Selasa, 10 November 2015

PENDAKIAN GUNUNG PRAHU DIENG 2565 MDPL

Hai bro apa kabar ...
setelah hampir 1bulan akhirnya aku bisa mendaki lagi, mendaki buat aku pribadi sekarang bukan sekedar hobi tapi kebutuhan, dan itu sama pentingnya seperti kebutuhan lainya. bukan sok jadi pendaki yang idealis tapi itulah caraku menikmati hidup, sebuah kesederhanaan tanpa merugikan orang lain.

Petualangan kali ini aku ditemani bang andi pria gagah yang penuh talenta, bang jimi cowok keren yang tidak perlu diragukan kepiawaianya di dunia pendakian, serta om manto senior yang selalu taat pada peraturan lalu-lintas dan perundang-undangan yang berlaku. dan tujuannya adalah gunung prahu, sekedar info gunung prahu adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di koordinat 7° 11′ 13″ LS,  109° 55′ 22″ BT.
Gunung itu merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng selain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah ini memiliki ketinggian 2.565 MDPL yang sangat terkenal akan keindahan matahari terbitnya dengan latar gunung kembar Sindoro dan Sumbing.
team GARUKPALA bang andi, bang jimi, ryan dan om manto
Bermodalkan GPS, jam 17:30 kami mengawali perjalanan dari kota jogja tercinta dengan rute jogja-magelang-temanggung-wonosobo-dieng, entah jamu apa yang habis diminum abang-abang medan ini bawa motornya kenceng banget, alhasil aku sempat beberapa kali ketinggalan, maklum bang orang jogja semboyane alon-alon waton kelakon. hahaha

Sesampainya di basecamp pendakian kami disambut hawa dingin dan bau belerang khas dieng saat itu jam tangan abal-abal baru menunjukan jam 20:00. gila perjalanan dari jogja ke dieng ga ada 4 jam bro, padahal dulu waktu main ke dieng aku memerlukan waktu 4 jam lebih...emang gokil nih abang-abang medan.
Demi kebaikan bersama registrasi dulu bro ...
suasana di dalam basecamp
fantastic four
Setelah mengurus perijinan kami makan di salahsatu warung makan di depan basecamp, ternyata gak cuma sajianya ibu warung yang hangat bro, layaknya keluarga kami disambut dengat sangat hangat. makasih ibu warung kalau butuh menantu elek-elekan kabari saya ya. hehehe
warung makan sumber wareg
Selesai menikmati sajian ibu warung kami mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pendakian. jam 22:00 akhirnya dengan diawali do`a kami memulai pendakian gunung prahu.

jalur pendakian
Walaupun berketinggian 2565 MDPL tapi kami sangat berhati-hati dalam berbicara dan bertindak karena gunung hanya punya satu aturan, "hormati aku kau akan selamat, datanglah dengan pongah maka kau di cabik angin beku dan ditikam runcingnya tebing yang tak kenal belas kasihan".
sebenarnya dari basecamp ke pos 1 bisa menggunakan jasa bang ojek yang baik hati, tapi berhubung kami adalah binarangkawan kami memilih untuk berjalan kaki.

Dari pos 1 ke pos 2 jalan sudah mulai menanjak dan licin, di sepanjang jalan ini banyak terdapat warung yang buka sampai malam, apalagi kalau malam minggu kadang warung-warung ini buka sampai pagi.
dari pos 2 ke pos 3 jalan masih menanjak, bedanya di sepanjang jalan ini kami melewati pepohonan yang lumayan rapat. setelah pos 3 vegetasi disekitar jalur pendakian mulai berkurang, nampak di kejauhan terang lampu perkampungan warga terlihat sangat indah dan perjalanan kamipun mulai melambat karena kami sepakat untuk tidak terlalu fokus tentang puncak tapi menikmati pendakian ini senikmat mungkin.

Tak lama kemudian kami akhirnya sampai di sunrise camp, saat itu sudah jam 00:00. tapi ternyata sudah banyak pendaki lain yang yang mendirikan tenda, untungnya kami masih dapat tempat yang potensial untuk melihat keindahan sunrise dipuncak prahu.

Selesai mendirikan tenda kami beristirahat, saat itu aku satu tenda dengan bang andi dan om manto satu tenda dengan bang jimi, padahal tenda kami berkapasitas 4 orang, jadinya serasa tidur di hotel bintang 5. hahaha

Pagi harinya terdengar suara riuh diluar tenda padahal saat itu masih jam 05:00, ternyata momen yang ditunggu para pendaki sudah datang yaitu sunrise puncak prahu. walaupun sedikit berkabut tapi pemandangan di puncak prahu memang sangat indah. akhirnya perjuangan kami semalam terbayar juga ...
keramaian di sunrise camp
semacam pasar prahu
YNWA bro ...
mbayangke wong ngomah
jurgen klopp jowo
jurgen klopp jowo banget
suasana sunrise camp di pagi itu
Puas menikmati keindahan sunrise kami mulai masak untuk sarapan, adventure tetap perlu makan bro. hahaha
selesai sarapan kami berkeliling di puncak dan di sekitar bukit teletubies, disini kami bertemu kopites dari daerah lain.
ngadem
yang pakai topi merah fans uut seli
tanjakan rindu di puncak teletubies
asli orang indonesia, trio bahagia.
merah tanpa setan
2565 MDPL
photographer ala naruto
photographer ala perang dunia ke 2
photographer alakadarnya
ketemu anak bigreds jakarta
ketemu senior bigreds depok

kopites garis keras
kopites garis lurus
kopites garis-garis
kopites tidak bergaris
Puas menikmati keindahan puncak gunung prahu akhirnya kami berkemas, jam 10:00 karena saat itu mendung dan ada gejala mau turun hujan akhirnya kami putuskan untuk turun.
prepare turun ke basecamp











semangat 1892
empat pria pecinta wanita
Berhubung saat itu hari minggu, pendaki yang datang sangat banyak. jadi saat turun antrian sangat panjang, tapi kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah, menjadikan kami kembali bersemangat.
antrian turun dari puncak


antrian di pos 3

telaga warna dan kawah sikidang nan jauh disana

antrian di pos 2
pos 2 canggal walangan
Selepas pos 2 warung yang semalam sepi menjadi ramai pendaki, ada yang sekedar beli minum ada juga yang makan siang. disepanjang jalan ini banyak warung untuk para pendaki jadi jangan khawatir tidak dapat tempat.
salahsatu warung dibawah pos 2
salahdua warung dibawah pos 2
jossss. dowu
sampai saat ini aku masih belum faham dengan adegan ini ...
abang ojek yang siap mengantar ke basecamp
kondisi jalan dari pos1 ke basecamp
Jam 11:30 akhirnya kami sampai di basecamp, tak lama kemudian tiba-tiba hujan deres banget  sambil menunggu hujan reda kami beristirahat di salahsatu warung depan basecamp. sambil menunggu hujan reda kami memesan mi rebus dan susu hangat. jam 15:00 akhirnya hujanpun reda, setelah berpamitan dengan ibu warung kami pulang ke kota jogja tercinta.
Baru 1 jam perjalanan kami melewati salah satu perkebunan teh di wonosobo. keren banget bro,,,tanpa berfikir panjang kami sempatkan berfoto sebentar.
salah satu kebun teh di wonosobo
Selesai berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan. di tengah perjalanan tepatnya di jl.magelang kami terjebak macet, ternyata ada kecelakan lalu-lintas dan korbanya tidak tertolong. setelah kejadian itu laju motor kamipun mulai melambat...dengan penuh syukur sekitar jam 19:00 akhirnya kami sampai di rumah masing-masing dengan selamat.

Terimakasih Tuhan atas indahnya hidup ini.
Terimakasih telah memberi kemudahan dan keselamatan di sepanjang trip ini.
Terimakasih telah mempertemukan
aku dengan sahabat-sahabat yang menjadi keluarga bagiku ...
dan terimakasih buat bang andi, bang jimi dan om manto karena di dalam pendakian ini kita bisa saling menjaga satu sama lain, saling mendukung dan saling melindungi. semoga di trip selanjutnya kita semakin kompak.
suatu kehormatan dapat kesempatan mendaki bersama orang-orang hebat seperti kalian.

