Senin, 12 Oktober 2015

PENGANUT SLOGAN MTMA ADA BAIKNYA BELAJAR DARI PEMUDA INI


Jangan di rumah saja, Indonesia itu indah men…

Di atas samudra awan puncak gunung Prau, My Trip My Adventure.

Ini petualanganku, mana petualanganmu, yeah, My Trip My Adventure…!!

Sering mendengar kalimat tersebut bersliweran di sosial media ya akhir akhir ini, atau jangan jangan di antara sahabat semua ada yang malah sering menulis kalimat semacam itu beserta memposting sebuah foto perjalanannya di dinding facebook, istagram, atau timelinenya…?

Kalau ada, ya nggak masalah, nothing wrong with that men…

Namun kali ini, saya ingin bercerita mengenai seorang anak muda yang mungkin saja dapat menjadi sebuah wawasan baru untuk sahabat semua yang sering melakukan sebuah perjalanan, dan mengklaim hal itu sebagai sebuah real adventure.

Membaca kisahnya, mungkin banyak yang akan mengatakan kalau anak muda ini bodoh, dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Namun, kali ini, kita akan mencoba melihat segala tindak tanduk pemuda ini dari kacamata dirinya sendiri, dan dari kacamata orang orang yang memuja sebuah pencarian diri dalam keluasan alam raya, dan keganasan alam liar yang membelai setiap manusia dengan cakar cakar besar yang siap merobek mental dan pendirian.

Christopher Johnson McCandless atau yang menyebutnya dirinya dengan sebutan Alexander Supertramp, adalah seorang pemuda jenius, memiliki nilai bagus dalam setiap mata pelajaran sekolahnya, lulus sebagai salah satu sarjana dari sebuah universitas terkemuka di Amerika dengan predikat cum laude, pandai bermain music dan piano, juga pandai dalam menulis prosa kata yang memiliki makna mendalam, dan ia juga piawai dalam menulis bait puisi dan kata kata mutiara.

Jadi secara akademis, pemuda ini tidak bisa dikatakan bodoh.

Why..?

Mengapa ia melakukan hal itu..?

Mengapa ia melepaskan semua kemewahan yang ia miliki, dan memilih hidup laksana gelandangan dalam panas dan hujan, dalam dingin dan terik..?

Prestasinya yang tinggi dalam dunia akademis akan sangat memudahkan ia memperoleh pekerjaan bergaji ribuan dollar yang mungkin didambakan banyak pemuda seumuran dirinya di luar sana, namun sekali lagi, mengapa McCandless malah memilih menjadi seorang petualang yang memburuh disebuah penggilingan gandum…?

Seseorang harus memiliki alasan yang kuat untuk bisa melakukan hal itu. Nekat dan iseng saja tidak cukup besar untuk membuat seorang pemuda jenius mau melakukan petualangan yang pada akhirnya, mengakhiri hidupnya sendiri.

Christopher Johnson McCandless lahir di kota El Segundo, wilayah California, pada 12 Februari 1968. Dan ia meninggal di dalam sebuah bus di Stampede Trail, Alaska, pada Agustus 1992, ketika ia berumur 24 tahun. Ia mati muda, dan menjadi salah satu topik dunia petualangan yang sangat ramai dibicarakan sejak John Krakauer mempublikasikan tulisannya tentang McCandless ini di Outside Magazine.


Ada juga sebuah ucapan pedas dari seorang ranger Alaska yang mengatakan kalau Alexander Supertramp atau Chris McCandless adalah tidak lebih lebih dari seorang pemuda tolol yang memang mencari mati ke Alaska. Pendapat ini diucapkan oleh ranger tersebut karena melihat kenekatan McCandless yang menyusuri Alaska seorang diri tanpa perbekalan yang memadai, bahkan dari banyak data disebutkan bahwa, McCandless tidak membawa selembar peta tentang Alaska pun dalam perbekalannya, buku buku yang ia bawa hanya buku filsafat, sastra, dan pemikiran pemikiran filsuf besar seperti Leo Tolstoy dan yang lainnya.

Satu satunya buku yang berkaitan dengan dunia yang ia masuki, hanya sebuah buku yang yang menerangkan beragam jenis tanaman local beracun yang berbahaya untuk dikonsumsi.

Tidak ada yang dapat menentukan secara pasti mengapa McCandless melakukan perjalanan yang begitu extreme, dan pada ujungnya malah merenggut kehidupannya sendiri.

Namun dari buku Into The Wild karya John Krakauer yang fenomenal itu, perjalanan McCandless membelah jalanan Fairbanks, Alaska, menjadi bagian dari kelompok Gipsy, bekerja di penggilingan gandum, berjalan jauh menyusuri jalan dengan ransel dan celana pendek, adalah wujud dari kekecewaannya terhadap lingkungan yang mejadi latar belakangnya.

