Senin, 12 Oktober 2015

STOP MEREMEHKAN GUNUNG


Sejak booming-nya film yang mengangkat tentang kisah pendakian gunung Semeru, ditambah lagi dengan “racun” yang disebar lewat tulisan para travel blogger membuat kegiatan naik gunung kian menggeliat. Memang, gunung punya daya tarik istimewa yang bikin siapa saja kangen untuk mendakinya.

Tapi, gunung—dan alam pada umumnya, menyimpan bahaya bagi siapa saja yang lengah dan kurang persiapan, sekalipun tempat itu tampak mudah digapai. Memang ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang bisa tewas di gunung. Tapi, kalau ada yang bisa kita cegah, kenapa gak berusaha semaksimal mungkin untuk itu?

Blia sudah waktunya menjemput, maut memang tak dapat dicegah. Tapi, kematian para pendaki bisa menjadi pelajaran berharga buat kita yang hendak mengangkat keril dan pergi.

Long weekend May Day tanggal 1-3 Mei 2015 kemarin gak cuma bikin penampilan Goa Pindul jadi kayak es cendol, tapi juga menelan korban jiwa di beberapa objek wisata. Yanuru Aksanu Laila (23) tewas terjatuh dari tebing saat bermaksud untuk selfie di air terjun Coban Sewu, Lumajang, pada Jumat (1/5/2015) lalu. Menurut otoritas setempat, korban tewas karena terpeleset dari tebing yang sebenarnya sudah dipasang rambu dilarang untuk dilalui.

Lalu, kabar paling baru adalah Andri Cahya Nugraha (23), pendaki asal Cileungsi yang tewas karena terpeleset di Gunung Batu Jonggol yang terletak di Desa Sukaharja Kecamatan Sukamakmur. Meski tingginya cuma 875 mdpl, Gunung ini memiliki trek yang lumayan ekstrem.

Mundur lagi ke belakang, pertengahan April 2015 lalu seorang pendaki Gunung Sindoro, Ahmad Zaenuri, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, juga ditemukan tewas setelah dua pekan hilang di gunung karena terpisah dari rombongan saat turun gunung.

November 2014, Achmad Fauzy (30), mahasiswa S-2 Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tewas saat mendaki Gunung Semeru akibat tertimpa batu. Saat itu, korban bersama dua rekannya memaksa naik ke puncak, meski saat itu pendakian cuma diperbolehkan sampai ke Kalimati karena angin kencang dan cuaca yang tidak menentu.

Sementara, rekor terburuk terjadi pada Desember 2013 silam, di mana ada tiga pendaki yang tewas dalam waktu sepekan. Yang pertama adalah Shizuko Rizmadhani (16), siswi SMA Negeri 6 Bekasi yang meninggal Selasa (24/12/2013) malam di Kandang Batu (2.220 mdpl), atau pada pos pendakian ke puncak Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat. Gadis belia ini meninggal karena hipotermia.

Hanya sehari berselang, Endang Hidayat (53), warga Sepanjang Jaya Rawa Lumbu, Bekasi. juga meregang nyawa saat mendaki Gunung Semeru. Korban dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB di Pos Waturejeng (2.300 mdpl) karena serangan jantung. Padahal, Endang dikenal sebagai pendaki gunung berpengalaman. Empat hari setelahnya, Gatot Handoko (40) juga meninggal dunia saat mendaki Gunung Ijen akibat kelelahan.

Daftar pendaki yang tewas di gunung masih panjang. Jangan sampai kematian mereka sia-sia. Dari kematian mereka, ada pelajaran berharga yang tidak boleh kita abaikan. Kita gak boleh jatuh ke lubang yang sama.


Faktor alam memang tak sepenuhnya bisa dikontrol. Tapi tentu ada yang bisa kita antisipasi agar tak perlu mati konyol

"Valar morghulis—all men must die.” (Semua manusia pasti akan mati).

Penggemar serial Game of Thrones pasti paham kata-kata di atas; kematian bisa mengintai di setiap tikungan jalan.

Ya, inilah akan kita hadapi sekalinya kita melangkahkan kaki di jalur pendakian. Di hadapan belantara gunung, baik pendaki pemula maupun yang berpengalaman sama-sama menghadapi risiko kematian tanpa pandang bulu. Yang membedakan antara batas hidup dan mati ini tak cuma masalah peralatan dan logistik, tapi juga kesiapan fisik dan mental serta yang terpenting: kemampuan untuk menakar dirinya sendiri.

Kalau diperhatikan, ada dua faktor utama yang bisa menyebabkan kecelakaan atau kematian di gunung: faktor human error serta faktor alam.

Faktor alam ini adalah faktor yang gak bisa dikontrol oleh manusia, tapi masih mungkin untuk diprediksi atau dihindari. Contohnya, gempa besar yang menimpa Nepal beberapa waktu lalu tak cuma memporak-porandakan kota Kathmandu, tapi juga mendatangkan bencana besar pada pendaki yang lagi melakukan pendakian di Gunung Everest. Salju longsor menyebabkan puluhan pendaki tewas dan ratusan lainnya hilang. Bencana ini tentu tidak bisa dikontrol datangnya.

Meski kondisi alam di gunung sulit ditebak, tapi faktor alam yang membahayakan ini harusnya bisa diprediksi dan dihindari. Di pos pendakian, pendaki biasanya sudah diwanti-wanti oleh ranger agar mendaki sampai batas tertentu aja. Terkadang, jalur pendakian juga ditutup sama sekali, ‘kan? Selain untuk memulihkan ekosistem, juga untuk melindungi pendaki dari cuaca ekstrem yang membahayakan keselamatan pendaki.

Faktor kesalahan manusia mestinya lebih gampang diantisipasi. Sayangnya, justru ini yang paling mudah disepelekan pendaki.

Kini, gunung gak cuma eksklusif buat pecinta alam dan pendaki gunung yang “niat” aja. Tren wisata gunung juga telah menghasilkan wisatawan-wisatawan gunung yang mendaki demi gaya-gayaan tanpa persiapan yang memadai. Mendaki dianggap kayak wisata ke pantai: cuma membawa bawaan seadanya, tanpa tenda, pakaian ganti, bekal logistik, serta pengetahuan yang cukup. Bahkan, tak jarang pula mereka cuma pake sandal jepit!

Selain perlengkapan dan perbekalan, faktor kesiapan fisik dan mental pun patut diperhitungkan. Faktor yang ini gak cuma diabaikan pendaki pemula, kadang pendaki yang udah berpengalaman pun menyepelekannya. Padahal, inilah yang justru menentukan hidup matimu di gunung.

Fisik yang tidak siap, bisa bikin tubuh kamu kelelahan atau nge-drop, jatuh sakit, bahkan meninggal dunia. Kalau memang udah gak kuat, mendingan segera minta turun daripada kamu terlambat mendapatkan pertolongan.

Mental juga memainkan peranan yang gak kalah penting untuk keselamatanmu selama di gunung. Yang dimaksud mental di sini bukan cuma kemauan kuat untuk menaklukkan gunung, lho. Kesiapan mental meliputi kemampuan untuk menakar diri sendiri dan sekitar kita serta kemampuan untuk tetap tenang di saat krisis, misalnya saat tersesat, terpisah dari rombongan, atau ketika ada rekan yang keadaannya gawat dan butuh pertolongan.

Sebaik-baik pendakian adalah yang bisa mengantarkanmu selamat pulang. Bagaimana agar kejadian mati konyol ini tidak terulang?

Biar gak mati konyol di gunung, kewaspadaan adalah hal yang paling penting untuk menjaga dirimu. Stop mendaki cuma buat gagah-gagahan atau demi foto keren di media sosial—emangnya kamu udah siap mati cuma gara-gara alasan sepele itu? Kalau kamu memang pendaki pemula dan ingin mendaki dengan benar, perhatikan dulu saran-saran yang ditujukan bagi pendaki pemula ini. Kamu juga bisa latihan mendaki dengan menapaki gunung-gunung yang ramah terlebih dulu.

Yang kedua, pastikan kamu melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Gunung bukan tempat wisata yang bisa didatangi begitu aja. Siapkan peralatan dan ketahui bagaimana cara packing keril yang baik serta manajemen logistik. Berolahragalah sebelum mendaki. Dan yang terpenting, kamu harus siap mental untuk sampai ke puncak, tapi juga harus berani mundur bila pendakian tidak mungkin dilanjutkan.

Terakhir, pahami etika pendakian dan patuhi aturan. Etika, aturan dan rambu-rambu bukan cuma hiasan, tapi demi menjaga harmonisasi dengan alam maupun keselamatan para pendaki. Ketika ada larangan dari petugas, ya patuhi! Melanggar aturan di gunung sama aja dengan mempertaruhkan nyawamu di selembar benang tipis. Kalau kamu ogah menuruti etika dan aturan, sebaiknya urungkan saja niatmu mendaki!

Sehebat-hebatnya manusia, kita memiliki batasan. Dan kemampuan kita bukanlah apa-apa di hadapan gunung dan alam. Lagian, mati di gunung karena mengabaikan aturan dan menyepelekan medan gak akan membuat dirimu jadi legenda.

Ingat, keberhasilan sebuah pendakian bukanlah ditentukan dari seberapa cepat kamu sampai ke puncak, melainkan bilamana kamu kembali dengan selamat.

Source; hipwee.com/travel/stop-meremehkan-gunung-kamu-terlalu-berharga-untuk-mati-konyol-di-atasnya/edited

Tidak ada komentar:

Posting Komentar