Cerita ini di angkat dari pendakian kami di gunung prahu via patak banteng pada hari minggu 8 november 2015, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Salam lestari.
YNWA

Selasa, 13 Oktober 2015

Tiga Unsur Penyebab Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang memiliki dampak negatif yang cukup dahsyat. Dampak kebakaran hutan diantaranya menimbulkan asap yang mengganggu aktifitas kehidupan manusia, antara lain mewabahnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut pada masyarakat, dan menganggu sistem transportasi yang berdampak sampai ke negara tetangga. Dampak yang paling besar adalah musnahnya plasma nutfah yang berakibat pada kerusakan ekosistem lingkungan, serta mengakibatkan menurunnya kualitas dan kuantitas hutan yang pada akhirnya akan menimbulkan banyak kerugian.

Hutan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, sehingga hutan perlu diselamatkan dari bahaya kebakaran. Dalam upaya pencegahan kebakaran hutan, yang perlu dikenali diantaranya unsur penyebabnya yaitu panas, bahan bakar dan oksigen. Karena kebakaran hutan terjadi bila ketiga unsur di atas saling bertemu. Jika salah satu dari ketiga unsur ini tidak ada, maka kebakaran hutan tidak akan terjadi.

Panas.
Panas merupakan suatu keadaan yang bersuhu relatif tinggi. Dalam peristiwa kebakaran hutan, unsur ini sangat berperan terutama pada musim kemarau yang terjadi setiap tahun. Hampir seluruh wilayah di Indonesia, mengalami musim kemarau yang terjadi pada bulan-bulan tertentu. Di beberapa daerah seperti di Nusa Tenggara Timur dan Papua, musim kemarau yang terjadi umumnya lebih panjang di banding dengan daerah lainnya di Indonesia. Dengan kondisi demikian, maka kemungkinan terjadinya kebakaran hutan menjadi lebih besar ketika unsur ini bertemu dengan unsur lainnya, yaitu bahan bakar dan oksigen.

Hal yang terkait erat dengan panas adalah sumber api. Secara umum, disepakati bahwa 90% sumber api yang mengakibatkan kebakaran hutan bersumber dari manusia, sedangkan sisanya bersumber dari faktor lainnya. Sumber api yang berasal dari manusia, baik yang secara sengaja membersihkan lahan perkebunannya dengan menggunakan jasa api, maupun aktifitas lain yang tidak disengaja seperti api dari kareta api, pekerja hutan pengunjung objek wisata hutan, obor, puntung rokok, perkemahan, dapur arang.

Bahan Bakar.
Bahan bakar merupakan unsur yang paling dominan penyebab terjadinya kebakaran hutan. Dalam peristiwa kebakaran hutan, bahan bakar yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran adalah serasah hutan. Serasah hutan adalah tumpukan daun-daun kering, ranting-ranting, dan sisa-sisa vegetasi lainnya yang ada di atas lantai hutan. Tebal dan tipisnya serasah hutan berpengaruh pada besar dan kecilnya kebakaran hutan yang terjadi. Seperti di Taman Nasional Wasur – Papua, kebakaran hutan yang terjadi setiap tahunnya relatif kecil karena serasah hutan yang menjadi bahan bakar berukuran tipis. Berbeda dengan kebakaran hutan yang biasa terjadi di Kalimantan dan Sumatera yang umumnya dikategorikan sebagai kebakaran hutan yang besar. Hal ini disebabkan karena kebakaran terjadi pada lokasi yang bergambut atau pada areal dengan serasah hutan yang tebal di bekas tebangan.

Ketebalan serasah hutan pada setiap tipe hutan berbeda-beda. Pada hutan primer, serasah di lantai hutan tipe ini tipis. Pada hutan ini juga, tutupan tajuk mendekati seratus persen, sehingga sinar matahari hampir tidak sampai menyinari lantai hutan, menyebabkan tingkat kelembaban tinggi dan suhu menjadi rendah. Karena kondisi seperti ini, pada hutan ini jarang terjadi kebakaran hutan.

Pada hutan gambut, bahan yang menyebabkan terjadinya kebakaran adalah gambut itu sendiri, yang terletak di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau yang panjang, lapisan gambut yang tebalnya dapat mencapai puluhan centimeter menjadi kering dan mudah terbakar. Karena api merambat di bawah permukaan tanah, kebakaran yang terjadi pada tipe hutan ini akan susah dipadamkan.

Pada areal bekas tebangan, serasah hutan menumpuk sangat tebal. Hal ini disebabkan, dari setiap batang pohon yang ditebang, hanya log hingga cabang besar pertama yang diambil. Selebihnya termasuk cabang-cabang yang kecl; ranting-ranting dan daun-daun ditinggal di dalam hutan. Disamping itu, setiap pohon besar yang ditebang akan menimpa dan menumbangkan pohon-pohon kecil di sekitarnya, yang akan mengakibatkan penumpukan serasah hutan yang sangat tebal. Dengan kondisi seperti ini, kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau panjang akan susah untuk dipadamkan.

Pada areal tanaman yang penutupan tajuknya belum mencapai seratus persen, terdapat bahan yang mudah terbakar berupa alang-alang dan semak belukar lainnya. Resiko terjadinya kebakaran hutan di areal ini cukup tinggi, karena suhu di lantai hutan ini mudah naik.

Pada padang alang-alang dan semak belukar, serasah di areal ini mudah terbakar sekalipun bukan pada musim kemarau panjang. Tetapi karena bahan bakarnya tidak banyak, kebakaran yang terjadi tidak terlalu besar.

Oksigen.
Oksigen adalah zat ringan yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Keberadaannya sangat melimpah di alam semesta, dan diperlukan untuk segala macam kehidupan. Dalam peristiwa kebakaran hutan, oksigen berperan dalam mendukung proses pembakaran. Hal ini terjadi apabila nyala api mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, maka nyala api akan menjadi lama dan besar. Sebaliknya apabila nyala api tidak memperoleh jumlah kadar oksigen yang mencukupi, maka api akan padam. Untuk itu, prinsip yang biasa dilakukan dalam upaya pemadaman adalah dengan mengisolasi oksigen dari nyala api.

source; noerdblog.wordpress.com/2012/06/02/tiga-unsur-penyebab-kebakaran-hutan/

Jangan Mau Mati Di Gunung



Ditulis karena beberapa gerah yang membakar kepala sebab banyaknya kasus kematian saat mendaki gunung dalam tiga bulan terakhir. Tulisan ini lumayan panjang, bagi yang tak betah langsung saja tinggalkan. Saya tak memaksa masyarakat menjadi pintar, silahkan bodoh dengan cara sendiri, lalu nikmati.

Pendakian gunung telah menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun terakhir. Semakin sporadisnya pendakian disebabkan oleh mudahnya arus informasi, diobralnya moda transportasi, dan meledaknya agen perjalanan yang menawarkan kemudahan. Gunung tak lagi menjadi tempat yang eksklusif, semua bisa kesana dan semua bisa menjamahnya. Namun sangat disayangkan, keinginan untuk menikmati alam, khususnya gunung tidak disertai oleh pengetahuan navigasi yang setimpal, persiapan logistik yang memadai, dan perlengkapan standar pendakian.

Para pendaki anyaran kini seperti pelacur yang menjajakan dan melelang tubuh mereka kepada setiap gunung di Indonesia. Semua cuma demi eksistensi diri. Menjadi selebriti dadakan setelah mengupload foto di jejaring sosial atau situs pribadi yang sebagian besar masih numpang portal gratisan. Beragam pertanyaan berebut, jawaban sekenanya disebut. Sekarang gunung seakan menjadi tempat ajang antar nyawa. Dalam tiga bulan terakhir, telah tercatat beberapa kematian akibat pendakian, diantaranya adalah:

1. Cipto Diyono (60 tahun), asal Dusun Jenak, Desa Ngargoyoso, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ditemukan tewas oleh seorang warga yang sedang mencari rumput di pos 3 pendakian Gunung Lawu, Karanganyar, Jateng pada Tanggal 11 November 2013.