Ayah dan Ibu Alex Supertramp adalah pasangan yang sukses, ayahnya bekerja dan menjabat posisi penting di kantor NASA, dan ibunya adalah seorang sekretaris dari sebuah prusahaan pesawat terbang. Namun seperti banyak istilah, uang mungkin bisa membuatmu senang, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Dan itu pulalah yang terjadi pada McCandless, ia merasa kehidupan yang ada disekelilingnya hanya sebuah ritme kosong yang berisi banyak kepura puraan.

Alex adalah seorang sarjana sejarah dan anthropology, jadi tentu pemahamannya tentang sosial, hubungan antar manusia, dan pengaruh lingkungan dalam tatanan masyarakat tidak dapat diragukan lagi. Namun yang juga perlu digaris bawahi, bahwa gelar sarjana yang diperoleh Alex adalah melalui materi dan teori dalam kuliah, adalah berdasarkan pemikiran, dan buah renungan dari para sosiolog yang ia baca dari banyak buku dan tulisan, dan bukan pengalamannya secara pribadi. Sedangkan kita tahu, guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman.

Trial and error, do and fail, try and try again, adalah sebuah rel kereta waktu yang mestinya menjadi banyak tolak ukur seseorang dalam menilai dan mengambil keputusan.

Tapi kita tahu, Alex masih muda, ia memang terdidik jenius, namun hanya ia belum cukup kenyang memakan asam garam kehidupan. Jadi ketika, keadaan yang ia temukan dalam lingkungannya tidak sejalan dengan falsafah hidupnya, Alex berontak, ia keluar dari zona itu, dan mencari kehidupan lain yang membuatnya lebih merasa sebagai seorang manusia bebas merdeka.

***
Masih ingat dengan tokoh Beck Weathers dalam film Everest yang lagi marak saat ini, masih ingat dengan apa yang ia katakan tentang alasannya mendaki gunung..?

“.. Dalam kehidupan, saya merasa ada awan gelap yang terus mengikuti kemana pun saya pergi, dan hanya di gunung saya menemukan obatnya…”.

Begitu pula dengan McCandless saya kira, saat kehidupannya seolah hanya sebuah manekin yang tak mempunyai jiwa, ia mencari obatnya.

Maka di sanalah ia menemukan terapinya, mendapatkan obatnya, dalam langkah kaki bersepatu boots menyusuri alam liar, dalam deburan ombak pantai dengan sebuah buku di senja kala, dalam kayuhan paddle kayaknya menyusuri sungai yang panjang, dalam nyanyian berisik orang orang yang Gipsy yang tak memiliki teritori, dalam gemuruh mesin gilingan gandum dan debu yang beterbangan, dan dalam dekapan hutan liar Alaska yang tak memiliki rasa kasihan.

Di sana, di sanalah McCandless menemukan ketenangan jiwanya.

Jadi terlalu kejam jika ada seseorang menilainya dengan sebutan “ seorang anak muda romantic yang mencari jati diri, berjalan ke Alaska hanya untuk bunuh diri..”.

McCandless bukan orang bodoh, jika ia tak faham ilmu survival di alam liar, bagaimana mungkin ia bisa bertahan di tengah belantara, hanya dengan 2 liter beras selama lebih dari tiga bulan.

Ya, Chris McCanldless adalah cerita yang menarik, alasannya bertualang adalah sebuah alasan yang patut mendapat rasa hormat, bukan hanya sebuah keinginan untuk melakukan selfie kemudian membagikannya di sosial media, untuk mendapatkan like dan memperoleh coment.

“.. wow indahnya, dimana tuh…?”

MTMA adalah sebuah slogan yang keren, slogan yang sekaligus menggerakkan banyak orang ke alam dan bertualang. Namun alangkah sayangnya jika sebuah perjalanan hanya sekedar ajang persaingan di media sosial untuk menunjukkan “..Hei, I was there, saya pernah di sana…”.

My Trip My Adventure adalah sebuah petualangan yang semestinya melibatkan banyak emosi, perasaan, pemahaman, pelajaran, dan juga perenungan. Melakukan sebuah journey untuk sebuah maksud dan tujuan yang berorientasi pada perkembangan pemikiran dan diri. Jika hanya untuk berselfie ria tanpa mengindahkan nilai nilai yang ada di dalamnya, maka mungkin kata adventure tidak dapat disematkan di sana.

Jadi itu mungkin bukan my trip my adventure, tapi lebih tepatnya, my trip my picnic, just only picnic.

Source; arcopodojournal.com/2015/09/para-penganut-slogan-my-trip-my.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar