepada saya dan di tulis di blog akan menjadi peringatan betapa pentingnya kekompakan tim dalam sebuah pendakian, jangan pernah memisahkan diri dari kelompok atau berpisah dari teman pendakian walaupun hanya sebentar karena walaupun hanya berjarak 10 meter saja bisa berubah menjadi bencana, dalam keadaan cuaca buruk,hujan badai berpetir atau kabut tebal bisa membuat teman atau rombongan tiba-tiba menghilang dari pandangan, dan jangan pernah meremehkan apapun dalam sebuah pendakian,  selalu fokus dan jangan lupa selalu meminta perlindungan kepada sang pencipta agar di beri kemudahan dan kelancaran dari awal sampai pulang kerumah.

Terima kasih, semoga bermanfaat.
Salam lestari ...

YNWA

Rabu, 23 Desember 2015

Pantai Pringjono Surga Tersembunyi Di Sisi Selatan Pulau Jawa

Setelah seminggu menjalani rutinitas sekolah, kuliah, ngantor atau kuliah sambil ngantor tentunya kamu perlu ganti pasangan suasana kan. biar hidupmu tetap seimbang antara kerja dan liburan. Berwisata ke pantai adalah salah satu caramu untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas lewat cara yang mudah dan murah.
Nah, kebetulan trip Garukpala Adventure kali ini ke pantai yaitu pantai pringjono.
Hamparan batu akik yang ada di pantai pringjono
Pantai Pringjono, surga tersembunyi di sisi selatan pulau jawa adalah salah satu pantai eksotis yang berada di desa kanigoro, kecamatan saptosari gunungkidul dengan koordinat klik disini . Selain mempunyai pemandangan yang sangat indah pantai ini juga dikelilingi tebing yang tingi jadi misalnya mau ngecamp di pantai pringjono tidak perlu khawatir misalnya ada badai, karena ada bebatuan kokoh yang akan melindungi tenda kita dari hantaman badai. walaupun pantai pringjono belum banyak di kunjungi para wisatawan tapi pantai pringjono akan selalu memberikan beribu kesan yang luar biasa, yang tentunya tak akan bisa dilupakan.
Pantai pringjono ini sangat dekat dengan pantai ngrenehan yang terkenal dengan hasil lautnya yang sangat melimpah, jadi misalnya mau camping di pantai pringjono kalian bisa membeli ikan segar dulu di pantai ngrenehan untuk sajian di camping kalian. terbayang kan betapa indahnya camping di hamparan indahnya pasir putih di bawah ribuan bintang (kalau enggak hujan) di temani desir pantai laut serta semilir angin laut. berasa seperti di surga kan, jadi ciptakan surga kalian sendiri dengan datang ke pantai pringjono ini.
Pantai Pringjono sangat indah dari sisi manapun apalagi saat cuaca cerah dan untuk sampai ke pantai pringjono saya menuju pantai nguyahan dulu untuk menitipkan motor, di pantai nguyahan banyak tempat parkir 24 jam kok, jadi jangan khawatir tentang keamannya.
Perjalanan dari jogja ke pantai nguyahan ditempuh dalam waktu 1 jam  40 menit, setelah menitipkan Ipul (motor kesayangan) saya mencari informasi jalan menuju pantai pringjono, kebetulan hari itu kondisi pantai airnya sedang surut jadi bapak yang jaga parkiran menyarankan saya melewati jalan pintas yaitu dengan menyusuri pantai nguyahan, ''nanti kalau sampai ujung pantai nguyahan kan ada jalan setapak yang naik ke bukit nanti ngikuti jalan itu saja, misalnya sudah sampai kandang sapi berarti kamu sudah deket dengan pantai pringjono karena pantainya cuma di bawah bukit yang ada kandang sapinya itu'', lanjut bapak penjaga parkiran.
Bocahe Garukpala
Pantai Nguyahan
Karena takut keburu siang saya langsung bergegas memulai perjalanan ke pantai pringjono, saat itu matahari sudah mulai meninggi dan saya mempercepat langkah kaki saya. pertama saya melewati hamparan pasir pantai nguyahan, setelah sampai ujung pantai ada jalan setapak yang naik ke bukit, dari sini saya masuk kedalam sela-sela pohon pandan yang sangat rimbun. kurang lebih 20 menit saya sampai di lokasi kandang sapi yang bapak penjaga parkiran tadi bilang. ''Berarti saya gak salah jalan, dan sudah dekat dengan pantai pringjono.'' kataku dalam hati, ternyata benar setelah 10 menit menuruni bukit hamparan pasir putih pantai pringjono menyambut saya.
hamparan pohon pandan di ujung pantai nguyahan
pemandangan pantai nguyahan dari bukit pringjono
kandang sapi legendaris
pemandangan pantai pringjono dari bukit
jalan masuk pantai pringjono
Sesampainya di pantai pringjono saya beristirahat sambil mendengarkan mp3 lewat headset kesayangan dan membuka bekal berupa pacar snack dan soft drink yang saya siapkan tadi pagi. sesudah istirahat saya mengabadikan momen istimewa di pantai pringjono, jepret sana jepret sini layaknya photographer leda-lede.
Ngadem
Seniman garis keras
pasang hammock tapi kesiangan
Bebatuan di sisi timur pantai pringjono

Karena asik menikmati keindahan pantai pringjono tidak terasa hari sudah sore, karena saat itu cuaca mulai mendung saya memutuskan untuk pulang, sebenarnya saya ingin sekalian menikmati keindahan sunset di pantai pringjono tapi karena cuaca yang tidak mendukung saya putuskan untuk melakukanya di lain waktu.
O iya, karena pantai ini masih sangat alami jangan membuang sampah sembarangan ya bro. inget pepatah Garukpala jangan membunuh sesuatu kecuali waktu, jangan mengambil sesuatu kecuali gambar apalagi bini orang  dan jangan meninggalkan sesuatu kecuali mantan jejak.
Untuk menikmati pantai pringjono sangat mudah bukan, kamu tinggal berkendara beberapa jam untuk bisa menikmatinya, apalagi harga tiket masuknya juga murah. Hanya dengan beberapa ribu rupiah ditambah uang bensin, kamu sudah bisa menikmati liburan yang sanggup membuat penatmu hilang. Saat kembali ke kota lagi,otakmu sudah jauh lebih segar dan lebih siap menyambut hari.
Fokus pada pekerjaan memang bukan hal yang keliru. Tapi akan lebih bijak kalau sesekali meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri. Kalau berpikir traveling bisa dilakukan nanti ketika sudah lebih mapan dan punya waktu luang, jangan salahkan orang lain ketika tahu-tahu masa muda habis begitu saja. Justru selagi masih mudalah, selagi tenaga masih utuh, seharusnya bisa menemukan pengalaman-pengalaman baru yang menambah wawasan dan membentuk pola pikir yang lebih baik.

Untuk video pantai pringjono bisa di lihat di Pantai Pringjono Jogja
Sekian catatan perjalanan saya di pantai pringjono.
Semoga bermanfaat, sampai ketemu di trip selanjutnya ...
Salam Lestari.
YNWA

Merdeka !!!