2. Joan Tobit Sigalingging (23 tahun), mahasiswa tingkat akhir jurusan Oseanografi Institut Teknologi Bandung (ITB) meninggal di sebelah barat daya Gunung Kendang, Kabupaten Bandung. Jenazahnya ditemukan senin pagi 25 November 2013 setelah dikabarkan hilang selama hampir sebulan. Lokasi penemuannya terletak di tebing curam dengan kemiringan lereng sekitar 60-70 derajat pada ketinggian sekitar 2.100-2.200 mdpl.

3. Shizuko Rizmadhani (16 tahun), siswi SMA Negeri 6 Bekasi, diketahui meninggal Selasa 24 Desember malam. Korban tewas di Kandang Batu, ketinggian 2.220 mdpl di pos pendakian menjelang puncak Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Penyebab kematiannya karena terserang hipotermia atau kehilangan suhu panas tubuh akibat basah dan kedinginan.

4. Sehari berikutnya, Endang Hidayat (53 tahun), warga Sepanjang Jaya Rawa Lumbu, Bekasi. Dinyatakan meninggal saat mendaki Gunung Semeru. Korban dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB di Pos Waturejeng, ketinggian sekitar 2.300 mdpl. Endang diketahui mengalami serangan jatung, bahkan sempat mengalami kejang.

5. Berselang empat hari setelah kabar duka dari Semeru, Gatot Handoko (40 tahun), wisatawan asal Singaraja, Bali, dinyatakan tewas setelah sempat mengeluhkan sakit di dadanya saat pendakian ke Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Nyawa korban tak terselamatkan saat dilarikan ke RS Blambangan yang berjarak 20 km dari pos pendakian pertama Paltuding.

6. Helmi Dwi Apriyanto (19 tahun), mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta tewas saat melakukan pendakian di Gunung Salak, selasa 21 Januari 2014. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, korban sempat menderita sakit saat berada di puncak Salak. Diduga ia tidak kuat menahan udara dingin.

7. Yang terakhir adalah Alief Hazen Rahmansyah (23 tahun) warga jalan Pahlawan, Gresik dan Dian Meitami (19 tahun) warga Karang menjangan, Surabaya. Keduanya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) Surabaya. Mereka ditemukan tidak bernyawa di lereng lembah barat antara Gunung Kembar, Gunung Welirang, Jawa Timur Senin 27 Januari.

Sebagian besar korban kecelakaan di gunung yang disebutkan diatas terjadi karena para pendaki tolol cenderung meremehkan, tidak mengikuti prosedur, tersesat karena tidak melewati jalur resmi, tidak melapor/mengurus Simaksi, melanggar peraturan, tidak membekali diri dengan pengetahuan dasar pendakian, tidak membawa logistik yang memadai, dan terakhir tidak mengikuti ritme pendakian atau aklimatisasi.

Entah apa yang ada di pikiran mereka ketika berani menginjakkan kaki dan melakukan pendakian sedangkan otak masih kosong tanpa mengerti apa itu persiapan pendakian. Gunung bukanlah tempat yang bisa didatangi seenak hati, untuk itu perlu adanya sebuah manajemen perjalanan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hal ini penting dilakukan untuk meminimalisir resiko dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama berkegiatan.

>> PERENCANAAN PERJALANAN

1. Mempelajari tempat tujuan.
Mencari informasi tentang tujuan merupakan tahap paling awal sebelum melakukan perjalanan. Sangat penting sekali mengenal daerah yang akan dituju. Informasi bisa didapat dengan cara studi literatur ataupun bertanya ke pihak yang pernah berkegiatan di tempat tersebut.

Dalam mempelajari tempat tujuan, buatlah peta lintasan dan pertimbangkan rute mana yang akan dipilih. Peta ini memberikan informasi tentang jalur lintasan yang digunakan, shelter peristirahatan dan tempat camp. Cantumkan juga tempat terdapat sumber air, daerah-daerah yang berbahaya dan kendala yang mungkin terjadi selama perjalanan. Informasi lain yang dibutuhkan adalah keadaan umum daerah, seperti keadaan geografis (suhu, iklim, flora, fauna), sosial masyarakat (ekonomi, adat istiadat/kepercayaan masyarakat sekitar) dan Informasi penunjang seperti alternative transportasi menuju lokasi, tempat perijinan, tempat kesehatan, hal-hal yang menunjang komunikasi (lisrik, sinyal) dan jalur evakuasi, yaitu jalur tercepat yang bisa ditempuh untuk membawa korban apabila terjadi kecelakaan.

2. Merencanakan time schedule dan waktu perjalanan
Setelah mempelajari lokasi tujuan, langkah selanjutnya adalah memperkirakan waktu perjalanan. Rincian waktu yang dibuat mulai dari berangkat, lama di perjalanan, hingga kembali. Hal ini sangat berpengaruh terhadap jumlah logistik maupun perlengkapan yang akan dibawa. Hal lain yang harus diperhatikan adalah musim pada saat pelaksanaan perjalanan.

3. Mempersiapkan fisik dan mental
Dibutuhkan stamina yang fit dan kondisi badan yang baik dalam mendaki gunung. Ada baiknya berolahraga secara rutin dan teratur beberapa minggu sebelum hari pendakian, jangan lupa juga untuk menyeimbangkan waktu istirahat. Kondisi mental juga sangat berpengaruh dan mutlak diperlukan. Jangan anggap enteng perjalanan, perbuatan nekad sering terjadi karena ketegangan, merasa kuat, sok, dan panik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah proses aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh terhadap lingkungan), karena seringkali sebuah perjalanan di alam terbuka akan berhadapan dengan suhu lingkungan yang ekstrim.

4. Memanajemen logistik yang akan dibawa
Fungsi dari managemen logistik adalah mengefektifkan perbekalan selama perjalanan sehingga tidak menambah berat beban bawaan, namun mencukupi kebutuhan gizi dalam tubuh. Beberapa syarat makanan yang perlu diperhatikan adalah mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang cukup, tahan lama, siap pakai, tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar. Jangan membawa dan mengonsumsi minuman beralkohol karena meskipun hangat namun dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.

Kalori yang dibutuhkan juga sebaiknya diperhatikan. Jumlah kalori setiap orangnya bervariasi tergantung jenis kelamin, lamanya perjalanan, aktivitas apa saja yang akan dilakukan (pendakian konvensional atau pembukaan jalur), serta keadaan medan yang akan dihadapi. Secara umum kebutuhan kalori dalam mendaki gunung adalah 3.000 kilo kalori untuk laki-laki dan 2.600 kilo kalori untuk perempuan. Untuk pemenuhan kalori tersebut, dibutuhkan bahan makanan dengan komposisi Karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein sebanyak 10-15% dari total kebutuhan energi.

Total air yang dibawa, tergantung pada lamanya perjalanan dan lokasi yang dituju. Apabila di suatu daerah terdapat mata air maka bisa mengisi ulang tempat air yang kita bawa. Ini akan mempermudah pergerakan dan menjadikan beban yang kita bawa lebih ringan. Namun jika di sepanjang perjalanan hampir tidak ditemukan mata air, maka air dibawa seluruhnya dari start perjalanan kita atau dari sumber mata air terakhir yang ditemukan. Kebutuhan air dalam pendakian setiap harinya adalah air selama perjalanan 800 mililiter, air minum setelah makan 200 mililiter, air untuk memasak nasi 200 mililiter, air untuk memasak sayur (jika ada) 200 mililiter, air untuk kebutuhan camp 600 mililiter, dan air untuk back up sebanyak 800 mililiter.

Selain menghitung kebutuhan bahan makanan dan air selama perjalanan, yang tidak kalah pentingnya adalah perhitungan kebutuhan bahan bakar yang akan dibawa dan dipergunakan nantinya. Bahan bakar bisa berupa gas dan spiritus cair maupun gel. Perhitungan kebutuhan bahan bakar bervariasi tergantung berapa kali digunakan dan jenis bahan bakarnya.

5. Mempersiapkan Perlengkapan
Keberhasilan suatu perjalanan di alam bebas ditentukan juga oleh perbekalan dan perlengkapan yang tepat. Peralatan yang umum dibawa para pendaki biasanya dibagi menjadi perlengkapan dalam perjalanan, pakaian hangat, perlengkapan tidur, perlengkapan memasak, alat komunikasi, alat dokumentasi dan standar kebutuhan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

PERLENGKAPAN DALAM PERJALANAN.

- Carrier
Sebaiknya memakai carrier yang nyaman dipakai. Lebih baik jika mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Memiliki ruang ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel. Praktis, dengan kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan yang dapat memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu. Dan yang terakhir harus Kuat, mampu membawa beban dengan aman, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dan terbuat dari bahan yang water proof.

- Sepatu
Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu yang melindungi sampai ke mata kaki, tidak mudah sobek, lunak bagian di dalam dan masih memberikan ruang bagi gerak kaki, keras bagian depan untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu yang bagian depan dilapisi besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu), bentuk sol bawahnya harus dapat “menggigit” tanah ke segala arah, dan ada lubang ventilasi sehingga air dan udara bisa lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.

- Celana lapangan
celana lapangan yang dipilih hendaknya tidak mengganggu gerakan kaki (penggunaan jeans sangat tidak dianjurkan, selain menyerap dingin, bahan jeans yang berat dapat membuat tubuh cepat lelah), mudah kering (jika basah tidak menambah berat), terbuat dari bahan yang menyerap keringat, dan disarankan untuk menggunakan celana panjang.

- Baju lapangan
Hendaknya dapat melindungi tubuh dari kondisi sekitar, kuat, ringan, terbuat dari bahan yang menyerap keringat, mudah kering dan disarankan untuk menggunakan lengan panjang.

- Kaos kaki dan sarung tangan
Kaos kaki berfungsi sebagai pelindung kulit kaki dari gesekan sepatu. Sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari wol agar tetap hangat pada daerah yang dingin.

- Peralatan navigasi
Kompas, peta, penggaris, busur derajat (protactor), alat tulis, dan Global Positioning System (GPS).

- Survival kit
Korek api, lilin, jarum jahit dan benang, kantong plastik, peniti dalam berbagai ukuran, senter atau headlamp, peluit, pisau (pisau lipat, pisau tebas), dan raincoat.

PAKAIAN HANGAT.

- Jaket
Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin, sengatan matahari atau hujan. Akan sangat baik bila jaket memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin.

- Syal atau slayer
Dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival, dan baik digunakan untuk perban darurat ketika dalam keadaan darurat.

PERALATAN TIDUR

- Satu set pakaian tidur, Kaos kaki, Sleeping bag, Matras dan Tenda.

PERLENGKAPAN MASAK.

Terdiri dari alat-alat makan (sendok, piring, gelas), Alat masak (nesting, trangia, kompor, gas, minyak tanah, spritus), dan tempat air minum.

ALAT KOMUNIKASI DAN ALAT DOKUMENTASI.

Kamera, Handy Talky (HT), ataupun HP satelit jika daerahnya tak terdapat sinyal telekomunikasi.

6. Menyediakan segala kebutuhan administrasi.
Setiap daerah mempunyai peraturan perijinan yang berbeda. Izin ini tergantung juga pada sifat kegiatan yang akan dilakukan, apakah untuk penelitian, wisata, pembuatan film, atau petualangan. Surat-menyurat yang diperlukan dalam perjalanan kegiatan alam bebas antara lain surat pengantar dari lembaga terkait, surat ijin kegiatan (Kepolisian atau bakesbang), surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI), Kartu Tanda Penduduk dan surat keterangan sehat dari dokter.

PELAKSANAAN.

Pada saat melakukan pendakian hendaknya memperhatikan beberapa aspek penting berikut:

- Melapor pada pos pendakian
Sebelum pendakian dilakukan, melapor dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait terutama di pos pendakian adalah hal yang wajib hukumnya. Di pos pendakian, isilah buku tamu dengan mencantumkan lama pendakian, alamat lengkap dan nomor telepon keluarga atau teman yang dapat dihubungi bila terjadi musibah di gunung. Setelah kembali (turun) dari mendaki gunung jangan lupa untuk melapor kembali ke Pos Pendakian.

- Jangan melakukan pendakian seorang diri.
Lakukan pendakian dalam group dan jangan pernah terpisah. Ketika mendaki secara berkelompok, kemampuan baik fisik dan emosional tiap orang akan berbeda-beda. Ada yang fisik dan staminanya luar biasa dan ada juga sebaliknya. Ada yang ketenangan dan kematangannya mungkin lebih baik dalam menghadapi tekanan dibanding yang lain. Jaga kebersamaan saat mendaki. Usahakan menunggu jika ada tim yang tercecer di belakang. Kasus hilang di gunung sebagian besar karena tersesat dan memisahkan diri dari rombongan.

- Hindari mendaki pada malam hari
Selain berbahaya untuk pergerakan, kebanyakan hewan buas juga aktif pada malam hari (nocturnal). Salah satu cara agar terhindar dari ancaman hewan buas adalah mendaki pada pagi atau siang hari. Hentikan segala aktivitas pendakian pada malam hari untuk meminimalisir resiko bertemu hewan buas.

- Ikuti jalur yang sudah ada.
Jalur pendakian di setiap gunung yang umum didaki biasanya jelas dan terlihat. Tetap ikuti jalur dan jangan pernah memilih jalan lain. Jika melewati percabangan yang membingungkan dan tidak yakin dengan jalur mana yang mesti diambil, pasanglah tali berwarna sebagai penanda. Jika ternyata jalur yang dipilih salah maka dapat kembali ke persimpangan awal, namun jangan lupa untuk mencabut kembali penanda yang telah dipasang.

- Jangan memaksakan diri.
Tidak ada yang salah jika merasa lelah. Mendaki gunung bukanlah ajang untuk kuat-kuatan, fisik seseorang memang beragam. Beristirahatlah jika memang diperlukan. jika sedang dalam perjalanan, minta ketua rombongan untuk berhenti. Sekali lagi, jangan terpisah dan membiarkan yang lain melanjutkan perjalanan sedangkan kamu sedang istirahat.

- Jangan merusak.
Selama pendakian hindari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak keindahan dan keseimbangan alam seperti menebang tumbuhan sembarangan, melakukan aksi coret-coret (vandalisme), menangkap hewan, memetik bunga (seperti edelweiss), maupun membuang sampah non-organik terutama sampah plastik yang dihasilkan selama pendakian. Sampah hendaknya dikumpulkan dalam kantong plastik, dibawa turun dan dibuang di tempat sampah yang terdapat di pos pendakian.

PASCA PELAKSANAAN.

Jangan meremehkan evaluasi, selalu lakukan evaluasi kegiatan setiap harinya ketika mendaki maupun setelah kegiatan selesai. Hal ini penting untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan agar tak lagi terulang ketika akan melakukan perjalanan selanjutnya.

Sekian beberapa persiapan dasar yang harus diperhatikan dalam melakukan pendakian. Ingat, PERSIAPAN DASAR, masih ada beberapa pengetahuan lain yang harus dipelajari, diantaranya packing, mengenal karakteristik dan kontur gunung, ilmu mountaineering, navigasi, pertolongan pertama, SAR dan evakuasi, jenis-jenis penyakit gunung, dan beberapa cara survival.

JANGAN MAU MATI DI GUNUNG.

Jangan ada lagi korban yang terenggut, jangan ada lagi nyawa yang melayang. Terakhir, It is not the mountain we conquer, but ourselves. Bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri kita sendiri.

source; http://thelostraveler.com/
photo; panoramio.com/

JUNGLE FOOD; PAKIS


Pakis adalah tanaman berbentuk rumpun , yang biasanya tumbuh baik di daerah kering dan lembab dan di bawah lingkungan yang teduh. Saat musim seminya (sekitar April dan Mei), pakis akan menumbuhkan tunas daun muda yang masih kuncup dengan bentuk ujung daun melengkung yang mirip dengan kepala biola. Saat kita di hutan/gunung, daun pakis muda ini bisa olah sebagai pelengkap menu makan.

Sayur pakis ini biasa tumbuh di hutan atau ngarai-ngarai. Mencarinya agak sulit, sehingga tak heran kalau harganya juga agak mahal. Dan uniknya, di menu Western sayur pakis ini juga terkenal lho. Bedanya, ia disebut dengan fiddlehead fern.

Mengolah sayur pakis ini gampang-gampang susah, karena berbeda dengan sayur yang lain, maka ketahui dulu beberapa info tentangnya.

- Pilih sayur pakis yang daunnya belum mekar. Cari yang memang masih kuncup karena jauh lebih nikmat.

- Buang batang sayur pakis bagian bawah (setidaknya 5-6 cm) karena umumnya keras.

- Batang sayur pakis sebaiknya dibelah dua agar lekas matang saat dimasak.

- Saat mencuci sayur pakis, gunakan garam masak. Garam berfungsi membunuh bakteri-bakteri yang ada serta menghilangkan aroma lembabnya.

- Tidak perlu dijemur agar tidak alot, cukup masukkan sayur pakis pada air yang mendidih. Buang airnya, kemudian tambahkan air dan didihkan lagi. Angkat.

- Siapkan bumbu-bumbu untuk sayur pakis dan masak hingga aromanya harum dan bumbu merasuk.

Sayur pakis ini selain lezat juga banyak nutrisinya. Cocok dimasak dengan ebi kering atau dengan teri nasi agar lebih sedap. Ditambahkan pada sayur pedas juga nikmat. Selamat memasak.

Dikutip dari berbagai sumber.

Pelajaran Hidup yang Hanya Bisa Kamu Dapatkan Lewat Perjalanan

Perjalanan kerap dianggap sebagai proses untuk menemukan diri sendiri. Lewat perjalanan, seseorang tidak hanya menambah pengetahuannya mengenai tempat-tempat baru, melainkan juga membuka tabir diri yang belum diketahui selama ini. Tapi tidak semua orang sepakat pada pendapat ini.

“Mengenal diri sendiri kan gak harus lewat traveling. Baca buku dan menulis juga bisa membuat kita mengenal diri sendiri, kok!”
Walau pendapat diatas tidak sepenuhnya salah, harus diakui bahwa memang ada beberapa hal yang hanya bisa kamu pelajari lewat proses mengangkat ransel dan melangkahkan kaki ke tempat-tempat asing. Duduk, membaca bahkan menonton tayangan penambah wawasan sebanyak apapun tidak akan membuat kamu bisa merasakan hal-hal ini. Apa aja sih hal-hal tersebut?

1. Kamu Akan Sadar Bahwa Zona Nyaman Selalu Bisa Diperluas.

Barangkali selama ini kamu tinggal di Jogja yang dikenal sebagai kota dengan kultur selo dan makanan manisnya. Kamu merasa tidak akan mungkin sanggup hidup di Jakarta yang ruwet dan semrawut. Tapi suatu hari kamu memutuskan melakukan perjalanan keliling Jawa lewat jalur darat.

Melalui perjalanan tersebut kamu akan sadar bahwa, ternyata kamu tetap bisa hidup di berbagai kota yang kultur dan situasinya berbeda. Ada banyak daerah lain yang berbeda dari kota asalmu, akan ada orang-orang dengan aksen dan gaya bicara berbeda yang kamu temui. Anehnya, kamu tetap akan merasa nyaman.

Dari perjalanan kamu akan memahami bahwa zona nyaman tidak akan datang sendiri. Kamu harus berusaha melatih diri untuk menerima situasi yang kamu hadapi dan membuat dirimu bisa bertahan di dalamnya. Zona nyaman tidak pernah berhenti di satu tempat saja, ia selalu bisa diperluas.

2. Kebaikan Adalah Mata Uang Yang Selalu Bisa Digunakan Di Berbagai Belahan Dunia.

Melalui perjalanan kamu akan bertemu dengan beragam tipe orang dari berbagai latar belakang. Pribadi-pribadi dengan kebiasaan dan gaya hidup yang kadang berseberangan denganmu. Lewat interaksi dengan mereka, matamu akan terbuka,

“Ternyata akan selalu ada orang baik dimanapun.”
Ketika kamu tersesat karena salah naik bus di Fukuoka, ada ahjusi (nenek-nenek) yang menghampirimu dan menunjukkan jalur yang tepat meski menggunakan bahasa Inggris yang patah-patah.
Waktu kamu yang berjilbab kesulitan mendapat host-family di Amerika Serikat pasca tragedi 9/11 ada pasangan sesama jenis yang rela membuka pintu rumahnya dan menerimamu sebagai keluarga.
Perjalanan membuka matamu bahwa kebaikan adalah mata uang universal yang selalu bisa digunakan dimanapun. Meski menggunakan bahasa berbeda, tapi kebaikan dan perhatian akan selalu punya bahasanya yang sendiri yang akan bisa dipahami oleh siapapun.

3. Kamu Tidak Boleh Menilai Sesuatu Sampai Kamu Merasakannya Sendiri.

Selama ini pemberitaan di berbagai media menceritakan betapa indahnya Jepang dan Korea. Ada sakura, ada pesta kembang api, kaya akan unsur modern dan tradisional. Karena penasaran dengan hal-hal tersebut akhirnya kamu memutuskan untuk melakukan perjalanan kesana.
Tapi ternyata kehidupan lokal masyarakat Jepang dan Korea tidak sesempurna di film drama serial yang sering kamu pelototi tiap malam itu. Mereka tetap berjuang untuk bisa mendapatkan pekerjaan, wanita Asia Timur bahkan harus berjuang untuk hidup dalam sistem masyarakat yang sangat patriarkal.

Kekagetan yang sama juga kamu rasakan saat menjejakkan kaki di tanah Papua. Daerah di ujung timur Indonesia yang sering digambarkan sebagai pulau penuh konflik ini ternyata jauh dari menyeramkan. Sentani dan Jayapura membuatmu tak bisa berhenti berdecak kagum.
Hanya pejalanlah yang akan mampu mengambil keputusan bijak untuk tidak gegabah dalam mengambil penilaian terhadap sesuatu, sebelum mereka melihat dan mengalaminya secara langsung.

4. Hidup Tidak Akan Selamanya Ramah Padamu

Dalam perjalanan, seseorang akan dihadapkan pada berbagai ujian dan tantangan. Mulai dari rasa makanan yang absurd, kesulitan berkomunikasi karena perbedaan bahasa, kehujanan sampai kehilangan barang berharga. Walau dihadang kesulitan dan jalan terjal tapi kamu akan teguh berpegang pada keyakinan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Dari kegiatan mengangkat keril dan berjalan itulah kamu akan sadar bahwa hidup tidak akan terus ramah padamu, dan kamu harus bisa menghadapinya. Perjalanan akan membuat seseorang terbiasa untuk beradaptasi pada berubahnya kurva hidup. Akan selalu ada masa hidup mengeluarkan candaannya dan membuatmu jatuh untuk sementara waktu.
Ketika dihadang oleh berbagai kesulitan, kamu hanya punya 2 pilihan: bangkit dan melanjutkan perjalanan atau duduk diam menunggu redanya angin cobaan. Kebanyakan pejalan akan dengan gagah memilih opsi pertama. Kasar dan beringasnya hidup tidak akan mampu membuat mereka jadi pecundang yang mudah menyerah.

5. Hanya Kamu yang Bisa Menyelamatkan Dirimu Sendiri

Teman, keluarga, dan orang-orang yang bisa diandalkan akan selalu datang dan pergi. Tidak akan ada orang yang bisa menjamin 100% bahwa dia akan terus ada dalam hidupmu. Perjalanan akan mengajarkanmu satu hal penting: di akhir hari, hanya dirimulah yang bisa kamu andalkan.

Pemahaman macam ini kamu dapatkan dari pendakian Gunung Slamet yang pernah membuatmu hampir mati karena hipotermia. Otakmu dengan galak terus berteriak untuk memaksa kaki yang makin kaku agar terus melangkah. Pikirmu saat itu,

“Aku harus terus berjalan dan menyelamatkan diri sendiri, atau menyerah dan menunggu diselamatkan Tim SAR.”
Seorang pejalan akan banyak berdialog dengan dirinya sendiri. Ia paham betul bahwa ia harus benar-benar bisa mengandalkan diri sendiri dalam berbagai situasi. Seorang pejalan adalah pribadi yang hangat dan bisa bergaul dengan orang banyak. Tapi tetap tidak jadi orang yang takut saat harus menghadapi semuanya sendirian. Ia sudah mafhum diluar kepala bahwa hidup memang sebuah perjuangan yang sepi.

6. Kamu Bisa Berjalan Sendirian, Tapi (Kalau Kamu Mau Berusaha) Kamu Tidak Akan Merasa Kesepian

Selalu ada orang baru yang bisa kamu kenal. Selalu ada kesempatan untuk berbincang dan menjalin hubungan dengan penduduk lokal atau sesama pejalan. Selalu ada titik dimana sesama manusia akan bisa terhubung, hanya jika masing-masing pribadi mau membuka diri.

Lewat perjalanan kamu akan sadar bahwa rasa sepi adalah pilihan yang bisa kamu ambil atau kamu tinggalkan. Kesepian atau tidak ditentukan oleh sikap dan pilihanmu sendiri. Selama kamu memilih untuk tidak merasa sepi, maka akan selalu ada cara untuk menyingkirkan rasa tersebut dari dirimu.

7. Sendirian Ternyata Tidak Semenakutkan Bayanganmu
Barangkali selama ini kamu adalah orang yang paling enggan sendirian. Makan harus sama teman-teman, pergi dan belanja juga harus ditemani pacar. Rasanya melakukan semua hal sendirian itu tidak nyaman. Coba deh lakukan perjalanan seorang diri ke suatu tempat, kemungkinan besar pandanganmu soal kesendirian akan berubah.

Dalam perjalanan (terutama yang memakan waktu lama) kamu akan menemukan pemaknaan baru soal kesendirian. Alih-alih mengerikan, kamu akan merasa bahwa sepi dan sendiri terkadang justru membebaskan. Ada kalanya kamu memang butuh sendiri dan mendengarkan apa yang hatimu mau.

Hidup tidak selamanya harus riuh, kamu tidak harus terus didampingi untuk melanjutkan hidup. Terkadang kamu tidak percaya bahwa kamu bisa menghadapi semua tantangan di perjalanan tanpa bantuan siapapun. Sendiri, ternyata tidak semenakutkan apa yang kamu bayangkan selama ini.

8. Berbincang Dengan Orang Asing Itu Ternyata Asyik

Saat naik kapal untuk melihat bunga di Pulau Nokonoshima, Kyushu, kamu bertemu dengan ibu muda yang membawa 2 anak lelakinya. Dia menanyakan dari mana asalmu. Kalian kemudian terlibat dalam pembicaraan seru. Dari perbincangan itu kamu baru tahu bahwa banyak wanita Jepang harus meninggalkan pekerjaan purna waktunya setelah menikah.

Perjalanan akan membuatmu sepakat bahwa selalu ada sisi menarik dari setiap orang yang kamu temui. Membuka diri dan berbincang dengan mereka akan makin menambah wawasan tentang kultur tempat yang sedang kamu kunjungi. Ternyata membuka diri dan mengenal orang baru justru akan makin membuatmu kaya.

9. Bahagia Dan Rasa “Terpenuhi” Justru Kerap Datang Dari Hal-Hal Sederhana

Tinggal di Korea dengan uang kurang dari 500.000 Won per-bulan (5 juta rupiah) pernah membuatmu jadi orang paling nelangsa di dunia. Bagaimana tidak, separuh dari uang tersebut harus kamu gunakan untuk membayar sewa kamar. Sisanya baru bisa digunakan untuk kebutuhan pribadi.

Traveling dan menjajal hidup di tanah lain tidak hanya membuatmu jadi orang yang lebih tangguh. Ia juga akan membuka persepsi lain soal kebahagiaan. Kamu akan tahu kalau bukan cuma uang dan kepemilikan materi yang bisa membuatmu bahagia.

Walau kamu harus makan tahu dan kimchi tiap hari, toh kamu tetap bahagia ketika melihat kelap-kelip lampu diatas jembatan penyeberangan. Langit yang biru dan terasa dekat sekali diatas kepala sudah bisa membuatmu tersenyum. Baru kali ini kamu nyaman hidup dengan pakaian seadanya dan tanpa polesan make-up tebal.
Perjalanan akan membuatmu bertanya: “Terlalu muluk-kah definisi bahagiaku selama ini?”

10. Selalu Ada Hal Yang Harus Dikorbankan Untuk Mencapai Sesuatu

Perjalananmu bisa tercapai karena kamu gigih menyimpan sepertiga gajimu selama 3 tahun. Kamu harus rela tidak makan diluar, hanya minum teh sementara teman-temanmu bisa memesan latte atau frapuccino di kafe langganan.

Tidak hanya berkorban dalam prosesnya. Di perjalanan pun kamu harus banyak membuat pilihan. Saat mendaki Gunung Lawu, misalnya. Kamu harus memilih akan lewat jalur yang landai, berpemandangan menarik tapi lebih panjang atau naik lewat jalur yang curam, pemandangannya tidak begitu cantik tapi menawarkan waktu tempuh lebih cepat?

Proses menuju dan selama perjalanan mengajarkanmu untuk terus membuat pihan. Kamu tidak akan bisa mendapatkan semua yang kamu mau disaat bersamaan. Hidup adalah proses panjang membuat serentetan pilihan yang tidak akan pernah berhenti.

11. Tidak Diperlukan Zona Waktu Yang Sama Dan Ikatan Darah Untuk Membuat Hubungan Bertahan

Lewat perjalanan kamu akan bertemu dengan banyak orang yang secara ajaib masih terus terhubung denganmu sampai hari ini. Bahkan terkadang kamu merasa lebih dekat dengan mereka dibanding dengan orang-orang di sekelilingmu. Walau tidak bertemu setiap hari dan tidak rutin saling bertukar kabar, kamu hanya tahu bahwa mereka ada.

Kamu akan memandang ikatan pertemanan dan keluarga dengan berbeda. Tidak hanya mereka yang tinggal di zona waktu yang sama saja yang bisa kamu ajak bersenang-senang dan berbagi cerita. Mereka yang tinggal di belahan bumi lain pun bisa membuatmu merasa terdampingi.
Pasangan gay yang dulu membuka pintu rumahnya untukmu itu kini sudah jadi keluargamu. Tanpa proses adopsi yang merepotkan, kamu sudah merasa punya 3 ayah di dunia. Perjalanan akan memberimu perspektif yang lebih luas soal hubungan.

Ternyata orang di seluruh dunia bisa terhubung dengan indah dan lekat. Selama mereka memang mau menjalin kedekatan.

12. Kamu Tidak Lebih Baik (Ataupun Lebih Buruk) Dari Orang Di Luar Sana

Terkadang sebagai orang Indonesia kamu sering merasa rendah diri jika berhadapan dengan bule. Mereka terlihat lebih berani mengungkapkan pendapat, lebih kritis dalam berpikir dan mengeluarkan argumen. Dampaknya kamu enggan membuka pintu interaksi dengan mereka dan terus merasa seperti remah-remah rempeyek.

Atau kasus lainnya. Sebagai orang Jawa kamu merasa lebih pintar dari orang-orang Papua. Setiap melihat mereka yang berkulit hitam dan keriting, kamu akan berpikir kalau mereka tidak secerdas kamu. Padahal kamu belum punya pengalaman berinteraksi langsung dengan mereka.
Tanpa pernah melakukan perjalanan dan melakukan interaksi intens dengan orang di luar zona nyamanmu, pemahamanmu tidak akan pernah berkembang. Kamu akan terus merasa superior dan atau inferior terhadap orang lain. Padahal sebenarnya kamu tidak harus merasa rendah diri atau pun tinggi hati. Toh manusia selalu punya kelemahan dan kelebihannya sendiri.

13. Orang Di Seluruh Dunia Ternyata Tidak Begitu Berbeda

Kamu merasa selama ini terkotak-kotakkan oleh ras, agama dan asal negara? Merasa orang diluar sana aneh dan tidak akan bisa menerima nilai-nilai yang kamu yakini selama ini? Hanya dengan melakukan perjalanan lah pemahaman ini bisa berubah. Dari menjejakkan kaki di tempat baru nan asing kamu akan sadar bahwa semua orang di seluruh dunia punya nilai universal.

Kalian akan tetap tertawa ketika saling mengungkapkan candaan lucu. Kawanmu dari Belgia ternyata juga bisa ikut sedih ketika kamu khawatir keluargamu terkena dampak letusan Gunung Merapi. Meskipun di negara asalnya tidak ada gunung berapi dan Eropa sudah punya sistem penanggulangan bencana yang handal.

Lewat perjalanan kamu akan sadar bahwa manusia di belahan dunia manapun ternyata tidak terlalu berbeda. Terlepas dari perbedaan bahasa ibu, kita tetap bicara dengan bahasa serupa dalam kasih, niat baik dan cinta. Bagi pejalan, dunia tidak lagi terasa asing dan menakutkan.

14. Identitasmu Ternyata Bisa Terus Berkembang

Lewat perjalanan kamu akan mengetahui bahwa konsep diri tidak akan pernah berhenti diciptakan. Dirimu yang sekarang bisa saja berubah dan berkembang. Barangkali kamu tidak suka kentang goreng sebelumnya, tapi di Belanda kamu justru jatuh cinta pada rasa kentang goreng yang gurih.

Kamu yang sebelum memulai perjalanan tidak suka kegiatan outdoor justru bisa jatuh cinta pada snorkeling setelah tinggal di Derawan selama 2 minggu. Kegemaran, preferensi dan nilai yang kamu anut ternyata tidak saklek. Selalu ada ruang untuk perubahan yang tersedia dalam dirimu.

15. Kamu Tidak Akan Lagi Bisa Mendefinisikan “Rumah” Hanya Di Satu Tempat

Selepas perjalanan yang mengubah banyak hal dalam hidup, konsepmu tentang “pulang” dan “rumah” juga akan ikut bergeser. Rumah bagimu bukan lagi hanya kota kelahiran atau tempat dimana orang tuamu tinggal. Ada tempat dan orang-orang lain di belahan dunia sana yang juga bisa membuatmu merasa kembali.

Inilah harga yang harus dibayar dari sebuah perjalanan yang memberikan banyak nilai ke hidupmu. Separuh hati dan kehidupanmu akan terus tertinggal di tempat yang kamu kunjungi. Ada suara dalam dirimu yang akan terus memanggil untuk kembali ke tempat-tempat itu.
Lalu, apakah kamu menyesal karena selepas perjalanan “pulang” dan “rumah” bertransformasi jadi lebih rumit?

Tentu tidak. Bagaimana kamu bisa menyesalkan sebuah perjalanan yang mengubahmu jadi pribadi yang lebih baik?

16. Perjalanan Memperlihatkan Bahwa Dunia Masih Sangat Luas Dan Kakimu Akan Selalu Gatal Untuk Pergi

Perjalanan membuka matamu tentang betapa luasnya dunia, betapa banyak tempat yang belum kamu jamah dengan kakimu, betapa rakusnya kamu untuk mendapatkan kesempatan menghirup udara yang berbeda. Kamu tidak akan pernah merasa cukup hanya dengan sebuah perjalanan. Kakimu akan selalu gatal untuk pergi.

Lewat proses mempersiapkan diri dan membawa kakimu menjelajahi tempat-tempat asing kamu akan belajar bahwa selalu ada hal yang layak diperjuangkan dalam hidup. Pekerjaanmu yang kadang membuatmu setengah gila tetap layak dilakoni, karena hanya dengan penghasilan itulah kamu bisa mengumpulkan uang untuk pergi ke Derawan.
Kesibukan dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam memang melelahkan, tapi kamu tetap punya pilihan untuk menyerah atau berjalan dan menghadiahi diri dengan perjalanan kelak. Dari perjalanan kamu akan tahu bahwa hidup tidak akan pernah berhenti di sisi bumi tempat kakimu berdiri.

17. Kamu Tidak Akan Jadi Orang yang Sama Selepas Pulang

Ada hal-hal yang tidak akan lagi sama selepas kamu kembali ke tempat asal. Kamu jadi lebih kritis memandang masyarakat dan interaksi di sekitarmu. Ide-idemu jadi lebih liar, keyakinan dan prinsip yang kamu anut pun makin kuat. Perjalanan ternyata mengubahmu dalam waktu singkat.
Banyak orang akan menganggapmu aneh dan nyinyir. Proses menyesuaikan diri kembali memang tidak pernah mudah. Tapi yakinlah, kini kamu sudah dalam proses untuk berkembang jadi pribadi yang lebih baik. Perjalanan bukan pecundang yang hanya mengambil waktu dan tabunganmu tanpa pernah mengajarkanmu sesuatu.

Bagaimana, apakah kamu para pejalan juga merasakan hal yang serupa? Apakah kamu yang belum banyak melangkahkan kaki melihat dunia jadi gatal ingin berjalan setelah membaca ini?

Dunia masih luas diluar sana, dan sayangnya kita hanya punya satu kali kesempatan hidup untuk menjelajahinya. Jadi, kenapa tidak mulai dari sekarang?

source; hipwee.com

12 Skill Bertahan Hidup Yang Harus Kamu Kuasai Untuk Selamat Di Alam Liar

Petualang dan penulis buku asal Amerika, Creek Stewart, terkenal dengan kalimatnya yang bilang bahwa bencana itu hanya masalah waktu. “Bukan apakah kita akan tertimpa bencana, tapi kapankah.” katanya dalam bukunya yang berjudul Build the Perfect Bug-Out Bag: Your 72-Hour Disaster Survival Kit.

Kamu nggak mungkin selamanya diam di rumah dan baru mau keluar kalau tempat yang kamu tuju ada di Foursquare. Sekali waktu pastilah kamu tergoda untuk bertualang ke pulau-pulau terpencil di seluruh penjuru Nusantara. Coba bayangkan segalanya tak berjalan sesuai rencana. Dirimu terdampar di pulau yang gak ada di peta. Dengan kondisi fisik dan peralatan yang terbatas, bisa gak kamu bertahan hidup? Gak usah muluk-muluk deh, bisa gak kamu melewatkan satu malam di alam liar?

Merasa tertantang? Baca dulu panduan bertahan hidup di bawah ini, yang udah Hipwee sarikan dari tulisan Creek Stewart:

++ Skill #1
Menemukan Lokasi Bermalam Yang Aman.

Kamu mesti menemukan tempat yang kering dan tidak terletak lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya. Hindari lembah dan area yang bisa dialiri air karena banjir bisa datang kapan saja. Pilih tempat yang jauh dari sarang serangga atau pohon-pohon lapuk. Kamu gak mau ditimpuk kayu saat tidur, ‘kan?

++ Skill #2
Mendirikan Shelter Darurat

Ingat ya, ini sekedar tempat berlindung. Jadi jangan harap kamu akan menemukan kenyamanan ala di tenda. Hipotermia adalah pembunuh utama jika kamu terdampar di daerah bercuaca dingin seperti gunung. Supaya selamat, kamu butuh tempat berlindung yang terisolasi agar suhu badanmu tetap hangat.

Temukan beberapa cabang pohon yang cukup kuat untuk disusun sebagai tempat berlindung. Gunakan pohon yang masih berdiri sebagai tumpuan. Lapisi shelter kamu dengan daun atau ranting. Jangan lupa, lapisi juga lantainya dengan daun yang lebih lebar. Itu untuk mencegah panas tubuhmu diserap oleh tanah.

++ Skill #3
Menyalakan Api.

Kamu dianjurkan menyalakan api menggunakan baterai. Baterai jenis apa aja bisa — kamu tinggal bikin arusnya jadi pendek. Hubungkan kutub (+) dan (-) dari baterai dengan kertas timah (dari bungkus rokok atau permen karet). Percikkan api yang akan tercipta ke bundelan yang terbuat dari benda kering dan lembut seperti akar, rumput, atau kain. Jaga apimu supaya tetap menyala. Siapkan kayu bakar.

Jika kamu gak punya baterai, kamu bisa menyalakan api dengan batu dan gesekan kayu.

++ Sklill #4
Membesarkan Api.

Setelah berhasil menyalakan api di bundelan, kamu butuh kayu dalam beberapa ukuran: sebesar tusuk gigi, cotton bud, dan pensil. Pertama-tama, siapkan balok kayu seukuran lenganmu sebagai alas bundelan. Kemudian, sandarkan kayu sebesar tusuk gigi dengan miring di atas bundelan tersebut — ini akan membentuk sudut yang bisa dilalui oksigen. Tambahkan kayu yang berukuran lebih besar satu per satu. Begitu seterusnya hingga api unggunmu siap.

++ Skill #5
Mencari Air Bersih.

Ada dua jenis air di alam liar: air yang bisa kamu minum dan air yang bisa membunuh kamu. Saat kamu ragu air itu bisa diminum atau nggak, pilihan terbaik kamu adalah memasaknya. Jika opsi memasak air gak ada di menu, kamu harus bergantung pada hujan dan embun karena air hujan dan embun gak perlu dimasak. Tampung air ketika hujan. Di pagi hari, usap embun di dedaunan dengan kain lap lalu peras kainnya di wadah penampung.

Akar-akar pohon dan beberapa jenis kaktus seperti sylibum (milk thistles) mengandung air di dalamnya. Kalau kamu sedang di luar negeri dan ada pohon mapel disekitarmu, sayat batangnya karena getah pohon mapel bisa jadi sirup berenergi buatmu.

++ Skill #6
Panen Air Dari Pohon.

Seperti manusia, tumbuhan itu juga ‘berkeringat’ sepanjang hari. Proses menguapkan air ini namanya transpirasi. Untuk bisa memanen air bersih dan bisa diminum ini, kamu tinggal membungkus ranting pohon yang berdaun dengan plastik, lalu ikat plastiknya rapat-rapat. Dalam waktu beberapa jam air udah terkumpul di dalam plastik dan siap diminum.

++ Skill #7
Mencari Tumbuhan Yang Bisa Dimakan.

Dalam situasi dimana tujuan utamamu adalah bertahan hidup, gak usah muluk-muluk berniat berburu hewan liar. Jangankan rusa, kelinci aja susah ditangkap. Gantungkan hidupmu pada hewan-hewan kecil kayak ikan, katak, atau kadal. Namun, pilihan paling aman adalah menyantap tumbuhan. Pisang dan nanas sangat mudah ditemukan di hutan Indonesia. Selain itu, kamu juga bisa mengonsumsi rotan, rebung, daun semanggi, dan paku-pakuan. Tambah wawasan kamu soal makanan di alam liar dari buku-buku panduan.

++ Skill #8
Berburu Dengan Tombak.

Ketika hasrat karnivoramu udah gak bisa dibendung lagi, buatlah tombak bermata empat yang akan jauh lebih efektif dalam menangkap ikan dan hewan buruan lain daripada tombak bermata tunggal. Caranya, tebas kayu pohon sehingga panjangnya sama dengan tombak pada umumnya dan diameternya kira-kira 2,5 sentimeter. Belah salah satu ujungnya jadi empat bagian, masing-masing sepanjang 25 cm. Sempalkan kayu atau batu kecil agar empat bagian tadi terpisah. Tajamkan ujung-ujungnya. Jadilah tombak bermata empat hasil kerja keras tanganmu.

++ Skill #9
Membaca Kompas Alam.

Jika GPS dan kompasmu rusak (atau lupa kamu bawa), dengan mudah kamu bisa menentukan arah timur dan barat dari posisi matahari terbit dan terbenam. Jika kamu menggunakan jam tangan analog, hadapkan jarum jam ke arah matahari. Tarik garis imajiner diantara jarum jam dan angka 12 — itu adalah garis yang menghubungkan utara dan selatan.

++ Skill #10
Membaca Rasi Bintang.

Cari paling mudah untuk menentukan arah mata angin setelah matahari terbenam ialah menemukan rasi bintang Beruang Besar. Rasi ini dikenal juga dengan nama Gayung Besar. Istimewanya, ketika rasi bintang lain berputar dan ‘berpindah’ sepanjang malam rasi bintang ini tetap berada di utara.

Ciri-ciri gugusan bintang ini adalah terdiri dari 7 bintang dan berbentuk gayung. Nah, di seberang Gayung Besar terdapat gugusan bintang Gayung Kecil, yang seperti namanya berukuran lebih kecil dan nggak sebenderang Gayung Besar. Di ujung ‘gagang’ Gayung Kecil terdapat Polaris a.k.a. North Star: arah utara yang paling hakiki. Di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, North Star bisa ditemui di dekat garis horizon.

++ Skill #11
Membuat Simpul Bowline

Beruntung jika kamu dulu rajin ikut kegiatan pramuka: anak-anak pramuka simpul ini sebagai simpul bendera. Bagi kamu yang belum tahu, simpul ini berguna banget untuk mengikat dan menahan beban. Semakin berat beban yang ditahannya, semakin kencang simpul itu mengikat

++ Skill #12
Mengirim Sinyal S.O.S.

Pada suatu waktu, mungkin karena kondisi fisik, satu-satunya harapanmu adalah menunggu pertolongan. Pastikan kamu berada di tempat terbuka seperti padang rumput atau puncak bukit agar kamu mudah dilihat dan dievakuasi. Pilihan pertama membuat sinyal ialah dengan kepulan asap dari api. Harap diingat: ini bukan soal api gede doang, tapi juga gimana caranya asap yang kamu hasilkan bisa mengepul tebal sehingga menarik perhatian pesawat atau kapal yang lewat. Jadi ketika api yang kamu buat udah membara, tumpukkan dedaunan dan rumput yang masih hijau dan lembab di atasnya. Asap akan mengepul tebal. Walaupun hanya bertahan 10-15 detik, itu akan cukup untuk menarik perhatian.

Pilihan kedua adalah menggunakan sinyal dari cermin. Bahkan refleksi dari cahaya bulan bisa dilihat dari jarak hampir 160 kilometer, lebih jauh jangkauannya daripada senter. Manfaatkan benda apapun yang bisa memantulkan cahaya seperti spion atau layar ponsel. Kuncinya ialah mengarahkan pantulan cahaya secara tepat, dan ini cukup mudah. Arahkan cermin yang kamu punya ke matahari atau bulan (tidak secara langsung, tapi dimiringkan sedikit) hingga kamu melihat pantulan cahaya di permukaan cermin tersebut. Ketika kamu melihat kapal atau pesawat lewat, bikin salam peace dengan salah satu tangan kamu, dan “letakkan” kapal atau pesawat nan jauh disana itu di antara dua jari damai tadi. Kemudian gerakin pemantul cahaya maju dan mundur dibelakang salam peace kamu.

Beberapa skill di atas membutuhkan latihan dan kekuatan memori otak. Gak ada salahnya kamu pelajari dulu di rumah, lalu ajak seorang teman untuk bertualang ke hutan atau gunung sekaligus kalian latihan. Praktekin semua skill yang kamu tahu. Jangan lupa kasih info ke mana kalian bertualang kepada keluarga, teman, dan petugas setempat, ya.

Source; hipwee.com